Laman

Minggu, 21 Maret 2010

Strategi Belajar-Mengajar dengan Multiple intelligences (2)

Praktek Multiple di SMP/SMA YAPI (Pengantar-Implementasi di Sekolah)

Pada awalnya, banyak rekan guru yang pesimis kemungkinan kemampuan untuk melaksanakan Multiple intelligences (MI). Karena ada 8/9 atau 10 kecerdasan yang mesti diajarkan dikelas. Tetapi sebenarnya tidak mesti seperti itu untuk “optimalisasi dengan batasan” bahasa saya. Sebab kita tahu, realitasnya teori itu ideal, sementara sekolah, kelas, murid, guru punya banyak batasan. Misalnya yang klasik adalah alatnya kurang, waktu tidak ada, adanya ulangan-bersama, adanya UAN dll, serta yang terpenting gaji guru yang “pas-pas”an, dengan beban “selalu” ditambah. Tetapi kami yakin dan mengatakan, kita perlu berupaya untuk melakukan semaksimal yang kita mampu (optimalisasi dengan batasan). Uji coba yang kami upayakan yaitu;

Pada awal tahun, anak-anak dilakukan test multiple intelligences (MI), dengan cara survey (ditanya dengan soal-soal test, menggunakan kuesioner dari Terry Amstrong diperbaiki sendiri oleh team), lalu di-smoothkan (diperhalus) dengan pengamatan-pengamatan keseharian dilingkungannya (kelas, asrama, dst). Setelah mendapatkan hasil, maka hasil itu ditabulasi dan diberikan keseluruhan kepada dewan guru. Contoh Hasil tahulasi itu sebagai berikut;

Hasil Tabulasi Kecerdasan per-Anak

No

Nama

Tempt/Tgl/ lahir

Kelas

Kecerdasan

Lingitk

Mtmk

Musik

Visual

Kinestetik

Inte

personal

Intra

personal

Naturalis

1

Si-A

SMP VIIA

24

17

16

15

26

21

17

26

2

Si-B

SMP VIIA

22

18

20

19

18

30

3

29

3

Si-C

SMP VIIA

22

30

23

22

28

32

18

23

4

SI-D

SMP VIIA

13

19

26

18

30

27

8

18

dst

SI-F

SMP VIIA

20

31

34

25

30

27

18

22

Hasil Tabulasi Kecerdasan Dominannya Kelas

No

Nama

Tempat

/Tgl/

lahir

Kelas

Kecerdasan

Lingitk

MTMK

Musik

Visual

Kinestetik

Inte

personal

Intra

personal

Naturalis

1

Si-A

SMP VIIA

24(3)

17 (4)

16

15

26 (2)

21

17 (5)

26 (1)

2

Si-B

SMP VIIA

22 (3)

18

20 (4)

19

18

30

(1)

3

29 (2)

3

Si-C

SMP VIIA

22

30 (2)

23 (4)

22

28 (3)

32 (1)

18

23 (5)

4

SI-D

SMP VIIA

13

19 (4)

26 (3)

18

30 (1)

27 (2)

8

18

dst

SI-F

SMP VIIA

20

31 (2)

34 (1)

25

30 (3)

27 (4)

18

22

2

4

4

0

4

4

1

3

Kita tahu, Si A urutan kecerdasannya adalah; 26 (N), 26 (K), 24 (L), 21 (I), 17 (Ir), 17(M), 16 (M), 15 (V). maka kita bisa ambil 2,3 maksimal 4 kecerdasan tertingginya yaitu (N, K, L, I). itulah kecerdasan optimum secara “umum”, yang dimiliki oleh Si-A. Sehingga pendekatan pengajaran kepada Si-A mestinya menggunakan kecerdasan optimumnya yaitu (Naturalis, Kinestetik, Linguistik dan Interpersona), tanpa mengabaikan yang lain kemudiannya. Tetapi kita mesti ingat kita mengajar bukan pada satu anak, walaupun kita juga harus tahu bahwa pada dasarnya anak itu “unik”. Maka strateginya adalah strategi pengajaran umum dan khusus sekaligus. Artinya kita melihat kecerdasan umum dikelas, dan kecerdasan khusus per-anak. Bagaimana itu dilaksanakan?

Pertama; Kita mesti melihat tabulasi kecerdasan Dominan Kelas (contoh diatas murid 5 orang). Disini kita ambil (4 kecerdasan tertinggi, mengapa harus 4, tidak 2, 3 atau 5 dan 6? Ini hanya arbiter, untuk memudahkan pengajaran. Bila 4 dirasa sulit bisa 3). Hasil tabulasi itu adalah; Yang suka matematis (4 anak), Musik (4 anak), Kinestetik (4 anak), Interpersonal (4 anak), Naturalis (3 anak), Linguistik (2 anak), Interapersonal (1 anak), Visual (0 anak). Maka untuk strategi mengajar dengan “maksimalisasi dengan batasan” adalah; kita harus mengambil 3 atau 4 kecerdasan dominan kelas yaitu Matematis, Musik, Kinestetik dan Interpersonal. Kita mengajar dengan kecerdasan itu karena kecerdasan itu disukai oleh 4 anak dari 5 total jumlah murid kelas.

Persipan mengajar guru, disain, metode mengajarnya harus disesuaikan dengan pendekatan 4 kecerdasan itu, sehingga cara kita mengajar itu diminati oleh mayoritas anak-anak dikelas. Bila selanjutnya dalam proses pembelajaran ada anak-anak tertentu yang mengalami kesulitan untuk pembelajaran tertentu? Misalnya setelah remidi 2 kali, kok ternyata nilainya tidak beranjak baik? Maka kita lihat data yang kita miliki….misal yang jelek adalah anak dengan nama SI-C. Maka dari data yang kita miliki, kecerdasan tertinggi dia adalah interpersonal (maka untuk anak ini, kita dekati dengan pendekatan khusus Interpersonal untuk tugas-tugas tambahannya atau pengulangan materinya dst).

Intinya adalah kita mengajar dengan pendekatan dominan kelas, sehingga pendekatan kita itu adalah pendekatan rata-rata terbaik kelas yang kita ajarkan. Dengan pendekatan itu, mestinya (secara teori) akan mampu diserap oleh anak-anak kelas (karena itu kesukaan mereka). Bila ada 1, 2 dan 3 anak yang tidak mampu memahaminya, maka pendekatan khusus kecerdasan anak itu (unik per-anak) yang kita coba gunakan. Baik sebagai tambahan tugan, lest materi remidi atau pier-teaching atau lainnya.

Inilah yang menurut kami, upaya penerapan Pembelajaran Multiple-Intelligences dengan “Strategi Optimalisasi dengan Batasan”.


A. Hubungan Multiple Intelligences dengan Sekolah-Kurikulum-Pelajaran dan Program Ekstrakulikuler.

Kemamampuan Terkait dan Bidang Studi di Sekolah serta Arah-Bimbingan Karier (Pekerjaan) SD/SMP/SMA

Intele

gensi

Kemampuan menonjol

Terkait

Menonjol

pada fungsi

Contoh

Mata

Pelajaran

Program

Tambahan

Kegiatan Ekstra

kulikuler

Linquistik Verbal

Mengerti urutan dan arti kata-kata

Menjelaskan, mengajar, bercerita, berdebat

Humor

Mengingat dan menghafal

Analisis linguistic

Menulis dan berbicara

Main drama, berpuisi, berpidato

Mahir dalam perbendaharaan kata

Dramawan, editor, pengarang, jurnalis,

sastrawan, orator,

ahli sastra, novelis

W.S. Rendra,

Sukarno,

Martin Luther,

Zoetmoelder,

Motinggo Busye,

Pramudya,

Gunawan

Mohamad, John Paul II

Bahasa, IPS, sejarah, agama, budipekerti, pancasila

Keterampilan bicara, menulis, komu-nikasi, drama

Majalah dinding, majalah sekolah, kelompok bahasa, regu debat, kelompok drama, kelompok pidato

Matematis-logis

Logika

Reasoning, pola sebab-akibat

Klasifikasi dan kategorisasi

Abstraksi, simbolisasi

Pemikiran induktif dan deduktif

Menghitung dan bermain angka, Pemikiran ilmiah Problem solving, Silogisme

Logikus,

matematikus,

saintis, programer,

negosiator

Einstein,

Stephen Hawking,

John Dewey,

Russell,

Andi Hakim Nasution

Matematika, IPA, Ekonomi

Keterampilan berpikir, logika, komputer

Sains klub, lomba sains

Ruang-visual

Mengenal relasi benda-benda dalam

ruang dengan tepat

Punya persepsi yang tepat dari berbagai sudut

Representasi grafik

Manipulasi gambar, menggambar

Mudah menemukan jalan dalam ruang Imajinasinya aktif

Peka terhadap warna, garis, bentuk

Pemburu, arsitek,

dekorator,

navigator, ahli peta, pelukis, pemahat, penggambar, pemain catur

Pablo Picasso,

Affandi,

Sidharta, Gary Kasparov, Michaelangelo

Menggambar

Keterampilan melukis, menggambar, memahat, membaca peta

Klub melukis, klub bangunan, klub catur, klub pencari jejak

Kinestetik-badani

Mudah berekspresi dengan tubuh Mengkaitkan pikiran dan tubuh Kemampuan main mimik Main drama, main peran Aktif bergerak, olahraga, menah Koodinasi dan fleksibilitas tubuh tinggi

Aktor, atletik, penari, pemahat, ahli bedah, olahragawan,

Mohamad Ali, Sidharta,

Rudi Hartono, Agassi, Charlie Chaplin, Kristi Yamaguchi, Dustin Hoffman

Olahraga

Latihan tari, latihan macam-macam olahraga

Tim olahraga, grup drama, grup tari

Musikal

Kepekaan terhadap suara dan musik,

Tahu struktur musik dengan baik,

Mudah menangkap musik

Mencipta melodi , Peka dengan intonasi, ritmik

Menyanyi, pentas music, Mencipta musik

Pemain alat music

Musikus, penyanyi, pemain opera, komponis, dirigen, pemain musik

Mozart, Bach, Beethoven

Musik

Latihan alat musik, sejarah musik

Grup band, musik, koor, karawitan, kolintang

Inter

personal

Mudah kerja sama dengan teman

Mudah mengenal dan membedakan perasaan dan pribadi teman, Komunikasi verbal dan nonverbal,

Peka terhadap teman, empati,

Suka memberikan feedback

Komunikator, fasilitator, penggerak massa,

pemersatu

Ibu Theresa, Mahatma Gadhi, Reagan

Wiraswasta, berdagang

Program kepekaan masyarakat, studi grup, proyek bersama, mema-hami orang lain

Dewan siswa, kegiatan siswa bersama, klub rumah sakit

Intra

personal

Dapat berkonsentrasi dengan baik Kesadaran dan ekspresi perasaan-perasaan yang berbeda Pengenalan diri yang dalam Keseimbangan diri Kesadaran akan realitas spiritual Reflektif, suka kerja sendiri

Pendoa batin, spiritual yang mendalam, pendamai

Freud, Thomas Merton, Harry Truman

Psikolog

Refleksi, retret, kesadaran diri

Tugas renungan di rumah

Lingkungan/Naturalis

Mengenal flora dan fauna, Mengklasifikasi dan identifikasi tumbuh-tumbuhan dan binatang, suka pada alam, hidup di luar rumah

Botanis, anatomis

Darwin,

Biologi

Zoolog, Peneliti Biologi, flara-fauna

Kamping, Pecinta Alam, Cinta Lingkungan, Gerakan Penghijauan, Pencegahan Global warming dll

Eksis

tensial

Kepekaan dan kemampuan untuk men-jawab persoalan eksistensi manusia; apa makna hidup ini; mengapa kita lahir dan mati

Filsuf, berefleksi tentang keberadaan

Plato, Socrates, Ibn Sina, al-Kindi, Kant, Nietzche

Filosof, Ulama/Pastur

Dibiasakan bertanya apa tujuan hidupku, latihan kritis

Penelitian : Tujuan Hidup Orang


B. Dampak Kecerdasan Ganda terhadap Guru dan Strategi mengajar di kelas:

1. Guru perlu mengerti intelligentsia siswa-siswanya (makanya guru perlu mampu melakukan MIS, Multiple Intelligences Survei).

2. Guru perlu mengembangkan model mengajar dengan berbagai kecerdasan, bukan hanya kecerdasan yang menonjol pada dirinya. à ini yang agak bermasalah, sebab perlu sedikit usaha guru untuk mampu belajar dengan keluar dari gaya belajarnya. Keuntungannya apabila guru mau melakukan itu adalah dua sisi, sisi pertama jelas pada para siswa, sisi kedua, guru itu sendiri mampu memantik kecerdasan dia lainnya, dan ini akan jadi pengalaman yang sangat menarik dan mengasyikan.

3. Guru perlu mengajar dengan intelegensi siswa, bukan dengan intelegensinya yang berbeda dengan intelligensi siswa.

4. Dalam mengevaluasi kemajuan siswa, guru perlu menggunakan berbagai model yang cocok dengan intelegensi ganda, bukan hanya dengan paper and test.

Strategi Mengajar di kelas dengan Multiple Intelligences

Armstrong memberikan beberapa strategi yang perlu diperhatikan dalam pengajaran dengan menggunakan teori intelligensi ganda. Secara umum strategi itu adalah sebagai berikut;

Intelligensi linguistik dapat dilakukan dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk bercerita, menuliskan kembali yang dipelajari, dengan brainstorming, membuat jurnal tentang materi yang dipelajari, atau menerbitkan majalah dinding. Dengan kata lain, setelah mempelajari topik tertentu siswa perlu diberi kesempatan untuk mengungkapkan pemikirannya dengan menuliskan kembali lewat kata-kata mereka sendiri. Misalnya, bila topiknya gaya sentrifugal (Fisika). Setelah mempelajari gaya tersebut, siswa diberi kesempatan untuk menuliskan pengertian mereka tentang gaya tersebut secara bebas atau mengungkapkan gagasannya secara lisan di depan kelas. Bila topiknya masalah keadilan, siswa dapat diminta untuk menulis ketidakadilan yang mereka alami dalam masyarakat.

Inteligensi matematis-logis dapat diwujudkan dalam bentuk menghitung, membuat kategorisasi atau penggolongan, membuat pemikiran ilmiah dengan proses ilmiah, membuat analogi dan sebagainya. Misalnya, dalam mempelajari berbagai zat, siswa dapat diminta untuk mengelompokkan macam-macamI benda ke dalam suatu klasifikasi yang bagi mereka lebih mudah dimengerti. Setelah mempelajari penurunan rumus secara matematis, siswa diminta untuk mengaplikasikan rumus itu ke dalam pemecahan persoalan yang baru. Di sini perlu diperhatikan jalan pikiran dan logika siswa dalam memecahkan persoalan. Dalam topik keadilan, misalnya, siswa diajak untuk menghitung berapa persen penduduk Indonesia yang miskin, yang diperlakukan tidak adil, dan diminta membuat tabel tentang data tersebut.

Inteligensi ruang-visual dapat diungkapkan dengan visualisasi materi, dengan membuat sketsa, gambar, simbol grafik, mengadakan tour keluar kelas, mengadakan eksperimen di laboratorium, dan sebagainya. Misalnya, bila topiknya keadilan, kepada siswa dapat ditunjukkan film tentang penderitaan masyarakat miskin yang mengalami ketidakadilan, atau diberi tugas untuk melihat orang-orang miskin akibat ketidakadilan.

Inteligensi kinestetik-badani dapat diungkapkan dengan bentuk ekspresi gerak dan badan. Bentuk-bentuk seperti mendramatisir, membuat teater, membuat hands-on activities tentang materi yang dipelajari sangat membantu dalam mengungkap­kan inteligensi kinestetik-badani. Misalnya, dalam mempelajari tumbukan, siswa dapat di dalam atau di luar kelas mempraktek-kan hukum kekekalan tumbukan dengan posisi tubuh mereka pada waktu bertabrakan dengan teman lain. Dalam topik ke­adilan, siswa dapat mementaskan role play tentang ketidakadilan penguasa terhadap rakyat, atau membuat tarian yang menggambarkan penderitaan manusia karena ketidakadilan.

Inteligensi musikal dapat diungkapkan dengan memberikan kesempatan dan tugas kepada siswa untuk menyanyi, membuat lagu, atau mengungkapkan materi dalam bentuk suara. Guru sendiri dalam menyiapkan materi fisika, dengan topik hukum

Newton II, dapat merencanakan penjelasan rumus tersebut dengan suatu lagu yang akan membuat siswa mudah mema-hami dan lebih relaks. Bila topiknya keadilan, siswa diminta untuk menuliskan lagu yang mengungkapkan suasana ke­tidakadilan atau keadilan.

Inteligensi interpersonal dapat diekspresikan dalam bentuk kegiatan sharing, diskusi kelompok, ker ja sama membuat proyek atau praktikum bersama, permainan bersama maupun mem­buat simulasi bersama. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa setiap siswa dalam kelompok sungguh aktif bekerja sama, sehingga kerja sama tidak dikuasai oleh satu siswa dan yang lainnya pasif. Siswa yang tidak begitu lancar bekerja sama perlu dibantu untuk lebih berani.

Inteligensi intrapersonal dapat dikembangkan dengan mem­berikan waktu sendiri kepada siswa untuk refleksi dan berpikir sejenak. Beberapa soal yang diberikan perlu persoalan terbuka di mana siswa secara mandiri dapat mengungkapkan gagasannya. Guru sendiri perlu belajar untuk menyajikan materi de­ngan memasukkan perasaan, humor, dan juga keseriusannya. Dengan kata lain, sikap pribadi guru perlu juga ditunjukkan untuk membantu siswa yang intrapersonal. Pada akhir pelajar­an, baik bila siswa diminta untuk merefleksikan kegunaan pelajaran ini bagi hidup mereka.

Inteligensi lingkungan (Naturalis = Kecerdasan ke 8) dapat diungkapkan dengan mengajak siswa untuk melihat apakah topik yang dipelajari ada kaitannya dengan lingkungan hidup mereka, dengan alam tempat mereka hidup. Misalnya, dalam topik ketidakadilan, siswa dapat diajak dan melihat berbagai tanaman di hutan yang ditebang tanpa tanggung jawab sehingga mengakibatkan banjir, kekeringan, dan penderitaan orang banyak.

Inteligensi eksistensial (= kecerdasan ke 9) dapat diwujudkan dengan mengajak siswa mempertanyakan soal keberadaannya. Msalnya, dalam topik evolusi, mengajak siswa untuk mempersoalkan apakah kejadian manusia dan kita ini juga melalui evolusi tersebut? Dalam topik keadilan, siswa diajak untuk mempertanyakan apakah situasi ketidakadilan itu sesuai dengan hidup manusia dan membantu manusia sampai ke tujuannya.

Menentukan Evaluasi

Salah satu unsur yang sangat penting dalam proses pembelajar-an adalah evaluasi. Jelas evaluasi perlu disesuaikan dengan tujuan dan juga cara mengajar seorang guru. Bila dalam pembelajaran guru menggunakan inteligensi ganda, maka evaluasinya pun perlu disesuaikan dengan kemampuan inteligensi ganda. Evaluasi yang hanya mementingkan salah satu inteligensi, misalnya matematis-logis, kurang dapat mengukur seluruh kemampuan siswa.

Beberapa bentuk evaluasi berikut, yang ditekankan oleh Armstrong (1994), sangat sesuai untuk mengevaluasi siswa, senada dengan pendekatan inteligensi ganda, yaitu;

1. Portofolio, yaitu laporan tugas-tugas siswa selama selur proses pembelajaran. Termasuk di dalamnya adalah lapo tertulis, hasil diskusi kelompok, hasil refleksi pribadi, tugas, gambar, laporan komputer, slide, atau video, bila pernah dibuat. Tugas-tugas informal yang pernah dikerjakan siswa, seperti catatan atau draf lagu, permainan, kerja kelompok kecil, perlu dikumpulkan pula.

2. Penilaian selama proses belajar perlu dikumpulkan. Guru perlu selalu memantau dan memberikan penilaian singkat kepada setiap siswa selama proses belajar: selama diskusi, selama mereka bermain bersama sesuai materi, dan selama mereka aktif partisipasi dalam pembelajaran.

3. Soal tertulis yang diberikan kepada siswa perlu juga dirumuskan sesuai dengan kesembilan inteligensi ganda tersebut. Maka, perlu ada persoalan logika, musikal, ruang, gerak, refleksi pribadi, dan juga bahasa tertulis. Misalnya tes tentang hukum Newton II dapat berbentuk seperti berikut ini.

1) Bagaimana rumusan hukum Newton II?

2) Tuliskanlah dengan kata-katamu sendiri hukum Newton II dan jelaskan dengan suatu contoh!

3) Bila ada sebuah kereta yang tadinya bergerak deng kecepatan 100 km/jam, lalu tiba-tiba diberi tambah gaya yang jauh lebih besar, yaitu dengan meningka' kan daya mesinnya, apa yang akan terjadi deng kecepatannya? Jelaskan!

4) Buadah rangkaian suatu percobaan hukum Newto II dan amatilah bagaimana jalannya percobaan i Cobalah itu dengan teman-temanmu!

5) Buadah suatu lagu yang menggambarkan berlakun" hukum Newton II dalam kehidupan sehari-hari!

6) Carilah contoh kejadian sehari-hari yang mengguna kan prinsip hukum Newton II. Presentasikan conto' tersebut di depan kelas. (Suparno: 2004: 62)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar