Laman

Minggu, 21 Maret 2010

(4) Filsafat Psikologi ( Terapi Psikologi-Eksistensial)

PSIKOLOGI & TERAPI ‘EKSISTENSIAL’

Eksistensial adalah suatu aliran filsafat yang kebanyakan tokohnya enggan untuk menggunakan nama itu. para toko Eksistensialisme lebih senang menyebut nama-nama lain, dan Eksistensialisme hanya sebagai suatu pendekatan filosofis terhadap realitas, khususnya realitas manusia.

Sikap mereka anti system. Kata Kierkegaard; untuk memahami manusia, kita harus mengamatinya dalam kenyataan sehari-hari, mengamati manusia sebagaimana dia tampak dan menampakkan diri sebagai fenomena, dan bukan dengan mereduksinya kedalam abstraksi-abstraksi. Pandangan ini menjadi pandangan para Eksistensialis dan mendapatkan nama serta pendasaran filosofi pendekatan tersebut sebagai “fenomenologi” oleh Edmund Husserl.

Ciri lain dari Eksistensialisme adalah; para Eksistensial memandang subjek dan objek atau manusia dan dunia sebagai suatu kesatuan yang menjalin relasi dialekstik, suatu pandangan yang jelas bertentangan dengan dualisme Descartes yang memisahkan dan mempertentangkan subjek dan objek, jiwa dan badan, atau manusia dan dunia.

Sekalipun para Eksistensial itu banyak dan beraneka dalam pandangannya, tetapi secara umum mereka memiliki focus pandangan yang dikatakan sebagai pandangan Eksistensialisme yaitu sama-sama memusatkan perhatian pada kondisi-kondisi dasar manusia dan memandang manusia sebagai pribadi (person).

Seperti dikatakan diatas cara pandang mereka terhadap alam dan manusia menggunakan pendekatan Fenomenologi. Lalu apa fenomenologi itu? fenomenologi bukan suatu system atau aliran filsafat, juga bukan suatu disiplin ilmu. M.A.W. Brouwer menyebutkan bahwa; jika melihat karya-karya Husserl, bisa diperoleh gambaran bahwa fenomenologi itu suatu pendekatan atau cara melihat sesuatu.[1]Marleau-Ponty menjelaskan fenomenologi sebagai filsafat yang berusaha mengembalikan essensi kedalam eksistensi, suatu filsafat yang tidak mengharapkan akan samapai kepada pemahaman manusia kecuali dengan bertitik tolak dari faktisitas[2] manusia. Ponty juga menyebut fenomenologi sebagai metode pemahaman manusia dengan cara mendeskripsikan pengalaman-pengalaman manusia sebagaimana adanya. Sedangkan Hall dan Lindzey (1970) mengatakan fenomenologi sebagai metode pendiskripsian data dari pengalaman ssegera (immediate experience), suatu metode yang ditujukan untuk ‘memahami’ ketimbang ‘menerangkan’ fenomena.

Seperti kata Misiak dan Sexton, setipa Eksistensialis adalah fenomenolog, yakni menganalisa situasi keberadaan manusia melalui pengamatan langsung atas pengalaman manusia. Tetapi tidak semua fenomenolog analah Eksistensialis.[3]

Tokoh-tokohnya adalah; Ludwig Binswager (1881-1966) dan Medard Boss (1903), keduanya adalah pengikut Heiddegger. juga Viktor Frankl (dengan nama Logoterapi). Sebagian kritikus mendefinisikan “psikologi Eksistensial” sebagai ilmu empiris tentang keberadaan manusia yang menggunakan metode analis fenomenologis.

Beberapa kritik yang dilontarkan, karena prinsip yang dianut ‘psokologi Eksistensial’ khususnya oleh kaum Behaviorisme (Watson dan Skinner) yaitu;[4]

Pertama, psikologi eksistensial sama sekali menolak hukum sebab-akibat yang berasal dan ilmu alam yang digunakan oleh beberapa pendekatan psikologi. Menurut para tokoh psikologi eksistensial, hukum sebab-akibat itu tidak cocok untuk digunakan dalam psikologi, sebab manusia bukan benda atau objek yang pasif, melainkan subjek yang dinamis. Oleh karena itu, menurut mereka, yang cocok untuk digunakan di dalam psikologi adalah konsep motivasi, suatu konsep mengenai sumber dan proses kemunculan tingkah laku yang dimengerti dalam kaitan sebab-akibat, tetapi melihat partisipasi aktif manusia sebagai penyebab kemunculan tingkah laku itu. Perbedaan antara hukum sebab-akibat dengan konsep motivasi itu bisa diterangkan melalui contoh jendela yang terbuka oleh embusan angin dan jendela yang terbuka oleh manusia. Baik angin maupun manusia sama-sama menimbulkan akibat terhadap jendela, yakni jendela itu menjadi terbuka. Sebabnya adalah, baik angin maupun manusia sama memiliki daya dorong. Bagaimanapun, berbeda dengan angin, manusia membuka jendela tidak semata-mata karena memiliki daya dorong, tetapi juga karena memiliki tujuan tertentu yang hendak dicapainya, umpamanya untuk memperoleh angin segar atau untuk menerangi ruangan. Dan dalam tindakannya mendorong jendela itu, manusia disertai proses-proses kognitifnya yang memungkinkan dia bisa menentukan di mana tangan harus diletakkan dan berapa besar tenaga harus dikeluarkan. Prinsip yang petama ini berkaitan dengan prinsip yang kedua.

Kedua, psikologi eksistensial berprinsip bahwa pengalaman atau tingkah laku manusia adalah hasil dari manusia itu sendiri sebagai suatu totatitas yang berkehendak, bukan semata-mata sebagai hasil dari stimulus internal (naluri-naluri atau dorongan-dorongan) dan atau stimulus eksternal (lingkungan). Menurut para ahli psikologi eksistensial, usaha memahami manusia dengan mengandaikan adanya kekuatan-kekuatan deterministik dan memandang kekuatan-kekuatan deterministik itu sebagai penyebab kemunculan tingkah laku adalah memutarbalikkan dan memecah belah keberadaan manusia serta mengingkari otonomi dan kebebasan manusia. Pendek kata, uraian mengenai tingkah laku dan keberadaan manusia dengan menggunakan istilah-istilah naluri, dorongan, energi psikis, maupun energi fisik tidak berlaku dalam psikologi eksistensial. Sebaliknya, dengan menggunakan konsep-konsep dasar eksistensialisme dan metode fenomenologi, para ahli psikologi eksistensial mempelajari manusia melalui pengamatan langsung atas pengalaman atau tingkah laku manusia sebagaimana pengalaman atau tingkah laku itu muncul dalam kesegeraannya atau tampil sebagai fenomena, dan melukiskanya setepat mungkin. Dan deskripsi atau pelukisan fenomenologis bukanah penguraian sebab-akibat. (Van Kaam. 1966)

Ketiga, psikologi eksistensial mencurigai teori, sebab teori —banyak di antaranya — terlalu mempersoalkan hal-hal yang tak bisa diamati dan menganggap hal-hal tersebut sebagai penyebab kemunculan hal-hal yang bisa diamati. Yang dimaksud dengan hal-hal yang tak bisa diamati itu adalah struktur-struktur hipotetis yang dianggap ada pada manusia seperti ego, drive, dan semacamnya, sedangkan yang dimaksud dengan hal-hal yang bisa diamati adalah fenomena, dalam hal ini fenomena tingkah laku. Menurut para ahli psikologi eksistensial, fenomena itu bukan muka atau kutipan dari sesuatu yang lainnya, melainkan sesuatu yang hadir dalam kesegeraannya (tanpa diantarai). Para ahli psikologi eksistensial menekankan bahwa dalam mempelajani tingkah laku manusia, kita harus bebas dari praduga-praduga ilmiah yang biasa ditimbulkan oleh teori-teori, dan harus mengamati apa yang bisa diamati (fenomena tingkah laku), serta menjabarkan atau melukiskan fenomena yang diselidiki dalam penampilannya yang utuh dan dalam susunannya yang asli (Binswanger, 1963). Pada saat yang sama, para ahli psikologi eksistensial menentang pendekatan psikologi yang mengabaikan pengalaman-pengalaman-dalam (inner experiences) manusia dan yang melulu mempersoalkan tingkah laku yang nampak (overt behavior). Dalam pandangan psikologi eksistensial, pengalaman-pengalaman-dalam (ketakutan, kecemasan, pengharapan, rasa bersalah) itu sama vitalnya dengan tingkah laku-tingkah laku yang nampak.

Akhirnya, psikologi eksistensial menentang dengan gigih pendekatan psikologi yang memandang manusia seperti memandang batu atau pohon, dan yang memperlakukan manusia sebagai objek yang bisa dimanipulasi seperti memperlakukan hewan-hewan percobaan di dalam laboratonium.

Menurut psikologi Eksistensial, pandangan dan perlakuan semacam itu tidak hanya merusak keutuhan manusia yang menghambat para ahli psikologi untuk memahami manusia secara penuh di dalam keberadaannya. tetapi juga mengakibatkan dehumanisasi manusia. Psikologi eksistensial masuk ke dalam arena kritik-kritik sosial dengan melancarkan serangan terhadap pengasingan dan fragmentasi manusia oleh teknologi, birokrasi, dan mekanisasi. Menurut para ahli psikologi eksistensial, apabila manusia dipandang sebagai suatu yang bisa diatur, dikendalikan, dibentuk dan dieksploitasi, maka manusia akan terhambat dalam mencapai kehidupan yang sungguh-sungguh dan manusiawi.

Konsep dasar dan tema Psikologi Eksistensial

1. Ada dan nonada

Ada ialah ukuran bagi keberadaan manusia, suatu dimensi yang mengacu kepada kesubjekan (subjectness) manusia. Dengan meng-ada, manusia hadir dan menampakkan diri, mengalami dirinya sebagai subjek yang sadar, aktif dan berproses. Sedangkan nonada adalah ukuran bagi ketiadaan manusia, suatu dimensi yang mengacu kepada keobjekan (objectness) dari manusia. Dalam nonada, manusia melakukan negasi atas keberadaannya, dan mengalami dirinya sebagai objek[5]. (Sartre, 1976)

Ernest Keen (1970) menegaskan bahwa, bagaimanapun, ada dan nonada adalah dua dimensi yang saling bergantung dalam memberi nuansa yang tegas pada keberadaan manusia, ibarat gambar dengan latar belakangnya yang membentuk sebuah lukisan. Sebuah lukisan menjadi jelas dan memiliki nuansa karena gambar (figure) yang terdapat di dalamnya ditopang oleh latar belakang (ground). Demikian pula dengan keberadaan manusia. Keberadaan manusia memiliki nuansa yang tegas karena pada dirinya terangkum ada dan nonada sekaligus. Artinya, manusia mengalami rasa ada (sense of being) atau menghayati keberadaan karena ia merangkum ada dan nonada.

2. Ada-dalam-dunla

Konsep ada-dalam-dunia (bahasa lnggris: being-in-the-world, bahasa Jerman: in-der- Welt -sein, bahasa Prancis: l,etre-dans-lemonde) diperkenalkan oleh Martin Heidegger artinya manusia hidup atau mengungkapkan keberadaannya dengan meng-ada di dalam dunia. Istilah ada-dalam yang digunakan oleh Heidegger memiliki arti yang dinamis, yakni mengacu kepada hadirnya subjek yang selalu berproses. Demikian pula, dunia yang dikemukakan oleh Heidegger itu harus dimengerti sebagai hal yang dinamis, yakni suatu dunia yang terbuka tempat keseluruhan keberadaan manusia terdapat, bisa hadir dan menampakkan diri, dan bukan dunia yang tertutup atau semata-mata suatu dunia fisis-geografis yang terbatas dan membatasi manusia. Heidegger sendiri menekankan bahwa ada-dalam-dunia adalah Seinkonnen, yang berarti manusia mampu berada. Jadi, ada-dalam-dunia itu tidak menunjuk kepada fakta beradanya manusia di dalam dunia seperti beras ada di dalam karung atau baju ada di dalam lemari, melainkan menunjuk kepada realitas dasar bahwa manusia hidup atau mengungkapkan keberadaannya di dalam dunia sambil merancang, mengolah, atau membangun dunianya itu. Patut dicatat pula bahwa manusia dan dunia, sebagaimana telah disinggung di muka, adalah suatu totalitas yang menjalin relasi dialektis (penggunaan tanda hubung dalam istilah ada-dalam-dunia itu pun sudah mengisyaratkan pandangan total dan dialektis dari Heidegger mengenai manusia-dunia). Totalitas dan dialektika manusia-dunia itu mengandung implikasi bahwa keberadaan dan perkembangan manusia tidak terlepas dari keberadaan dan perkembangan dunia.

Dalam kenyataannya, manusia akan berkembang jika dia mengembangkan (membangun) dunianya. Medard Boss, salah seorang pelopor penerapan ontologi Heidegger dalam praktek psikoterapi, menyuarakan kembali pandangan total dan dialektis manusia-dunia dari Heidegger itu melalui pernyataannya,... manusia tidak meng-ada terpisah dari dunia, dan dunia tidak meng-ada terpisah dari manusia. Jika.yang satu (manusia) berkembang, maka yang lain pun (dunia) aka berkermbang (Boss 1963)

3. RelasI Aku-Kamu

Martin Buber (1970) mengembangkan konsep relasi Aku-Kamu (the I-Thou relationship) untuk menggambarkan relasi antar pribadi yang sungguh-sungguh atau sejati, yang kontras dengan satu bentuk relasi yang disebut I-it relationship. Di dalam relasi Aku-Kamu, individu sadar dan menghargai partner relasinya sebagai subjek seperti dirinya, subjek dengan dunianya sendiri, subjek yang selalu berproses, dan subjek yang memiliki perasaan, pikiran, dan keinginannya sendiri. Sikap individu semacam ini memungkinkan individu tersebut memiliki kesediaan untuk memberikan empati kepada partner relasinya, yang pada gilirannya menjadikan individu sanggup mencoba membayangkan apa dan bagaimana dunia yang nampak dan perspektif subjektif partner relasinya itu. .

Berbeda dengan relasi Aku-kamu, dalam relasi yang disebut I-it relationship individu melihat partner relasinya bukan sebagai subjek, melainkan sebagai objek[6]; suatu objek yang bisa diabaikan maupun digunakan untuk kepentingan pribadi si individu. Jadi, dalam relasi semacam ini tidak terdapat kesediaan untuk memberikan empati kepada partner relasi dan, karenanya, tidak ada kesanggupan pada individu untuk memahami dunia partner relasinya. Jika I-it relationship ini diberlakukan dalam psikoterapi, maka berarti terapis memperlakukan pasien sebagai objek penerima treatment dan sebagai objek yang perbaikan atau kesembuhannya merupakan fungsi dan keefektifan terapis dengan treatment yang diberikannya itu. Relasi terapeutik yang demikian ditentang oleh para terapis eksistensial. (May, 1969)

4. Intensionalitas

Intensionalitas adalah konsep eksistensialisme yang mirip dengan prinsip determinisme psikis dari psikoanalisis, yang mengemukakan bahwa kejadian-kejadian mental tidak muncul secara kebetulan. Dalam arah yang sam tetapi dengan penekanan yang berbeda, konsep intensionatitas yang diambil para eksistensialis dari Brentano dan Hussert mengemukakan bahwa kesadaran manusia selatu memiliki maksud atau terarah kepada sesuatu. Rollo May (1969), dengan konsep intensionatitas, menegaskan bahwa kesadaran ditentukan oleh fakta bahwa kesadaran itu selalu mengarah kepada sesuatu, khususnya objek. Jadi, konsep intensionalitas ini merupakan konsep yang penting yang menjembatani jurang antara subjek dan objek yang ditimbulkan oteh dualisme Descartes. Agaknya Heidegger pun mengembangkan konsep ada-dalam-dunia berlandaskan konsep intensionalitas. Sementara itu Sartre, dalam usaha menunjukkan artifisialitas dualisme Descartes, menegaskan bahwa meja yang tertihat olehnya bukanlah meja yang ada dalam kepalanya (dalam kesadaran Sartre), melainkan meja yang ada di luar sana, di dalam ruang dunia nyata (Sartre, 1976).

Para eksistensialis juga menggunakan konsep intensionalitas untuk menerangkan persepsi. Mereka menekankan bahwa persepsi itu menuntut adanya kesediaan individu untuk melibatkan diri ke dalam aspek realitas tertentu yang (akan) dipersepsinya. Dengan perkataan lain, tindakan mempersepsi menuntut adanya intensi dari individu terhadap sesuatu yang akan dipersepsinya. Sebaliknya, jika individu tidak memiliki intensi (tidak memiliki maksud atau niat) kepada sesuatu, maka dia tidak akan mempersepsi sesuatu itu[7]. Dari. sini timbul keyakinan pada para Eksistensialis bahwa apa dan bagáimana persepsi individu terhadap suatu hal sedikit banyak dipengaruhi oleh intensinya terhadap hal tersebat.

Keyakinan para eksistensialis ini didukung oleh sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa persepsi dipengaruhi oleh harapan-harapan, anggapan-anggapan, dan kecenderungan merespons (set) yang ada pada diri individu (Allport, 1955).

5. Keberadaan otentik dan keberadaan tidak otentitik

Konsep keberadaan otentik (authentic existence) dan keberadaan tidak otentik (inauthentic existence) juga merupakan konsep yang fundamental bagi para eksistensialis dan para ahli psikologi eksistensial.

Keberadaan yang tidak otentik adalah keberadaan individu yang mengukuhkan dirinya dengan cara atau untuk tujuan menghindarkan diri dari wujud-wujud nonada, yakni keniscayaan-keniscayaan hidup yang terdiri atas kematian, keharusan memilih dan memikul tanggung jawab, isolasi dan ketidakbermaknaan.

Ia tidak berani untuk mengambil hidup dengan segala keterbatasannya, penderitaan, kematian, tanggung jawab dan lain-lain. Ia mengukuhkan dirinya bukan untuk dirinya. Ia mencari sukses lewat status, dan sukses menurutnya adalah adanya tepuk tangan penonton. Ia selalu melihat penopangan dari orang lain sebagai bagian pengukuhan dirinya (self affirmation). Keberadaan ini tidak utuh dan rapuh.

Sebaliknya, dalam keberadaan yang otentik, individu sanggup mengukuhkan dirinya tanpa mengingkari keniscayaan-keniscayaan hidup (tidak mengingkari bahwa dirinya akan mati, bahwa dirinya harus membuat pilihan-pilihan atau putusan-putusan yang vital bagi hidupnya, bahwa dirinya bisa mengalami isolasi dari sesama dan mengalami ketidakbermaknaan), juga tanpa mengikat orang lain dan tidak menggantungkan diri pada orang lain. Keberadaan otentik merupakan gambaran ideal bagi para Eksistensialis dan terapi Eksistensial.[8]

Tema-tema Eksistensial

  1. Kebersamaan, Cinta dan Pertentangan

Kebersamaan atau manusia sebagai makhluk social (homo socius) adalah hal penting dalam Eksistensialis. Manusia social adalah bukan suatu kebetulan melainkan merupakan sesuatu yang sudah seharusnya ada, sebab kebersamaan adalah ciri yang essensial dari keberadaan manusia. Sein-ist-mit-sein, keberadaan manusia adalah keberadaan bersama, kata Heidegger.

Kebersamaan ini ada artinya bila dijalani dengan kerjasama, saling menunjang. Dan puncak kebersamaan itu adalah kebersamaan yang dijalani dalam hubungan cinta yang sungguh-sungguh sejati dengan corak Aku-Kamu. Tetapi tidak semua Eksistensialis percaya dan optimis dengan kebersamaan manusia. Sartre salah satu Eksistensialis yang tak mendukung itu. Ia mengatakan setiap hubungan antar individu, pasti berupaya mengobjekkan yang lain, termasuk dalam cinta. Puncak pesimisme hubungan social, diungkapkan dengan kata-kata; “Orang lain itu Neraka”.

  1. Kesepian dan Keterasingan

Kesepian adalah kemungkinan yang dihadapi oleh setiap manusia. Dalam kesepian, individu mengalami keterputusan tidak hanya dengan sesama, juga dengan alamnya, Tuhannya. Ia hanya tinggal dirinya sendiri. Karenanya dalam kesepian manusia tidak menemukan kepuasan dalam berhubungan dengan dirinya sendiri.[9] Orang yang kesepian itu menemukan dirinya tidak berdaya, tidak berharga, dan kehilangan gairah hidup. Manusia pada zaman modern ini akan makin banyak mendapati dirinya kesepian dan keterasingan baik karena pekerjaan, cepatnya arus informasi dan lain-lain.

  1. Kematian

Ini adalah peristiwa yang harus, mau atau tidak manusia akan mengalaminya. Pada sebagian Eksistensialis, melihat kematian dengan pesimistis dan absurditas seperti Albert Camus dan Sartre. Mereka mengatakan kematian adalah kembalinya manusia dari ketiadaan menjadi tiada lagi. Tetapi ada Absurditas dan Nihilis yang optimis yaitu Nietzsche. Sementara lainnya menganggap kematian dengan optimistis. Heidegger mengatakan; penerimaan atas kematian bisa membantu manusia untuk hidup lebih otentik dan bahagia. Demikian juga dengan, Jasper, Simmel dan Frankl.[10]

Teori Kepribadian dan Psikopatologi

  1. Biswanger-Boss

Seperti para Eksistensial lainnya, ia menolak kalau kepribadian dianngap sebagai sekumpulan sifat yang tetap pada manusia. Mereka mengatakan bahwa kepribadian itu dinamis. Sebab mereka percaya ada-dalam-dunia ala Heidegger, dimana manusia dan alam sama-sama berkembang. Manusia menghayati alamnya, dengan penghayatan itu maka diri manusia berkembang dan berkembang pula dunia yang dia alami. Ada-dalam-dunia, oleh Biswanger-Boss dibedakan menjadi 3 yaitu; a) ada-dalam-alam (being-in-nature), b) ada-bersama-orang lain (being-with-other) dan ada-bagi-diri-sendiri (being-for-oneself).

Ini adalah hal umum yang dialami oleh manusia. Ada-dalam-alam (bagaimana menghayati alamnya, laut, darat dan seterusnya). Ada-bersama-orang lain (kesosialan manusia, apa ia bisa berhubungan dengan orang lain atau tidak). Apakah dengan berhubungan social ia menjadi altruisme, egoisme atau menjadi dirinya sendiri. Yaitu ada-bagi-diri-sendiri. Disini diandaikan dengan kedua hubungan diatas, manusia tetap menjadi subjek, mampu melakukan refleksi untuk perbaikan-perbaikan, sehingga ia mampu menjadi person. Unik, dengan pilihannya dengan rasa tanggung-jawabnya.

Dalam hidupnya manusia mengalami “perkembangan keberadaan”, dimana dengan segalanya (ketiga tahapan diatas), manusia mampu mengisi segala kemungkinan-kemungkinannya. Manusia yang hidup dengan sungguh-sungguh, ia akan berusaha untuk merealisasikan segala kemungkinannya, segala kemungkinan bawaannya. Dan manusia dengan kebebasannya mampu untuk merealisasikan itu secara potensial. Individu yang menolak merealisasikan kemungkinan-kemungkinannya sendiri, berarti menghindari tanggung-jawab. Dan penghindaran ini berarti manusia hidup tidak otentik. Penolakan atau kegagalan individu dalam menjalankan mandatnya untuk merealisasikan kemungkinan-kemungkinan dari keberadaannya akan melahirkan “dosa-Eksistensial” (Extential quilt) sebagai hukuman atas diri individu.[11]

Dalam merealisasikan dirinya, manusia punya keterbatasan sebab ia adalah mahkluk yang terlempar (throwness) meminjam dari Heidegger. Manusia waktu lahir dengan segala keterbatasan yang melingkupinya. Tubuhnya, lingkungannya, genetikanya, orang-tuanya dan seterusnya. Demikian juga dengan pilihannya karena keterbatasannya tadi maka ada “opportunity-cost” (biaya kesempatan, meminjam istilah ekonomi, [MA]) artinya karena kekurangan yang manusia punya, bila ia memilih satu pilihan untuk memperoleh realisasi potensi “X”, maka ia menghilangkan kemungkinan realisasi potensi “Y” dan seterusnya. Walau tidak mungkin untuk “sempurna”, tetapi “optimalisasi dengan batasan”[12] (bahasa ekonomi lagi, [MA]) harus diupayakan. Kalau tidak manusia tidak otentik dan bisa malah psikopatologi.

  1. Rollo May

Ia menyoroti beberapa masalah yaitu kekosongan; katanya, kekosongan adalah kondisi individu yang tidak mengetahui lagi apa yang diinginkannya dan tak lagi memiliki kekuasaan terhadap apa yang terjadi dan dialaminya. Ini banyak dialami dalam masyarakat modern..mereka kanya bisa merespon, tetapi tidak bisa memilih respon apa yang paling baik buat kediriannya. Contohnya adalah manusia giroskop (takut mati, dengan segala kekuasaan yang dimiliki), apatis, pasivitas dan lain-lain.

Kesepian, ini dialami masyarakat modern karena rutinitas, robotisasi dan alienasi. Mereka takut ditolak oleh sesama, dan memiliki hasrat untuk diterima orang lain. Mereka berkegiatan bersama, pesta dan lain-lain, ini semua bukan didasari oleh kehendak untuk menciptakan kebersamaan dan saling membagi pengalaman dalam kehangatan manusiawi, melainkan semata-mata didasari oleh ketakutan berada sendirian atau ketakutan diisolasi oleh orang lain. Kesendirian ditakuti bukan karena kesendiriannya, melainkan karena dengan itu maka individu itu akan kehilangan diri dan keberadaannya.[13]

Kecemasan juga merupakan hal lain dalam manusia modern. Mereka tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperankan dan dimainkan, asas-asas apa yang harus diikuti. Semuanya sudah otomatisasi, globalisasi, efisinsi dan seterusnya.[14] Tetapi manusia juga memiliki kesadaran diri yaitu kapasitas yang memungkinkan manusia mampu mengamati dirinya sendiri maupun membedakan dirinya dari dunia (orang lain), serta kapasitas yang memungkinkan orang mampu menempatkan dirinya didalam waktu (masa kini, lampau dan datang).

  1. Viktor Frankl[15]

Ia mengatakan, dengan menggunakan kebijaksanaan dari Nietzsche; “Dia yang mengetahui untuk apa dia hidup, akan bisa mengatasi hampir semua yang terjadi atas dirinya”. Frankl berkeyakinan bahwa kita bebas, dan salah satu kebebasannya adalah bebas berkeinginan. Hanya pasien skizopren yang dihinggapi delusi bahwa keinginan-keinginan dirinya dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan luar, juga para filosof determinstik. Manusia tidak bebas dari kondisinya, tetapi manusia itu bebas untuk mensikapi kondisi tersebut.

Disamping itu, menurut frankl; manusia adalah mahkluk yang motivasi utamanya dalam hidup adalah “mencari makna”. Ia mengatakan bahwa kesenangan, kebahagiaan bukanlah tujuan, bila itu yang dituju, menjadi tujuan, justru itu tak akan tercapai. Kesenangan, kebahagiaan adalah efek samping dari hikmat, menjalankan sesuatu untuk kehidupan. Sukses juga bukan tujuan, tetapi efek samping dari dedikasi dam pengorbanan untuk peradaban, manusia lain dan seterusnya. Penciptaan makna adalah tanggung-jawab yang harus dipikul oleh manusia.

  1. Roland Liang

Dia mengatakan bahwa apabila kita secara simpatik ikut merasakan dunia para pasien skizopren, maka kita akan menemukan bahwa emosi-emosi dan tingkah-laku se pasien adalah respon yang alamiah terhadap situasi-situasi yang secara Eksistensial membahayakan dirinya. Liang mengkritik lingkungan rumah sakit yang tidak memberikan upaya pasien untuk reintegrasi diri… mereka memperlakukan itu sebagai “salah”, dengan perlakuan-perlakuan orang-orang yang “salah”. Bukan sebagai pasien yang merespon kondisi yang membuatnya seperti itu.

Teori dan Praktek Psikoterapi (Eksistensial)

  1. Analisa Eksistensial

1. Teori Proses Teraopatik

Analisa Eksistensial melihat ketidakotentikan hidup adalah sumber psikopatologi, maka keotentikan adalah jalan keluarnya. Adapun proses vitalnya adalah proses peningkatan kesadaran (consciousness raising). Pasien diarahkan sebagai subjek dengan kebebasannya memilih, tanggung-jawab dan memaksimalkan potensinya.

a. Peningkatan kesadaran

Pasien dibiarkan menjadi dirinya, bukan diarahkan seperti keinginan teraupatis. Kebanyakan pasien akan mengulang-ulang pola terdahulunya dalam berelasi dan membentuk relasi tranferensi. Ini adalah upaya menyembunyikan kondisi asli si-pasien. Dengan dibuka, disadarkan sebagai “person”, maka akhirnya sipasien membuka ketidak-otentikannya. Misalnya dia mengatakan; bukankah kemarahan, menangis itu kekanak-kanakan? Terapis akan mengatakan tidak! Bila perlu marah, marahlah. Pasien dianggap mengalami kemajan bila ia mau meninggalkan pengalaman egosentrisnya, dan masuk kedalam dialog yang lebih jujur atau otentik dengan terapisnya.[16]

Ini problem psikoterapis-Eksistensial, ia tidak membuat jejak, bagaimana membuat pasien meningkat kesadarannya. Mereka tidak sepakat dengan sistematika terhadap terapi-Eksistensial, karena hakekat terapi sendiri adalah pertemuan sejati antara terapis dan pasien ( kata Biswanger dan Boss). Mereka sepakat bahwa kerja terapis dimulai dengan pemahaman atas dunia fenomenal pasien, yakni berusaha mengalami bangunan yang unik dari dunia subjektif dari pasien tanpa memasukkan prasangka-prasangka terapis kedalamnya. Para terapis untuk mengorek itu menggunakan prosedur klarifikasi untuk pengungkapan dimensi atau aspek tertentu yang disembunyikan si-pasien. Atau si-terapis mengungkapkan pengalamannya sendiri guna mendapat tanggapan yang jujur dari sipasien [dengan itu biasanya si-pasien, keluar dari proteksinya].

b. Pemilihan

Dijelaskan pada si-pasien bahwa dalam hal apapun pilihan ada padanya, bahkan saat memilih siapa terapisnya, datang atau tidak saat terapi dan seterusnya. Pilihan dan tanggung-jawab ada pada si-pasien. Pasein dijelaskan bahwa apapun karena dia adalah “subjek”, diharapkan ia mengambil keputusan, dengan berbagai alternative pilihan, tidak semua diketahui hasilnya. Tetapi harus memilih, semua manusia seperti itu dan dalam pilihannya itu, ia akan mendapatkan hasil “susah, gembira”, dengan semuanya itu diharapkan ia dengan berkata “Ya” untuk mengambil tanggung-jawabnya. Jalan menuju keotentikan pada dasarnya adalah jalan kesunyian dimana hanya kita [si-pasien] sendirilah yang harus bertanggung-jawab atas pilihan-pilihan yang diambilnya.[17]

Kadang saat terapi, pasien ingin menjadi tidak otentik, ia menyerahkan pengambilan-pengambilan keputusan, pilihan dari terapis. Misalnya dengan kata-kata; apa yang harus saya lakukan? (ia menolak untuk mengambil keputusan, dan diserahkan kekuasaan itu pada terapis) Saya kok tidak dapat hasil apa-apa dari terapi ini setelah sekian lama dok? (hasil atau tidak, terus atau berhenti terapi, pasienlah yang harus memutuskan). Dan seterusnya.

  1. Teori isi teraupatik

Analisis Eksistensial membantu si-pasien mengatasi konflik ada-dalam-dunia, ada-bersama-oranglain dan ada-dalam-diri-sendiri. Sekaligus melangkah keseberang konflik-konflik itu, menuju pemenuhan diri (self-full-filment)

a. Konflik-konflik intrapersonal

Dalam Kecemasan-Eksistensial seperti; kematian, penderitaan, ketuaan dan lain-lain, analis Eksistensial hanya memberikan jalan, bahwa itu harus diterima sebagai konsekuensi kita sebagai individu. Bukan dibuat ‘barier’ dengan berbohong (mengatakan ia bisa muda terus-menerus), diproyeksikan bahwa ini semua bukan dari dirinya dari factor luar dan lain-lain. Menerima secara berani kecemasan Eksistensial sebagai bagian dari keberadaan dan sebagai harga yang harus dibayar bagi keotentikan yang ingin dicapai.

b. Konflik-konflik interpersonal

Problem utama masalah ini biasanya adalah’ keintiman, seksualitas dan komunikasi juga kebencian dan hasrat untuk menguasai. Analis Eksistensial hanya memberikan resep bahwa “Kamu” adalah subjek, dengan segala atribut ke-subjek-annya. Bebas memilih, diciptakan untuk mengisi semua potensi yang mungkin bagi dirinya, bertanggung-jawab terhadap pilihan itu dan seterusnya. Kekurangan-kekurangan dalam masalah konflik interpersonal, analis hanya menunjukkan Subjek-lah yang mampu mengatasi. Analis hanya mengarahkan supaya si-pasien benar-benar menjadi subjek, dengan mencari upaya-upaya penyelesaian obat-obat disetiap problemnya.

c. Konflik individu versus lingkungan

Mereka mempertanyakan, bagaimana individu bisa sehat jika masyarakat tempat mereka menyesuaikan diri adalah masyarakat yang tidak bisa memperbedakan antara yang benar dan yang tidak benar. Ambiguitas dalam soal kebenaran dan ketidakbenaran ini, menurut para eksistensialis, amat terasa pada masyarakat modern. Dalam situasi semacam ini [robotisasi, otomatisasi alienasi dan seterusnya], jika individu ingin sehat, dia haruslah sadar dan berani memikul tanggung jawab untuk menjadi dirinya sendiri alih-alih meniadi pengekor orang lain atau menjadi bidak massa. Menjadi diri sendiri adalab meng-ada-bersama-orang lain tanpa menjadi milik orang lain. Pendek kata, dengan kesadaran dan keberaniannya, individu bisa dan harus melampaui lingkungannya. Kita lihat contoh-contohnya; Mahatma Gandhi, Khomeini dan lain-lain.

d. Keseberang konflik menuju pemenuhan diri

Tujuan analisis eksistensial tidak hanya membantu individu atau pasien untuk menyelesaikan konflik-konflik yang dialaminya, tetapi juga membantu pasien untuk melangkah ke seberang koflik menuju pemenuhan diri. Makanya individu perlu bertanya kepada dirinya sendiri: Adakah sesuatu yang saya perjuangkan? Untuk apa sesuatu itu saya perjuangkan? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini, jika muncul di dalam terapi, bisa menakutkan, tetapi bisa juga memotivasi pasien untuk meninggalkan langkah-langkah yang memberi rasa aman tetapi tidak memberikan makna bagi keberadaannya. Sebaliknya, jika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak muncul dan atau dihindari, maka pasien akan lebih jatuh ke dalam keadaan depresi, suatu keadaan yang menandai sense of meaninglessness.

  1. Teori relasi terapeutik

Relasi antara pasien dengan terapis akan berjalan baik bilarelasinya adalah Aku-Kamu. Artinya tidak ada yang mencoba untuk mengobjektivasi pasien-terapis. Makanya terapis haruslah lebih otentik dan sehat dari-pada pasien.[18]

Validasi uraian Fenomenologi-Eksistensial

Van Kaam (1966) mengatakan; “pengalaman-pengalaman seperti tanggung-jawab, ketakutan, kecemasan, keputusasaan, kebebasan, cinta, keheranan, dan keputusan tidak dapat diukur dan dieksperimenkan. Kesemua pengalaman itu semata-mata ada dan hanya bisa diterangkan apa adanya”. Ada beberapa cara untuk validasi hal-hal diatas yaitu;

  1. Metode intrasubjektif

Misalnya dengan menguraikan tentang tingkah laku yang sama, yang muncul dalam situasi-situasi berbeda, kemudian uraian itu di diperbandingkan. Jika uraian-uraian itu ternyata konsisten dengan gambaran yang terdapat pada urian yang lain, maka uraian-uraian itu bisa dikatakan valid.

[19][Secara umum jalannya adalah; 1) melihat fenomena-fenomena masyarakat yang beragam dan kacau balau. Disini kita melihat-lihat fakta-fakta religius (baik itu pikiran, tindakan, perasaan dan maksud-maksud dari seseorang yang diungkapkan dalam tindakan-tindakan luar). Pemahaman ungkapan-ungkapan yang bersifat subjektif inilah yang membuat kita mengetahui fakta itu, berupa suatu tindakan kebaktian, bukan sekedar gerakan saja (misal dalam doa, sholat, tari dan lain-lain). Pertama; (proyek Husserl) landasan berfikir semua hal adalah kehadiran, seperti kata Husserl, “Prinsip segala prinsip adalah hanya intuisi langsung (dengan tidak menggunakan perantara apapun)”. Ini berarti apapun yang kita lihat, pandang dan persepsi awalnya adalah apa yang kita alami. Penglihatan dan pemahaman kita selanjutnya menggunakan pemahaman awal (langsung itu). Berarti ini Subjektivitas. Jawabnya positif, Ya. Inilah yang kita miliki awal. Dengan reduksi-reduksi nanti kita bisa hilangkan subjektivitas itu.

Pemahaman suatu fenomena religius meliputi empati terhadap pengalaman, emosi, ide-ide dari orang lain dan seterusnya. Empati memperlihatkan pemahaman terhadap tingkah laku orang lain berdasarkan pengalaman dan tingkah laku kita sendiri. Kalau orang tidak pernah mengalami tindakan religius atau ritual tertentu, ia tidak akan pernah memahami makna tindakan religius ini dari dalam.

Untuk mengetahui suatu tindakan X adalah kebaktian, bahwa Y adalah tindakan kurban dan Z adalah tindakan Doa. Fakta ini mengandaikan perlunya Objektivitas. Dengan kata lain fenomena religius itu adalah objektif, meski fakta sebenarnya berdasarkan pada subjektivitas. Disinilah kita perlu konsep kedua kata Husserl, Epoche (menaruh dalam kurung atau melakukan reduksi-reduksi.

Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa tindakan X adalah tarian ritual. Ini kita melihat tidak hanya gerakannya, namun kita menangkap itu kepenuh-artian-nya. Untuk dapat menangkap itu kita perlu mengetahui seluk beluk, bahasa, dan penjelasan langsung dari penarinya (disinilah perlunya sejarah, antropologi dan sosiologi agama, sebagai pembantu fenomenologi agama. Membiarkan fenomena itu sendiri yang berbicara). Dengan ini kita mengetahui ciri religiositasnya. Juga dengan membandingkan dari pengamat-pengamat lainnya. Dengan ini maka kita sampai ke metodologi ilmiah. 2) Mengadakan penggolongan dan klasifikasi/taksonomi. Kesemua itu dilakukan dengan menyusun Tipologi[20], Struktur dan Morfologi. 3) Memisah-misahkan untuk mencari kejelasan, membuang yang tidak bersangkutan dan lain-lain. Ada proses abstraksi disini, dan pembuatan type-ideal. Ini dilakukan dengan apa yang dalam proyek Husser ketiga disebut variasi eidentis (dengan pemahaman[21], empati dan wawasan imajinatif). 4) Mencari hubungan korelasi antara satu sebab dengan sebab yang lain. 5) Pembuatan hipotesa/ramalan. Jika ini maka itu dan lain-lain. (Misal: Pengaturan penguburan menunjuk pada kepercayaan akan kebangkitan badan, tarian ritual yang mengungkapkan ketakutan akan daya adi kodrati dan lain-lain). 6) Verifikasi dan Falsifikasi. 7) “Hukum” [22](Misal: Suatu suku bangsa mempertahankan upacara-upacara pemulihan karena takut pada kemarahan para dewa).

Dari keterangan diatas (yang memang hanya sebagai pengantar) maka kita bisa mendapatkan satu hal yang cukup penting; yaitu perspektif lain dari Realisme/empirisme dan Idealisme/rasionalisme. Dengan fenomenologi ini (sekalipun mengarah kerelativisme) kita bisa mengatakan; bahwa apapun itu berproses, tidak selesai dan definitif. Tidak mungkin mengetahui sesuatu tanpa melihat “sejarahnya”[23]. Dan perspektif kita akan ilmu pengetahuan yang bebas nilai (free-value) jelas tidak memiliki dasar, dan optimisme yang berlebihan kepada ilmu-pengetahuan harus diturunkan, tanpa menjadi penentangnya. Apakah ini berbahanya bagi Agama sebagai institusi yang mengklaim kebenaran absolut?. Jawabnya tergantung: “Apakah kita yakin bisa memperoleh hal yang pasti, benar dan absolut”, atau “kita yakin tidak mungkin memperolehnya”, atau malah “kita yakin memang Allah tidak menyuruh kita mencari kebenaran absolut itu”. (ini semua perlu didiskusikan dan dipelajari lebih lanjut)[24]]

Atau contoh lain menganalisa pengalaman “dimengerti”, kalau seorang itu mengerti apa yang kita maksud, maka ada beberapa unsure yang ada secara fenomena, misalnya; merasa puas, nyaman, ada isyarat mengerti dan lain-lain, lalu ini dicobakan kebebarapa subjek penelitain ternyata signifikan; maka point-point itu dipercaya sebagai fenomena “dimengerti”.[25]

  1. Metode intersubjektif

Diperbandingkan antar pengamat seperti penjelasan diatas.

  1. Analisis Mimpi

Sama dengan analisis mimpi Frued, hanya penafsirannya yang berbeda-beda. Apa yang disembunyikan dan lain-lain dapat dilihat dalam mimpi itu. menurut Boos, mimpi adalah bentuk lain dari mengada-dalam-dunia. Mimpi itu harus diterima utuh apa adanya [tidak seperti Frued yang diarikan simbolik] baik isi maupun maknanya. Kata Boss, bentuk keberadaan atau cara meng-ada seseorang yang terlukis didalam mimpinya sering merupakan salinan dari caranya meng-ada dalam kehidupan sadar.

  1. Pembuatan definisi operasional dan kuesioner untuk eksperimen

Ini missal yang paling pentik adalah “Makna Hidup”. Bagaimana ini bisa diteliti secara eksperimental? Konsep-konsep Frankl itu dicoba dicarikan validasinya oleh murid-murinya. Secara rasional Crumbaugh dan Maholick mendefinisikan “maksud hidup” sebagai “signifikansi ontologism hidup” dari titik pandang individu yang mengalaminya. Kemudian secara operasional mereka mengukur (mengetes) maksud hidup itu dengan alat test yang mereka susun berdasarkan kerangka acuan logoterapi (terapi aliran Frankl), dan tiga test lain atas kuisioner frankl, The Allport-Vernon-Lindzey Scale of Value (A-V-L), dan The Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) dan seterusnya.[26]



[1] M.A.W. Brouwer, “Psikologi Fenomenologis”, Gramedia, Jakarta, 1983.

[2] Faktisitas manusia adalah situasi atau keseluruhan factor factual yang menandai keberadaan manusia yang tidak dipilih oleh manusia itu sendiri, yakni antara lain waktu dan tempat kelahirannya, genetika atau ras.

[3] Henry Misiak, Ph.D dan Virgina Staudt Sexton, Ph.D, “Psikologi Fenomenologi Eksistensial dan Humanis, suatu tinjauan survey Historis”. PT Eresco, Bandung, 1988.

[4] E. Koeswara, “Psikologi Eksistensial, suatu pengantar”, Pt Eresco, Bandung, 1987. hal 6-8.

[5] Disini berlaku, bahwa manusia dikatakan ada, saat ia mengalami otonominya, sebagai person, dengan kebebasannya. Sewaktu dia menjadi objek, apapun itu (dieksploitasi, menginginkan sesuatu yang bukan keinginannya, bertindak hanya reaktif, dan lain-lain ), maka manusia itu dikatakan non-ada. Ini mirip dengan otonomi-murni dan heteronomy dari I. Kant (filososf pencerahan).

[6] Pernyataan ini tidak berlaku bagi Eksistensialisnya Sartre. Sebab ia mengatakan; bahwa dalam hubungan antar pribadi, bahkan dalam cinta-pun yang satu selalu mengandaikan yang lainnya sebagai objek. Pernyataan dia tentang pengobjekkan manusia satu oleh manusia lain, sewaktu berhubungan dalam bentuk apapun diungkapkan dengan kata-kata; “Orang lain adalah neraka”.

[7] Ini dapat dicontohkan dengan orang yang melamun atau orang yang kosentrasinya ketempat lain. Sekalipun adanya stimulus (sinar, gelombang cahaya atau lainnya) kedalam matanya, telinganya…dan secara fisik, kecepatan gelombangnya, panjang-gelombangnyanya, kerasnya dan lain-lain mencukupi untuk melihat, mendengar dan seterusnya. Tetapi bila manusia itu tidak berkehendak untuk mempersepsi itu (melamun atau membayangkan, atau memikirkan yang lain), maka ia tidak melihat dan mendengar. Contoh; banyak orang yang dipanggil tetapi tidak dengar atau merasa dipanggil padahal panggilannya keras.

[8] Disini menurut kami yang perlu sedikit dijadikan pedoman bagi para Eksistensial-Agamis. Sebab apakah menjalankan agama dengan cara tidak otentik itu bisa dibenarkan? Artinya banyak orang yang melakukan hidupnya dengan mengikuti aturan-aturan agama, tetapi ia tidak cukup kuat, atau tidak cukup memiliki landasan mengapa ajaran itu mesti dilakukan ini dan itu. mereka hanya pasrah dan mentaktimi ajaran-ajaran itu. Ini menurut agama sendiri sebagai kurang agamis, tetapi apakah harus dipending, sementara tidak dijalankan dulu?, dimasukkan dalam tanda kurung, atau dijalankan dengan tanpa kesadaran, sambil mencari jawaban mengapa seperti ini dan itu.

Kalau ada Psikologi_Islam, maka menurut kami itu tidaklah sulit. Mirip dengan konsep Psikologi-Eksistensial. Yaitu mengambil landasan-landasan filosofi dari ajaran agama (kalau Psikologi-Eksistensial mengambil dari Filsafat Eksistensialis), lalu dimasukkan dalam konsep-konsep yang dijadikan penekanan pada psikologi, juga terapinya. Kemudian dicarikan pendasaran empiris dan eksperimentalnya. Tetapi itu sama saja dengan psikologi-umum. Hanya dipas-paskan dengan agama. Jawabnya memang “Ya”. Psikologi-agama itu ada dan muncul sebenarnya karena kita yakin bahwa tema-tema pokok, itu pendasarannya atau pengambilan landasan filosofisnya “lebih tenang”, mungkin akan “lebih benar” diambil dari agama. Tema-tema Eksistensialis itu semua adalah tema-tema agama. Kematian, kebebasan, penderitaan, kehampaan-Eksistensial, dan lain-lain. Dulu itu dilakukan terapinya oleh para pastor, kiayi, ulama, sekarang dengan “sentuhan” pseudo-ilmiah”, dipegang peran itu oleh psikolog atau psikoterapis. Sekadar mencari hal-hal yang perlu dipikirkan ulang.

[9] Kalau mereka puas, maka itu bukan kesepian namanya, tetapi mungkin khalwat, merenung, refleksi dan lain-lain.

[10] Agama sangat membantu dalam hidup bermakna. Sebab arti “Makna” secara agak sederhana adalah “Masuknya pengalaman dalam system yang dibuat oleh si-subjek”. Dan Agama sengat membantu itu, apalagi dengan konsep “Tuhan” (dengan konsep ini tidak ada nihilisme dan chaos yang diyakini oleh Nietzsche, karena pembunuhan Tuhan), “pahala-dosa” (dengan ini maka penderitaan, kematian, kejahatan, perbuatan dan lain-lain dapat dijelaskan dengan “sempurna”) demikian juga dengan “surga-neraka”.

[11] Ini sama persis dengan agama-Islam. Dimana kepercayaannya; “manusia dilahirkan dengan potensi “menyamai Tuhan”, dengan ditiupkan ruh-NYa. Dan manusia diperintah untuk memaksimalkan potensinya yaitu memaksimalkan segala kemungkinannya untuk “menjadi Tuhan”. Matanya dimaksimalkan sehingga menjadi “mata-tuhan”, kebaikannya menjadi ‘kebaikan-tuhan” dan seterusnya. Ini mirip dengan motto hidup saya [Muhammad Alwi]; “Hidup adalah perjuangan, perjuangan menuju kesempurnaan”. Dan kesempurnaan itu tak akan mungkin, karena manusia tak-akan mungkin jadi Tuhan, dengan segala keterbatasannya. Ia hanya bisa berjalan mendekati-Nya. Problem Psikologi-Eksistensial adalah. Potensi bawaan manusia itu apa? Kalau tidak ada guide maka akan menjadi “manusia sempurna”, sesuai dengan zamannya. Seperti moral yang baik itu yang dikritik oleh Nietzsche, sebagai “moralitas budak” dan “moralitas tuan”. Lihat saja diBarat, baik itu apa? Bahagia itu apa? Tak jelas atau tidak sesuai dengan kodrat manusia. Disinilah agama lebih baik; agama memberikan kunci “potensi dasar manusia” yaitu “bebas”, “ditiupkan ruh-Allah” dan lain-lain. Dan diberi guide (petunjuk umum cara) untuk merealisasikan itu, lewat “syari’at”. Pembahasan “manusia-sempurna”, banyak dibahas oleh filosof-sufi Islam, misalnya; Ibn Arabi, Al-Jilli dan lain-lain.

[12] Artinya adalah bahwa dengan “potensi yang terbatas” dengan pilihan yang “sangat banyak atau tak terbatas”, maka kita harus melakukan ‘optimalisasi dengan batasan”, yaitu memaksimalkan apa yang kita punya tadi (terbatas) untuk menghasilkan sesuatu yang maksimal nilainya (= nilai gunanya, utility of value). Ini adalah pelajaran ilmu ekonomi kalau pilihan-pilihannya berupa murni “materi-keuangan”. “Optimalisasi dengan batasan” adalah judul skripsi kami sewaktu menyelesaikan S-1, Fakultas Ekonomi, Univ Muhammadiyah Malang.

Konsep kami dalam agama seperti ini; secara figh ada pembagian kategori yaitu Haram (saya beri anotasi angka = 2), Sunnah (1), Mubah ( 0 ), makruh (minus 1), haram (minus 2). Ini kategori figh, dalam pembahasan filsafat dan irfan tidak ada itu mubah (0), sebab dalam setiap kemungkinan kita dapat “mengoptimalisasi dengan batasan keadaan kita”. Misalnya; sewaktu pagi hari, kita habis sholat subuh, kita dapat melakukan banyak hal; olah-raga, tidur lagi, baca koran, bersih-bersih kamar dan lain-lain. Dari semua itu kita bisa memaksimalkan diri. Olah raga (sunnah = 1), bersih-bersih kamar (sunnah = 1), sedangkan tidur lagi (mubah = 0 ). Kalau kita pilih tidur (= 0), sementara kita dapat memilih yang lain, berarti kita lost oportunitu (kehilangan kesempatan dapat untung) artinya rugi = dalam bahasa agama adalah dosa filsafati, sekalipun secara figh-normatif tak dosa. Apalagi kalau dihubungkan dengan bahwa; waktu, kesehatan, akal dan semua perbuatan kita akan diminta pertanggungan-jawannya oleh Allah diakhirat. Artinya buang-buang waktu hanya dengan mubah secara figh-normatif, sebenarnya adalah “haram-irfani-filosofis”. Lihat dalam tulisan kami [MA] yang akan terbit “Islam dan Teologi Berkebenaran”. Disinilah kelemahan supremasi-hukum dalam “leviathan”-nya Hobbes.

[13] Ini mirip seperti ini; karena dunia seperti ini, maka kesenagan, sukses dan lain-lain bukan karena untuk dirinya, tetapi tepuk tangan orang lain. Sehingga karena itu manusia hanya mengisi dengan kesibukan-kesibukan, kerja-kerja, senang, kenikmatan dan kenikmatan, efisiensi demi efisiensi dan seterusnya. Sehingga mereka tidak mau berhenti, sendirian…karena dengan itu mereka akan refleksi diri, dialog dengan dirinya dan itu akan membuat ia remuk, karena kekosongan terhadap apa yang sudah ia capai sampai saat itu, apa yang ia lakukan sampai saat itu.

[14] Bayangkan manusia modern ini; pagi-pagi bangun, olah-taga, sambil dengarkan berita, baik keuangan atau politik, lalu lihat email cek apa-apa yang masuk, lihat record-telpon, jangan-jangan ada yang telpon malam-malam. Lalu mereka makan, tak sempat masak, makan sereal dengan jus-jus untuk kesehatan dan diet. Lalu meluncur kekantor, ditengah jalan menyetel pelajaran kepribadian praktis yang sudah dikemas dalam kaset. Dikantor sapa seketaris lalu masuk kantor dan seketaris sudah menyodori meeting serta apa saja yang mesti dilakukannya. Jam 11 meeting dengan X, jam 12.30 makan siang, jam 13.30 pertemuan dengan karyawan dan lain-lain. Lalu sampai rumah jam 20.00. ini dilakukan hari demi hari tahun demi tahun.

[15] Lihat secara lengkap, makalah kami [MA], “Man’s Search for Meaning” yang merupakan ringkasan buku Viktor Frankl dengan judul yang sama, dengan berbagai komentar.

[16] Disini say [MA] terdiam, sebab saya pernah melihat ini dalam diri salah satu “teman akrab” saya, dan saya ingin mengobatinya (menyadarkannya0, walau waktu itu saya belum kenal “psiko-Eksistensial”. Orang itu begitu bicara awalnya “normal dan logis”, lalu setelah masuk kemasalahnya [sedikit kami anggap dia punya problem psikis], ia menjadi tidak logis dan egisentris bahkan mbulet serta berputar-putar. Ia biasanya tidak ingin mengungkapkan “penderitaannya sekarang”, “kegagalannya”, “kehancurannya” sekarang. Biasanaya ia akan “membuka diri”, kalau kita tidak menjadi “diatas” dirinya [mungkin karena ‘terapisnya’] saya [yang dipandangnya semestinya dibawah dia, secara umur, pengalaman dan semestinya keberhasilan, walau kenyataanya tidak seperti itu], artinya kita membuka pengalaman-pengalaman kegagalan-kegagalan kita, ternyata kita punya kekurangan-banyak dan dia punya cukup kelebihan dan seterusnya. Tanpa itu kemajuan terapis tadi sulit [minimal dalam pengalaman kami] didapat.

[17] Kebebasan kita memang terikat oleh situasi-kondisi, tetapi kita bebas menyikapi situasi dan kondisi itu.

[18] Manakah orang yang lebih otentik kalau tidak orang-orang yang mampu mentransendenkan keinginan duniawi ke hal-hal yang lebih maknawiyah. Itu tidak ada lain kecuali mereka yang kata tuhan sebagai “Ulil-Albab”. Anehnya para psikolog sebagian besar adalah kaum liberalis, borjuis dan murni-ilmiah, semestinya mereka harus lebih agamis.

[19] Lihat buku kami yang akan terbit, “Islam dan Teologi berkebenaran”, bab “Fenomenologi”, juga Bdk, Mariasusai Dhavamony, “fenomenologi Agama”, Khususnya bab 1, hal 5-43, Kanisius,1995.

[20] TIPOLOGI adalah ilmu mengenai tipe. Suatu tipe adalah pola sifat suatu individu, kelompok, atau budaya yang membedakannya dari individu atau kelompok budaya lain. Tipe ini digunakan karena mereka menyediakan sarana klasifikasi dari pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok yang berguna untuk tujuan anAlisis. TYPE-IDEAL adalah gagasan mental yang terbentum dari susunan unsur-unsur karakteristik sejumlah fenomena yang digunakan dalam anAlisis. Unsur-unsur yang diabstrakkan didasarkan pada pengamatan terhadap situasi-situasi konkret dari fenomena yang dipelajari, namun gagasan yang dihasilkan tidak perlu harus berkaitan persis dengan setiap pengamatan empiris. STRUKTUR adalah perhubungan yang kurang lebih tetap dan mendasar antara unsur-unsur, bagian-bagian, atau pola dalam suatu keseluruhan yang terorganisasi dan menyatu. Struktur adalah keterkaitan satu sama lain yang tak teralami secara langsung, bahkan tak terpikirkan secara logis maupun secara kausal, tetapi dapat dipahami; suatu keseluruhan organis yang tak dapat dianAlisa kedalam unsur-unsurnya, tetapi dapat dipahami dari unsur-unsur pembentuknya. struktur adalah kenyataan yang disusun menurut maknanya, tetapi makna itu sekaligus merupakan bagian dari realitas maupun subjek yang mencoba memahaminya. Oleh karena itu struktur termasuk inteligibilitas maupun pemahaman. MORFOLOGI adalah studi tentang bentuk, pola struktur atau susunan; suatu keseluruhan yang utuh, bukan merupakan penjumlahan bagian-bagian yang dikumpulkan; proses-proses dan kebiasaan-kebiasaan mental tak dapat dianAlisa sampai tuntas,kedalam satuan-satuan elementer, sebab keseluruhan dan organisasi adalah ciri khas dari proses-proses sejak awal.

[21] Pemahaman adalah penangkapan beberapa isi mental yang diperlihatkan oleh ungkapan

[22] Tidak seperti ilmu alam, dan tidak mengklaim “kebenaran lengkap”, sebab kebenaran itu “berproses”.

[23] Tetapi dengan Huserl (yang berusaha membentuk ilmu yang rigorus dan kalimat apodiktis, ilmu yang pasti dan kalimat/proposisi yang kebenarannya absolut), serta Scheler dengan tiga skemanya (Erleben, washeit dan wessenzusammenhang), dimana dapat sampai ke pengetahuan apriori: prinsip non-kontradiksi), maka Fenomenologi tidak mengharuskan kerelativisme. Lihat cacatan kaki no 17 diatas.

[24] Lihat bab-bab selanjutnya..

[25] Lihat E. Koeswara, Op,.Cit, hal 90

[26] Ibid, hal 97-105.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar