Laman

Minggu, 28 Maret 2010

KONSEP DAN PEMIKIRAN KARL MARX

KONSEP DAN PEMIKIRAN KARL MARX

Marx selalu menuntut agar filsafat menjadi praktis, yaitu pendorong perubahan social. Kata marx; "para filosof hanya memberikan interpretasi yang berbeda kepada dunia. Yang perlu ialah mengubahnya". Marxisme tidak selalu menjadi komunisme. Komunis adalah partai yang didirikan oleh W.I. Lenin (1917), dimana menggunakan ideology "Marxisme-leninisme", dan mereka selalu mengklaim penafsir tunggal atau yang paling absah terhadap ajaran-ajaran Marx. Komunis secara arti bisa dikatakan untuk sebuah cita-cita utopis masyarakat, dimana segala hak milik pribadi dihapus dan semuanya dimiliki bersama.

Istilah "marxisme" sendiri sebagai sebutan pagi pembakuan ajaran karl marx terutama dilakukan oleh temannya yaitu Friedrich Engels (1820-1895), sedangkan tokoh teori marxis Karl Kautsky (1854-1938). Georg Lukacs menegaskan bahwa "Marxisme klasik" adukan Engels dan Kautsky itu menyimpang dari apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Marx. Lukacs adalah salah seorang Marxian yang mencoba membaca Marx lain dari penafsiran mainsteam (leninisme).

Banyak ahli membagi pemikiran Marx menjadi "Marx Muda" dan "Marx Tua", walau ini kurang pas, sebab hal-hal yang ada di Marx Tua sebenarnya sudah ada di Marx muda, khususnya tulisannya The German Ideologi (terutama naskah Paris). Louis Althusser dalam bukunya Pour Marx, mengatakan ada potongan antara Marx Muda dan Marx Tua. Walaupun beberapa ahli mengatakan perkembangan itu berkesinambungan.

Ada paling tidak lima (5) tahap perkembangan tulisan/pemikiran Karl Marx yaitu; Tahap 1) terpengaruh kuat oleh filsafat Hegel dan mencari jawaban dari pertanyaan (karena situasi politik Jerman saat itu); Bagaimana membebaskan manusia dari penindasan system politik yang reaksioner. Tahap 2) berkenalan dan terpengaruh dengan filsafat Feuerbach. Pembahasan berubah menjadi politik yang dijalankan oleh Prussia yang menindas Jerman, sebagai ungkapan sebuah keterasingan manusia dari dirinya sendiri (alienasi). Pertanyaan yang diajukan adalah darimana harus dicari sumber dari keterasingan itu? Tahap 3) perjumpaan dengan kaum sosialis Prancis, disini Marx mulai mengetahui bahwa sumber keterasingan paling dasar berlangsung dalam proses pekerjaan manusia. Katanya; sebenarnya pekerjaan adalah kegiatan manusia untuk menemukan identitasnya, tetapi karena system hak milik pribadi kapitalisme, menjungkirbalikkan makna pekerjaan menjadi eksploitasi. Karenanya, manusia hanya dapat dibebaskan (dari belenggu itu) apabila hak milik pribadi atas alat-alat produksi dihapus melalui revolusi kaum buruh. Ini tahapan Marx dalam sosialisme klasik. Pertanyaan yang diajukan adalah bagaimana cara menghapuskan hak-hak milik pribadi? Sebagai sumber alienasi dan eksploitasi manusia. Tahap 4) Karena pemusatan perhatiannya pada cara menghapuskan hak milik pribadi, maka marx mulai merubah sosialismenya menjadi sosialisme ilmiah, bukan hanya dorongan moral (supaya alienasi dan eksploitasi itu hilang). Tetapi sudah mengklaim keniscayaan. Dari masalah filosofis menjadi semakin masalah sosiologis. Jawan dari pertanyaan tahap 3 adalah Sosialisme ilmiah yang disebutnya sebagai "paham sejarah materialisme"; sejarah dimengerti sebagai dialektika antara perkembangan bidang ekonomi disatu pihak dan struktur-struktur kelas-kelas social dipihak lain. Marx sampai berkesimpulan bahwa factor yang menentukan sejarah bukanlah politik atau ideology, melainkan ekonomi. Perkembangan dalam cara-cara berproduksi lama-kelamaan akan membuat struktur-struktur hak milik lain menjadi hambatan kemajuan. Dalam situasi ini akan timbul revolusi social yang melahirkan bentuk masyarakat yang lebih tinggi. Tahap 5) Pertanyaannya, tetapi apakah pernah akan lahir masyarakat tampa hak milik pribadi sama sekali atau hak milik pribadi terhapuskan? Karena factor yang menentukan perkembangan masyarakat adalah ekonomi, itulah akhirnya marx memusatkan dirinya pada kajian ekonomi, khusunya kapitalistik. Studi ini menghasilkan kesimpulan bahwa merupakan keniscayaan kapitalisme dengan sistemnya sendiri akan hancur. Karena eksploitasi, persaingan semakin besar, maka masyarakat akan sangat terpolarisasi menjadi dua kelompok kaum buruh dan pemilik modal, karena eksploitasi itu menjadi-jadi maka akan terjadilah revolusi kelas buruh, yang akan menghapuskan hak milik pribadi atas alat-alat produksi dan mewujudkan masyarakat sosialis tampa kelas. 1 sampai 3 biasanya disebut "marx Muda" dan tahap 4 dan 5, biasa disebu "Marx Tua".

Riwayar hidup Karl Marx

Lahir pada tahun 1818 di kota Trier diperbatasan Jerman barat waktu itu termasuk Prussia. Ia kuliah filsafat di Berlin (filsafat Hegel). Ia masuk Klub Doktor (kumpulan intelektual muda yang kritis dan radikal) waktu itu ia baru semester dua. Mereka ini menggunakan Hegel sebagai kritik terhadap Negara, mereka menekannkan pada rasionalitas dan kebebasan. Mereka juga mengatakan bahwa filsafat hegel itu ateistik makanya mereka juga menentang pengaruh agama. Mereka disebut sebagai "kaum Hegelian-Muda". Sedangkan lawannya kaum Hegelian-Kanan yang mengatakaan hegel itu seorang teolog Protestan, dan mereka mendukung agama serta mendukung Negara Prussia.

Kata marx, bahwa hegel hanya teoritis, dan teorinya tidak dapat diterapkan dalam kenyataan, padahal filsafat mestinya menjadi aksi. Filsafat menjadi kekuatan praktis-revolusioner. Ia melihat jawaban pertanyaan itu dari pengaruh filsafat feuerbach, yaitu Keterasingan/alienasi. Mengapa Hegel tidak turun dari daratan murni teoritis ke praktis/kenyataan-aksi. Ini karena keterasingan manusia dari dirinya sendiri.[1] Feuerbach mengatakan keterasingan itu terungkap dalam agama. Marx mengatakan agama itu penyebab keterasingan sekunder. Keterasingan primer adalah keterasingan manusia individual dari hakekatnya yang social sebagaimana terungkap dalam individualisme modern. Tanda keterasingan ini adalah eksistensi Negara yang represif. Disinilah kaum proletariat punya potensi untuk revolusi menghancurkan keterasingan itu.

Tetapi mengapa manusia itu menjadi terasing? Jawaban ini diperolehnya saat di paris, dimana ia bertemu dengan tokoh-tokoh sosialis seperti Proudhon, friederich Engels. Ia menerima anggapan dasar sosialisme bahwa akar segala masalah social terletak pada lembaga hak milik pribadi.

Ada tiga buku yang ditulis dalam periode ini yaitu; 1) Philosophical and Economic Manuscripts (1844) atau biasa disebut naskah-naskah Paris (baru dicetak tahun 1928) à disini ia menganalisa segi-segi keterasingan manusia dalam kerja. Dalam naskah-naskah ini jelas "humanisme marx", dimana dia meyakini nilai-nilai etis manusia yaitu kebebasannya, universal serta individu social dan alami. Ia dalam tulisan ini hendak mengembalikan manusia kepada kodratnya. 2) The Holy Family (sindirin kepada kakak-beradik bauer bekas temannya di Klub Doktor) dimana dalam tulisn ini ia menyatakan keluar dari kelompok Hegelian-muda itu, karena mereka hanya teoritis-idealis-religius. Karena mereka mencari akar keterasingan manusia pada "cara berfikir", bukan dalam susunan system produksi yang keliru. 3) pada tahun 1846 bersama Eangels ia menulis The German Ideologi. Dalam buku ini ia berbeda dengan Faeuerbach. Ia meninggalkan bicara humanisme dan mulai menegaskan sosialisme (penghapusan hak milik pribadi) bukan sekedar tuntutan etis tetapi keniscayaan objektif. Ia mengklaim menemukan hukum yang mengatur perkembangan masyarakat dan sejarah yaitu hukum prioritas ekonomi. Marx menyebutnya "pandangan sejarah yang materialistic". Sosialisme ilmiah artinya sosialisme yang tidak berdasarkan anggapan dan tuntutan belaka, melainkan berdasarkan analisis ilmiah terhadap hukum perkemangan masyarakat. Premisnya adalah;

"bidang ekonomi menentukan bidang politik dan pemikiran manusia, bahwa bidang ekonomi ditentukan oleh pertentangan antar kelas-kelas pekerja dan kelas-kelas pemilik, bahwa pertentangan itu dipertajam oleh kemajuan tehnik produksi, dan bahwa pertentangan itu akhirnya meledak dalam sebuah revolusi yang mengubah struktur kekuasaan dibidang ekonomi serta mengubah struktur kenegaraan dan gaya manusia berfikir".[2]

Dalam buku ini (The German Ideologi) memuat rumusan pertama "Materialisme Historis" pandangan inti Marxisme. Pada tahun 1845 marx terpaksa meninggalkan Paris. Di Brussel ia bersama Eangels masih sempat menulis buku yang paling terkenal manifesto Komunis. Di London ia mulai lebih banyak berfikir daripada revolusi/aksi. ia lebih kosentrasi kebidang ekonomi, untuk membuktikan klaim premisnya. Dimana ia menyatakan perkembangan masyarakat ditentukan oleh perkembangan dalam bidang ekonomi. Pada tahun 1938 di Moskow terbit buku stebal 1000 halaman denngan judul Grundrisse (Fundations of The Critique of Political Economy). Yang sebelumnya tidak diketahui. Disini dibahas otomatisasi yang bertentangan dengan ide marx sendiri tentang "teori nilai lebih", yang kemudian tidak muncul lagi. Tahun 1859 terbit buku A Contribution of the Critique of Political Economy (memuat rumusan paling ringkas dan jelas tentang pandangan materialis sejarah).

Akhirnya pada tahun 1867 keluar buku Marx untuk memberikan pembuktian kebenaran ramalannya tentang kehancuran Kapitalisme dan keniscayaan Sosialisme yaitu Das Kapital, yang buku kedua dan ketiganya diterbitkan oleh Eangels setelah Marx meninggal dunia. Bebarapa buku cacatan pinggir marx diterbitkan oleh Karl Kautsky dengan judul "Teori-teori tentang Nilai lebih".

Pengetahuan Absolut Hegel

Bagi Hegel mengetahui adalah proses dimana objek yang diketahui dan subjek yang mengetahui saling mengembangkan, sehingga tidak pernah sama atau selesai. Pengetahuan saya hari ini mengfalsifikasi pengetahuan saya kemarin juga pengetahuan besok dst. Dalam proses tu saya sendiri senantiasa menjadi orang baru, karena dengan perubahan pengertian, kedudukan dan tanggung jawab, saya pun berubah. Pengetahuan adalah going proses, dimana yang diketahui dan aku yang mengetahui terus berkembang. Tahap yang sudah dicapai disangkal atau negasi oleh tahap baru, bukan karena salah atau tidak berlaku lagi, tetapi karena terbatas. Jadi tahap lama tidak benar karena terbatas, dan dengan demikian jangan dianggap kebenaran. Tetapi yang benar dalam penyangkalan dipertahankan itulah inti Dialektiak Hegel yang merupakan wujud pengetahuan manusia.

Contoh ; kata "pulau". Pulau itu sebenarnya "tanah" (tesis). Tetapi itu tidak betul. Karena India itu tanah tapi bukan pulau. Pulau itu bukan tanah tetapi air (antitesis). Karena tak ada pulau tampa air. Tetapi pernyataan itupun tidak benar (antitesi-antitsis): pulau itu bukan air, melainkan tanah yang dikelilingi oleh air (sintesis). "Kebenaran" pulau hanya dapat dicapai oleh dua negasi dalam hal ini.

Dalam bukunya Phenomenologi of Mind, Hegel mengatakan; Pengetahuan absolute terjadi bila semua realitas sudah total lengkap karena filosof atau seseorang sudah menemukan seluruh realitas, final. Karena tidak ada yang asing sama-sekali bagiku. Dengan itu maka pengetahuan disebut absolute. Bagi Hegel filsafat yang sampai pada pengetahuan absolute itu bahkan mengatasi agama. Bagi Hegel Roh Semesta sendiri merupakan proses yang menemukan diri melalui liku-liku perkembangan kesadaran diri dan kemajuan pengetahuan yang akhirnya menyatu dalam pengetahuan absolute. Menurut Hegel agama adalah pengetahuan absolute dalam bentuk simbolis. Sedangkan filsafat dalam kenyataannya karena sadar akan dirinya sendiri. Bukan karena sudah tahu semua, tetapi semuanya dapat dimengerti, semuanya dipahami sebagai sudah semestinya. Dengan memahami segalanya, rasa kaget, kecewa, frustasi hilang. Semuanya menjadi bening, bukan karena menguap semacam penglaman mistik, melainkan seluruh pluralitas tetap ada tetapi dipahami sebagai tahap-tahap dialektis dalam perkembangan Roh Semesta (Akal-Umum atau Allah) yang dalam kesadaran sang filosof menemukan diri.

Segi yang dikritik Marx (saya sendiri sepakat: Muhammad Alwi) adalah; memahami dalam pengetahuan absolute itu sekaligus berarti memperdamaikan dan memaafkan. Karena bagaimana saya harus marah bila itu yang mesti terjadi karena merupakan dialektika perjalanan Roh. Ini juga sasaran kritik keras dari Soren Kierkegaard (tokoh filsafat Eksistensialis).

Filsafat Sejarah

Hegel memahami sejarah sebagai gerak kearah rasionalitas dan kebebasan yang semakin besar. Roh Semesta berada dibelakang sejarah, ia mendapat objektifitasnya didalamnya. Roh Objektif mengungkapkan dirinya dalam kebudayaan-kebudayaan, moralitas-moralitas dalam institusi-institusi. Roh objektif mendapat ungkapan paling kuat dalam Negara. Dengan demikian Negara mengungkapkan Roh Semesta; ia merupakan "perjalanan Allah dalam dunia".[3]

Kebebasan manusia berkembang dalam dialektika tiga langkah; dalam gereja katolik (kebebasan baru hanya dalam pewartaan), sedangkan kenyataannya yang bebas hanya para klerus (para hierarki, ulama-ulamanya), yang kemudian "disangkal" oleh Protestantisme dengan prinsip bahwa setiap orang bebas mengikuti suara hati ( dalam Protestan hanya terbatas pada pembacaan al-Kitab, awalnya tidak boleh). Kemudian oleh Aufklarung diakui kebebasan untuk menganut agama yang diyakini, dan akhirnya pada Kant dijadikan prinsip universal hak dan kewajiban setiap orang untuk mengikuti suara hari. Akhirnya dalam revolusi Prancis, sebagai langkah dialektika baru, kebebasan tercetus dari batin orang (terbatas pada hak untuk, secara pribadi mengikuti suara hati) menjadi struktur hukum dan Negara yang memproklamasikan republic dan mengakui hak-hak asasi manusia. [4]

Negara modern merupakan pengejewantahan rasionalitas dan kebebasan (pengakuan hak-hak asasi manusia). ia (hegel) tidak sepakat dengan orang yang masih menggunakan suara-hati, untuk menolak undang-undang. Menurut Hegel suara hati yang wajar akan menemukan dalam struktur-struktur Negara modern pola-pola kehidupan yang justru menunjang kebebasan. Karena itu katanya kita tak perlu mempertentangkan antara suara hati dan kewajiban-kewajiban objektif dalam Negara modern.[5]

Filsafat menjadi Praktis

Setelah pemikiran Hegel diatas, seakan sudah selesailah tahap pemikiran. Karena semuanya sudah dipahami dalam prosesnya, lewat dialektika. Tetapi kenyataannya dunia tidak seperti dalam kerangka teori itu. Dunia kelihatannya sama sekali tidak filosofis. Lalu apa hubungan Negara rasional Hegel dengan realitas? Disinilah kata Marx sudah saatnya filsafat menjadi praktis. Kata Marx filsafat Hegel belum absolute karena hanya absolute diteoritis. Hanya ada kebebasan dalam kerangka teoritis. Filsafat sudah absolute bila realitas sendiri sudah menjadi kerajaan kebebasan.

Oleh karena itu sang filosof harus menjadi Prometheus (dalam mitologi Yunani), Yang mengambil/mencuri api (lambang ilmu, kesadaran dan kebebasan) dari Olympos para dewa dan melemparkan kepada umat manusia. Sehingga filsafat Hegel betul dalam level pendidikan di kelas/sekolah, tetapi itu harus dilengkapi menjadi praktis dalam kehidupan nyata/social. Kata Marx; "Para filosof hanya memberikan interpretasi yang berbeda kepada dunia. Yang perlu ialah mengubahnya".

Kritik Agama Feuerbach

Marx dan Eangels sangat terpengaruh dengan feuerbach disamping Hegel. Feuerbach juga awalnya pengikut Hegel tetapi akhirnya ia banyak betentangan dengannya. Menurut Hegel, dalam kesadaran manusia, Allah mengungkapkan diri. Kita merasa berfikir dan bertindak menurut kehendak atau selera kita, tetapi dibelakangnya "roh semesta" mencapai tujuannya. Melalui keputusan-keputusan bebas dan sadar kita, roh semesta mencapai tujuannya, sebenarnya kita ini wayang dan dalangnya adalah roh semesta. Para pelaku manusia tidak sadar bahwa mereka didalangi olehnya. [6]

Kata Feuerbach, Hegel itu memutarbalikkan fakta. Sebab seakan menurut Hegel yang nyata itu Roh Semesta/allah, sedangkan manusia itu wayang. Padahal sebaliknya. Yang nyata dan tidak terbantahkan adalah keberadaan manusia sedangkan roh semesta hanya berada sebagai objek dalam pikiran manusia. Walau Hegel mengatakan ia telah "mengangkat" agama kedalam "rasionalitas filsafat, tetapi menurut Feuerbach justru sebaliknya, dengan ini maka Allah adalah yang pertama, sedangkan manusia adalah yang kedua. Maka kata Feuerbach filsafat Hegel adalah agama yang terselubung. Feurbach mengkritik Hegel dengan pengandaian (yang tak perlu dibuktikan) bahwa yang indrawi lebih pasti dibanding yang spekulatif. Dan titik tolak filsafat seharusnya adalah dari pengalaman langsung yang indrawi.

Bagi Feuerbach tuhan itu tidak nyata, hanya ada diangan-angan manusia atau proyeksi pikiran manusia. tetapi kemudian manusia lupa bahwa itu ciptaannya dan disembah. Ini mirip dengan kritik nabi agama-agama pada orang musyrik. Mereka membuat patung lalu mereka lupa bahwa merekalah yang membuta kemudian patung-patung itu disembah. Manusia lalu hormat, takut pada tuhan, padahal ia adalah ciptaannya. Agama adalah manifestasi pengungkapkan keterasingan manusia dari dirinya sendiri.

Agama … adalah kelakuan manusia terhadap dirinya sendiri atau lebih tepat terhadap hakekatnya sendiri, tetapi perlakuan itu seperti terhadap mahluk lain. Hakekat ilahi tidak lain adalah hakekat manusia yang dipisahkan dari batas-batas manusia individual, diobjekkan … karena itu semua cirri hakekat ilahi adalah cirri hakekat manusia[7]

Karena manusia harus mengobjektifasi dirinya sendiri agar mampu merealisasikan dirinya, seperti seorang seniman ia harus memproyeksikan bakatnya agar tahu bahwa ia seniman. Dalam pikiran (kata Hegel) atau dalam pekerjaan (Kata Marx) manusia harus membayangkan atau merepresentasikan dirinya, dan ia pun dapat melihat dirinya, mengenal dirinya dan menemukan identitasnya. Menurut Feuerbach, itulah yang terjadi dalam agama. Dalam agama ada nilai positifnya karena dengan itu manusia tahu siapa dia. Bahwa dia bebas, dia berkuasa, kreatif, baik dll. Tetapi celakanya ia lupa bahwa itu adalah proyeksi dirinya, sehingga menganggapnya sebagai realitas yang mandiri. Mengingat proyeksi itu melukiskan hakekat manusia secara sempurna, dapat dimengerti bahwa manusia lalu takut dan menyembah realitas agama yang sebenarnya tidak real itu (seperti orang takut dengan sesuatu yang gagah, besar dll, padahal itu adalah "cermin" dirinya sendiri). Dengan itu manusia tidak berusaha menjadi dirinya sendiri, merealisasikan hakekatnya, malah secara pasif mengharapkan berkah darinya. Dengan demikian agama mengasingkan manusia dari dirinya sendiri. Dengan agama apa yang sebenarnya merupakan potensi yang perlu direalisasikan manusia justru hilang, karena manusia tidak mengusahakannya, melainkan mengharapkan datang "dari sana".[8] Dengan ini manusia tidak berusaha merealisasikan diri tapi menganggap/berharap itu akan diperolehnya di surga. Oleh karena itu untuk mengakhiri keterasingannya dan menjadi dirinya sendiri manusia harus meniadakan agama. Teologi harus menjadi antropologi.

Kritik Marx terhadap Kritik Agama Feuerbach

Ada dua problem dalam filsafat hegel kata Marx yaitu, ia menganggap subjek menjadi objek, demikian sebaliknya. Yang rasional dan nyata itu dalam pikiran sedangkan kenyataan dunia tidak rasional dan mestinya lebih nyata. Roh semesta yang subjek/nyata, padahal manusia yang memikirkannyalah yang nyata dan subjek bukan objek. Demikian juga dalam Negara, Hegel disatu sisi mengatakan dan menjunjung tinggi cita-cita revolusi Prancis, tetapi dalam sisi lain ia menginginkan otoritarianisme Negara. Dimana undang-undang adalah representasi roh Absolut, yang nyata, yang harus ditaati. Sedangkan suara hati, manusia, subjek yang memikirkan dan bertindak diharuskan mengikuti dengan "apapun" undang-undang itu, sebagai objek.

Menggarisbawahi Feuerbach, Marx menuliskan; "manusia yang membuat agama, bukan agama yang membuat manusia". Agama adalah perealisasian hakekat manusia dalam angan-angan saja, jadi tanda bahwa mansuia justru belum berhasil merealisasikan hakekatnya. Agama adalah tanda keterasingan manusia dari dirinya sendiri. "[9] tetapi kata marx, mengapa Feuerbach tidak bertanya kenapa manusia sampai mengasingkan dirinya kedalam agama? Sekalipun kata Marx, Feuerbach tidak buta terhadap itu, sebab dia pernah mengatakan; "Penderitaan manusia adalah tempat kelahiran Allah”[10] Mengapa Feuerbach tidak bertanya kata Marx, "Mengapa manusia itu tidak merealisasikan dirinya, hanya merealisasikan secara semu dalam khayalan agama?". Ini kata Marx karena Feuerbach hanya membicarakan Manusia (abstrak), padahal yang ada (kongkret) adalah Fulan dan fulanah. Si A dan Si B.

Karena masyarakat, dunia, dan lingkungan itu mengasingkan manusia, membelenggunya, maka mereka (manusia) itu merealisasikan dirinya lewat angan-angan Surga, Agama. Karena dunia kongkret tak mengizinkannya. Kata Marx;

"agama hanyalah tanda keterasingan manusia tetapi bukan dasarnya. Ketrasingan manusia dalam agama adalah ungkapan keterasingan yang lebih mendalam. Agama hanyalah sebuah pelarian karena realisasi memaksa manusia untuk melarikan diri. "Agama adalah realisasi hakekat manusia dalam angan-angan karena hakekat manusia tidak punya realitas yang sungguh-sungguh"[11] . jadi, "Agama adalah sekaligus ungkapan penderitaan yang sungguh-sungguh dan protes terhadap penderitaan yang sungguh-sungguh. Agama adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tampa hati, sebagaimana ia adalah suatu roh zaman yang tampa roh. Ia adalah candu masyarakat"[12] (FM. Suseno, hal 73). Tetapi yang perlu dikritik bukan agama, kata Marx, tetapi apa yang melahirkan agama itu, yaitu masyarakat. "Kritik agama sekarang harus menjadi kritik masyarakat". "Kritik surga berubah menjadi kritik dunia, kritik agama menjadi kritik hukum, kritik teologi menjadi kritik politik"[13]

Problem paradigma Karl Marx

Dalam membuat analisa antara agama dan masyarakat, antara sebab, "basis" dasar dan yang dipengaruhinya (supra, atas), Marx punya problem yaitu; 1) Dalam cara berfikir Marx, sebab dan akibat diandaikan linier. Sebab menghasilkan akibat. Masyarakat yang mempengaruhi, bahkan membentuk realitas agama. tidak sebaliknya. Padahal sangat mungkin saling mempengaruhi. 2) Manusia diandaikan adalah hasil total pengaruh dari lingkungannya. Dengan ini maka Marx percaya ketidak bebasan manusia, sehingga manusia itu determinisme lingkungannya. Dan lingkungan adalah perkembangan ekonomi.

Keterasingan Manusia dalam Negara

Marx selalu bertanya; unsur apa dalam masyarakat yang mencegah manusia merealisasikan hakekatnya? Untuk menjawab ini Marx lari ke Feuerbach. Dengan analisanya yang mengatakan agamalah yang membuat itu, sebab agama yang mengganti cinta kasih sesama menjadi cinta kasih ilahi. Unsur-unsur egoisme selalu menjadi ciri agama. Maka agama perlu dibongkar. Tetapi kata Marx, membongkar agama tidak akan menumbangkan egoisme, tidak akan mengembalikan hakekat soisal manusia. kita tidak mesti melihat ke agama sebagai problemnya, sebab agama kata Marx hanyalah sekedar tanda atau ungkapan keterasingan manusia dari hakekatnya yang social. Kita mesti temukan penyebabnya itu dalam struktur masyarakat sendiri. Pertanyaan selanjutnya; struktur masyarakat mana yang tidak mengizinkan manusia bersikap social? Marx menemukan jawaban ini di Hegel, yang mengatakan Masyarakat modernlah yang menyebabkannya. Sebab ciri masyarakat modern adalah keterpisahan civil society dengan Negara. Masyarakat (yang awalnya sosial, karena keterasingannya di masyarakat modern) pada dasarnya egoisme, self interst[14] (mereka bersekolah, bekerja, rekreasi, guru dll, bukan karena membutuhkan satu sama lain, melainkan itu karena kebutuhan individu masing-masing dan fungsi-fungsi mereka). Maka manusia tidak akan bersatu dan bertahan dengan itu (sifat egosimenya), maka diciptakanlah Negara dan undang-undang. Masyarakat memerlukan kekuatan untuk mengatasi egoisme, kekuatan itu adalah Negara.

Bagi Marx, adanya Negara membuktikan bahwa manusia terasing dari kesosialannya karena andaikata manusia itu sasial dengan sendirinya (yang merupakan sifat aslinya), tidak perlu adanya Negara yang memaksanya agar mau bersifat social. Jadi keterasingan dasar manusia adalah keterasingannya dari sifatnya yang social, sehingga ia terpaksa harus dipaksa bersosial oleh Negara, kalau tidak, akan dipaksa dengan hukuman. Bukan emansipasi politik yang perlu tetapi emansipasi manusia. Marx mengatakan; Kritik agama berakhir dengan ajaran bahwa manusia adalah makhluk tertinggi bagi manusia, jadi dengan imperative kategoris ini untuk menumbangkan segala hubungan dimana manusia adalah mahluk yang hina, diperbudak, terlupakan dan terhina[15]

Marx dari awal percaya bahwa Negara tidak perlu ada jika mereka sudah bersifat social, inilah cita-cita Negara komunis (Negara tampa Negara). Sebab dengan ini maka manusia akan bersifat social secara otomatis.

Filosof, Proletariat, dan Revolusi

Bagaimana melaksanakan emansipasi ini? Sebab agama dapat dibongkar dengan kritik teoritis, tetapi kritik itu tidak membongkar keterasingan yang berakar pada struktur masyarakat, maka disini kata marx harus dilakukan dengan Revolusi yang sesunguhnya.

Bagimana revolusi itu terjadi? Revolusi akan terjadi bila rakyar butuh dan kritik sang filsuf akan terbuka (diterima). Tetapi bagaimana rakyat merindukan revoluis? Kalau rakyat betul-betul tertindas, dia tentu ingin berevolusi, jika belum membutuhkan maka kondisinya berarti belum matang. Revoluis yang diinginkan Marx bukan revolusi semacam Prancis, walau itu membebaskan , tetapi hany pergantian kekuasaan. Tetapi revolusi (yang diinginkan Marx) adalah revolusi yang melahirkan masyarakat tampa kelas yang berkuasa. Tetapi apa syarat-syarat supaya revolusi semacam itu terjadi?

Ini akan terjadi bila yang melakukan revolusi adalah benar-benar masyarakat "tak berkelas", artinya benar-benar tertindas. Sebab ada masyarakat terindas tetapi hanya sebagiannya saja. Sedangkan sebagaian lain dalam dirinya masih memiliki kelas. Tetapi bila manusia itu benar-benar "tak punya kelas" [16](tertindas dengan semua hal) dan mereka melakukan revolusi, maka mereka akan mengadakan pembubaran masyarakat sebagai golongan tersendiri. Inilah yang dikatakan oleh Marx dengan Ploretariat. Dan Marx berkeinginan nantinya, ada kerjasama antara filosof dan ploretariat. Filosof menemukan senjata materialnya, dan kaum ploretariat menemukan senjata rohaninya.[17]

Kerja dasar Hakekat realisasi diri ‘Manusia’ menurut Marx

Disini marx menganalisa bahwa penyebab dari keterasingan manusia adalah kerena pekerjaan dalam masyarakat kapitalis. Semestinya Pekerjaan: adalah sarana manusia untuk menciptakan diri sendiri. Pekerjaan adalah tindakan manusia yang paling dasar, dalam pekerjaanlah manusia menjadi nyata. Ini diperoleh marx dari Hegel, sehingga keterasingan yang paling dasar adalah keterasingan manusia dalam pekerjaannya.

Menurut marx, pekerjaan adalah kegiatan khas manusia. Yang membedakan manusia dengan binatang adalah karena dia bekerja. Dengan pekerjaannya manusia merealisasikan diri. Manusia harus mengubah lingkungannya/alam karena tubuh yang dimilikinya tidak serta merta sesuai dengan alam (lain dengan binatang). Untuk mengubahnya manusia harus bekerja. Binatang membuat atau mereproduksi apa yang dia butuhkan, manusia tidak hanya yang dia butuhkan, tetapi bisa untuk dijual lagi, dinikmati keindahannya, bahkan terkadang hanya bangga dengan pekerjaannya. Manusia bekerja dengan bebas dan universal. Manusia dapat membuat rumah dengan bebaragai macam bahan. Dengan bahan yang sama manusia dapat menggunakan untuk beraneka ragam keperluan dst. Bekerja menunjukkan hakekatnya.

Pekerjaan sebagai objektivasi manusia, dengan mengukir manusia mulai mengobjektifkan apa yang dipikirkan, ia mulai tahu bahwa ia mampu, bukan hayal seperti sebelumnya dst. Sekarang setelah jadi ukirannya ia mempunyai kepastian tentang dirinya sendiri. Dengan pekerjaan manusia mampu melihat dirinya dari pekerjaannya. Makna pekerjaan itu tercermin dari perasaan bangga. Dengan pekerjaan itu manusia membuktikan dirinya bahwa ia nyata tidak berhayal.

Pekerjaan dan sifat social manusia, Dengan bekerja manusia juga membuktikan bahwa ia mahluk social, karena manusia tidak akan mampu mengerjakan apa yang dibutuhkannya semua. Dengan pekerjaan kita orang lain akan senang dan kita akan bangga karena hasil kita dihargai dan kita diakui olehnya. Pekerjaan adalah jembatan antarmanusia. Manusia tampak bersifat social, dan hakekat itu terbukti dalam pekerjaan. Pekerjaan juga menjembatani manusia yang lampau dan sekarang lewat hasil karya mereka. Sejarah adalah hasil ciptaan manusia melalui pekerjaan manusia generasi kegenerasi.

Keterasingan dalam pekerjaan

Kalau bekerja adalah perealisasian diri, mestinya bekerja itu gembira. Tetapi dalam kenyataannya, yang terjadi sebaliknya. Kebanyakan kita stress dengan pekerjaan kita dan kita jadi diri kita sendiri setelah lepas santai dari pekerjaan. Mengapa demikian? Kata Marx ini karena system kapitalime. Karena mereka bekerja hanya syarat untuk hidup, jadi akhirnya pekerjaan tidak mengembangkan diri tetapi mengasingkan diri manusia dari kemanusiaannya.

Terasing dari dirinya. Keterasingan dari dirinya sendiri punya tiga segi yaitu; 1) pekerja terasing dari produknya (hasil pekerjaan tidak menjadikan dia bangga, bukan miliknya tetapi milik majikannya, bahkan terkadang dengan spesialisasi ia tidak tahu mana hasil kerjanya). 2) karena hasil pekerjaannya terasing dari dirinya, tindakan bekerja sendiri akhirnya kehilangan arti bagi pekerja. Bukan menjadi pelaksanaan hakekatnya tetapi bekerja menjadi semacam paksaan. Tidak bekerja apa yang dinginkan oleh batinnya, tetapi apapun yang disodorkan oleh majikannya. Ia harus bekerja untuk mempertahankan kebutuhan hidupnya. 3) dengan memperalat pekerjaan, yang merupakakan alat realisasi diri, manusia memperalat dirinya. Dengan bekerja ia tidak mengembangkan dirinya malah memiskinkan dirinya. Dengan ini mereka justru menginginkan saat-saat senggang dan santai diluar pekerjaannya. Ini aneh sarana perealisasian diri sekarang mereka justru inginkeluar dari situ bila ingin memikirkkan dirinya atau menjadi dirinya, sebagai individu.

Terasing dari Orang lain, Dengan keterasingan pada dirinya, manusia terasing dari sesamanya. Manusia dengan system hak milik terbagi menjadi dua kepentingan yang berbeda yaitu "kelas pekerja" dan "kelas pemilik", dimana mereka punya kepentingan yang beda. "Kelas Pemilik" memiliki kepentingan mendapat untung besar dan mengurangi biaya (efisiensi), sedangkan "kelas pekerja", menginginkan upah tinggi dan jaminan pekerjaan. Kelas pekerja akan bersaing demi "kesempatan kerja", sedangkan kelas pemilik bersaing sesamanya demi "pasar". Masyarakat dengan berdasarkan pada hak milik pasti bersifat persaingan: keuntungan yang satu merupakan kerugian yang lain. Tanda keterasingan ini adalah kekuasaan uang. Kita bekerja bukan untuk kebutuhan kita tapi uang, semua dilihat dari harganya. Kita bisa memperoleh apapun asal punya uang dan sekalipun lapar tampa uang tidak bisa dapat makan. Bekerja dan bekerja bukan untuk apa-apa tetapi penumpukan modal. Disini kita terasing dari orang lain, egoisme. Saya akan memenuhi kebutuhan orang lain dengan syarat saya memperoleh keuntungan darinya. Sifat social dari manusia yang menupakan hakekatnya telah hilang. Marx dengan romantis menceritakan hubungan yang tak terasing adalah "cinta". Dimana perhitungan untung rugi dan pembalasan (aku memberi kamu, kamu beri apa), tidak ada. Saling membahagiakan.

Lalu bagaimana keterasingan-keterasingan itu dapat diatasi? Itu semua dapat dihilangkan apabila hak milik dapat dihapuskan.

Hak milik pribadi. Bagaimana keterasingan dapat diakhiri dan manusia menjadi utuh lagi? Keterasingan karena kerja yang tidak untuk merealisasikan diri (kerja upahan). Kerja ini diakibatkan oleh system milik pribadi (egoisme) yang mengakibatkan keterpecahan antara pemilik dan pekerja. Majikan juga mengalami keterasingan, karena ia tidak mampu mengembangkan dirinya (lewat kerja, sedangkan ia hidup dari penghisapan para buruh). Walau majikan mendapat madu dari keterasingan, sedangkan buruh hal pahitnya. Segala keterasingan manusia kata Marx adalah akibat dari system hak milik pribadi. Bukan keadaan politik, bukan agama yang menjadi sumber keterasingan dan egoisme manusia, melainkan penataan produksi menurut system hak milik pribadi.[18]

Mengapa proses produksi diorganisasikan dalam system hak milik pribadi? Mengapa pekerjaan dan pemilikan mesti dipisahkan? Kata marx ini adalah konsekuensi sadar dari keinginan lebih efisien yang mengharuskan spesialisasi. Secara "kodrati" manusia itu cenderung membagi-bagi orang menurut keahliannya. Marx membagi tahapan manusia menjadi 3 yaitu; 1) masyarakt purba sebelum pembagian kerja dimulai. 2) tahap pembagian kerja dan tahap hak milik pribadi sekaligus tahap keterasingan. 3) tahap kebebasan, yaitu apabila hak milik pribadi sudah dihapus. Tahap 2 sekalipun jelek mesti harus dilewati untuk menuju tahap 3. Dengan tahap tiga ini terjadilah Komunisme (milik bersama), manusia bebas dari keterasingan hakekatnya sendiri.

Problema dalam Usulan penyelesaian Marx

Marx punya pengandaian etis yaitu manusia pada dasarnya social dan bekerja untuk merealisasikan diri bukan untuk pengasingan dirinya. Tetapi kita bisa bertanya seperti Jurgen Haberhas, apakah hanya pekerjaan yang menjadi tindakan hakiki manusia? apakah hanya pekerjaan yang membedakan manusia dari binatang? Pekerjaan ini cocok bila dilihat hubungan antara Subjek (manusia) dan Objek (alam/produk), sedangkan hubungan atar manusia layakkah bila dilihat dengan model pekerjaan?

Bukankah hubungan antar manusia itu berkedudukan sederajat, yang modelnya lebih tepat adalah Komunikasi. Keterasingan dari pekerjaan ini khas untuk masalah pekerja upahan dalam industri modern, bukan secara umum. Yang mesti diperbaiki bukan system kerja upah atau pemilik modal dan pemilik alat-alat produksi. Mungkin yang lebih tepat adalah perbaikan syarat/sistem kerja upahan, meningkatkan keadilan. Dan yang jadi masalah adalah apakah pekerjaan itu mengembangkan/menyenangkan atau membelenggu. Ini sudah hampir diusahakan dinegara-negara maju (welfare state), seperti kenaikan gajih, jam kerja dikurangi, piliha pekerjaan, syarat-syarat kerja, suasana kerja dll.

Jadi hak milik pribadi = keterasingan, penghapusan hak milik pribadi = pengakhiran segala keterasingan adalah problematic. Sebab pekerjaan bukanlah satu-satunya hubungan hakiki manusia.

Strata sosial (Kelas dalam Masyarakat)

Kelas social tidak ditemukan dalam tuisan Marx tetapi dalam Lenis yang mengatakan; kelas social dianggap sebagai golongan social dalam sebuah tatanan masyarajat yang ditentukan oleh posisi tertentu dalam proses produksi. Walau tidak terlalu jelas (apakah intelektual, pegawai negeri, mahasiswa itu juga kelas tertentu?). Tetapi Marx mengatakan; sebuah Kelas baru dianggap kelas dalam arti sebenarnya apabila dia bukan hanya "secara objektif" merupakan golongan social dengan kepentingan tersendiri, melainkan juga "secara subjektif" menyadari diri sebagai kelas, sebagai golongan khusus dalam masyarakat yang mempunyai kepentingan-kepentingan spesifik serta mau memperjuangkannya.

Dalam setiap masyarakat akan ditemukan kelas penguasa dan kelas yang dikuasai. Menurut marx masyarakat saat itu terdiri dari tiga kelompok yaitu kaum buruh (mereka yang hidup dari upah), kaum pemilik modal (hidup dari laba) dan para tuan tanah (yang hidup dari rente tanah). Tetapi akhirnya tuan tanah dan pemilik modal menjadi satu berhadap-hadapan dengan para buruh.

Keterasingan karena para buruh tidak punya modal atau tanah, sehingga ia harus bekerja untuk orang lain demi mendapatkan upah, disinilah awal keterasingan (bekerja bukan untuk diri sendiri, pengembangan perealisasian diri, tetapi sekedar upah). Sebenarnya ada saling ketergantungan, tetapi ketergantungan itu tidak seimbang. Buruh akan mati atau kelaparan bila tidak kerja, pabrik akan tutup bila tidak ada yang bekerja (tetapi yang terakhir masih dapat bertahan dan butuh waktu lama). Para majikan lebih kuat dan penentu syarat kerja, bukan sebaliknya atau setara.

Ketidak seimbangan ini makin menjadi-jadi, para pemilik modal hidup tampa kerja, dan buruh diwajibkan kerja melebihi waktu yang diperlukan, sisa waktu diambil sebagi keuntungan majikan. (disinilah perlunya UMR dst, standart gaji per bidang usaha/jam). Maka akhirnya pola hubungan kerja adalah pola penghisapan/eksploitasi. Pekerjaan dimana seorang menjual tenaga kerjanya demi memperoleh upah, itu merupakan ciri pekerjaan kaum tertindas.

Perilaku tiap-tiap kelas ditentukan sesuai dengan kelasnya. Setiap kelas social bertindak sesuai dengan kepentingannya dan kepentingannya ditentukan oleh situasi yang objektif (Marx: system produksi yang melingkupinya). Para kelas majikan mengusahakan keuntungan sebesar-besarnya, bukan karena dia rakus atau a-sosial, melainkan kalau tidak seperti itu ia kalah bersaing (apalagi diera globalisasi, kebebasan perdagangan). Sekalipun majikan dan buruh sama-sama baikpun akan bertentangan karena kepentingannya berbeda. Hubungan kerja dalam system kapitalis menurut Marx tidak stabil.

Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan lebih lanjut dalam konsep sistem kelas ini dalam konsep Marx, yaitu; 1) peranan structural sangat besar dibandingkan dengan segi kesadaran dan moral. Karena struktur masyarakat (struktur ekonomi) seperti itu, maka himbauan moral, kesadaran tidak ada artinya dan tidak mempan. Yang harus dirubah struktur ekonomi masyarakat sehingga kesadaran akan berubah dengan sendirinya.. 2) karena kepentingan kelas pemilik dan kelas buruh secara objektif bertentangan, mereka akan mengambil sikap yang bertentangan. Buruh akan revolusioner/progresif, cenderung ingin perubahan dan pemilik modal akan konservatif cenderung mempertahankan/status quo. 3) disinilah akhirnya kata Marx, tidak ada jalan lain kecuali revolusi, pendamaian antar kelas itu tidak akan mungkin, karena kepentingan serta kebutuhannya berbeda. Usaha pendamaian dua kelas ini hanya mengerem revolusi sementara dan melanggengkan kekuasaan "pemilik".

Kelas pemilik (kelas atas), struktur kekuasaannya dalam bidang ekonomi tercerminkan selanjutnya dalam bidang politik. Negara secara hakiki merupakan Negara kelas, artinya Negara dikuasai secara langsung atau tidak langsung oleh kelas-kelas yang menguasai bidang ekonomi[19]. Jadi Negara tidak bertindak demi kepentingan umum, melainkan demi kepentingan kelas-kelas atas. Negara bukanlah sang wasit netral yang melerai perselisihan-perselisihan yang timbul dalam masyarakat secara adil serta mengusahakan kesejahteraan umum. Jadi Negara tidak netral, melainkan selalu berpihak. Seperti dikatakan Friedrich Eangels: "negara… bertujuan untuk mempertahankan syarat-syarat kehidupan dan kekuasaan kelas berkuasa terhadap kelas yang dikuasai secara paksa".[20]

Disinilah kita lihat bagaimana kebijakan Negara sering menguntungkan yang atas dan merugikan yang bawah. Yang kecil dihukum yang besar tidak. jadi Negara adalah musuh bukan kawan. Neraga memungkinkan kelas atas untuk memperjuangkan kepentingan khusus mereka dengan semboyan "sebagai kepentingan umum".

Mengajukan sebagai kepentingan umum yang sebenarnya kepentingan egoisme (kepentingan kelas tertentu) atau pihak yang berpamrih, pribadi/golongan itu yang dinamakan IDEOLOGI. Ideology adalah ajaran yang menjelaskan sutau keadaan terutama struktur kekuasaan, sedemikian rupa, sehingga seorang menganggapnya sah, padahal jelas tidak sah. Kritik ideology adalah sumbangan Marx terhadap analisa struktur kekuasaan dalam masyarakat. Marx mengatakan semua system besar yang memberikan orientasi kepada manusia bersifat ideology. Contohnya; agama. Ia adalah candu masyarakat, karena ia memberika kepuasan, tetapi kepuasan itu semu karena tidak mengubah situasi buruk si pecandu. Agama memberikan janji sorga di akhirat bagi yang sabar dan tabah, sehingga dengan ini orang enggan memperjuankan nasibnya dan menerima penindasan. Contoh lain sikap "kerukunan", sepi ing pamrih. Ini jelas akan membuat pekerja tidak boleh mogok, tidak boleh menonjol biarpun memang hebat dst.

Dalam hubungannya dengan sejarah, Marx mengatakan; Yang menentukan jalannya sejarah bukan individu-individu tertentu, melainkan kelas-kelas social yang masing-masing memperjuangkan kepentingan mereka. Kepentingan itu ditentukan secara objektif oleh kedudukan kelas masing-masing dalam proses produksi. Walau setiap orang memiliki sikap pribadi masing-masing, tetapi ada sikap kelompok yang ditentukan oleh kedudukan dalam proses produksinya.

Walau memang ada benarnya tetapi yang terkadang kelompok Marxisme paksakan adalah, mereka tidak menganalisa struktur masyarakat lalu menentukan kelas-kelas masyarakat yang ada, tetapi mereka selalu menganggap kelas langsung menjadi dua yaitu kapitalisme dan proletariat. Padahal tidak semestinya seperti itu.

Problema analisa kelas Marxisme

Memang analisa masyarakat tampa memperhatikan struktur kelas akan kurang bermanfaat. Meskipun demikian, analisa Marx ada beberapa catatan yaitu; 1) Apakah hanya klas-kelas sosio-ekonomi yang menyebabkan perubahan social? Apakah ide, sosio-religius tidak lebih berpengaruh dari itu? 2) Apakah peranan pemimpin yang kuat tidak sangat berpengaruh? Hitler, Napoleon, Imam Khomeini dll. 3) apakah pertentangan kelas atas dan bawah sedemikian tak terdamaikannya sehingga harus revolusi? Apakah tampa revolusi lewat perbaikan-perbaikan tertentu tak mungkin? Ternyata dalam Negara-negara kapitalis itu dapat diperdamaikan dengan kebijakan system upah, system kerja, serikat buruh, UU, Negara kesejahteraan (Welfare State). Dengan makin menguatnya buruh maka pemilik modal mengurangi eksploitasi tekanannya. 4) a) apakah benar bahwa kekuasaan selalu mencerminkan struktur kekuasaan ekonomis? b) apakah Negara mesti Negara kelas? Jadi apakah Negara mesti sekedar alat-alat dalam tangan-tangan kelas atas. Memang ini ada benarnya tetapi apakah ini keniscayaan? Apakah Negara demokrasi tidak akan mungkin (dimana ini semua kelas terwakili? Dan banyak kelas disana, sehingga bukan kelas tertentu).[21] 5) apakah benar agama, moralitas masyarakat, filsafat, nilai-nilai budaya dan sebagainya tidak lebih dari legitimasi idiologi struktur-struktur kekuasaan yang ada? Apakah nilai-nilai universal tertentu itu hanya isapan jempol belaka? Memang bahwa nilai-nilai universal, agama itu terkadang disalah gunakan sebagai ideology belaka, tetapi apakah semua itu selalu tidak lebih dari pada itu? Kelemahan teori Marx ia hanya melihat sasu sisi, walau dalam sisi tertentu ia "selalu" benar, tetapi kenyataan tidak hanya sisi itu saja. Sehingga kita bisa lihat bagaimana kokoh nilai-nilai tertentu, agama-agama tertentu dst.[22]

Materialilsme Sejarah

Masyarakat terpisah menjadi dua golongan karena usaha manusia untuk efisiensi, sehingga merupakan keniscayaan. Ada penghisap dan dihisap, karenanya manusia terasing dari dirinya, baik yang terhisap (karena ia bekerja upahan, bekerja bukan untuk merealisasi diri) juga yang menghisap (karena ia hidup tanpa kerja, padahal manusia memanusiakan dirinya dengan bekerja), hanya bedanya ada yang terasing manis dan pahit. Struktur-struktur kelas ini ditentukan oleh factor kekuasaan ekonomi/produksinya dan terlihat dalam level yang lebih atas terdapat pada struktur social-politik dan ideology.

Marx berpandangan bahwa sosialisme itu merupakan keniscayaan, dimana melihat syarat-syarat objektif perkembangan manusia maka pada akhirnya manusia menjadi sosialisme (masyarakat tanpa kelas), karena hilangnya hak milik pribadi. Engels menulis: (Marx menemukan) fakta sederhana, bahwa kita harus makan, berpakaian dll sebelum melakukan kegiatan berpolitik, ilmu pengetahuan, seni, agama dll. Dengan demikian tingkat perkembangan ekonomi menjadi dasar untuk bentuk bentuk diatasnya (politik, pengetahuan dst). [23]

1. Prinsip dasar: Keadaan dan Kesadaran

"bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan mereka, tetapi sebaliknya keadaan social merekalah yang menentukan kesadaran mereka".[24]Ada dua hal disini yaitu; 1) keadaan social manusia yang termasuk disitu produksinya, pekerjaannya. Manusia ditentukan oleh produksi mereka, baik apa yang mereka produksikan, maupun cara mereka berproduksi. Jadi individu-individu tergantung pada syarat-syarat material produksinya. Pandangan inilah yang sebut materialisme sejarah karena sejarah dianggap ditentukan oleh syarat-syarat produksi material. Cara manusia menghasilkan apa yang dibutuhkan untuk hidupnya itulah yang disebut keadaan manusia. "kesadaran (Bewubtsein) tidak mungkin lain dari yang disadari (das bewubte Sein), dan keadaan manusia adalah proses manusia yang sungguh-sungguh". Jadi untuk memahami sejarah dan arah perubahannya, kita tidak perlu memahami apa yang dipikirkan oleh manusia, melainkan bagaimana ia bekerja, bagaimana ia berproduksi.

Marx bertolak dari pengandaian manusia berfikir dan bertindak sesuai dengan kepentingannya[25], sedangkan kepentingannya itu tergantung kelasnya. Keanggotaan kelas tertentu sangat menentukan cara kita memandang dunia, apa yang kita harapkan dan kita khawatirkan, apa yang kita puji dan kita cela.[26]Cara berproduksi itu menentukan adanya kelas-kelas social; keanggotaan dalam kelas social menentukan kepentingan orang; dan kepentingan menentukan apa yang dicita-citakan, apa yang dianggap baik dan buruk.

2. Basis dan Bangunan Atas

Dalam buku Contribution to the Critique of Political Economic (1859) Marx menulis;

Dalam produksi social kehidupan mereka, manusia memasuki hubungan-hubungan tertentu yang mutlak dan tidak tergantung pada kemauan mereka; hubungan-hubungan ini sesuai dengan tingkat perkembangan tertentu tenaga-tenaga produksi materialnya. Jumlah seluruh hubungan-hubungan produksi ini merupakan struktur ekonomi masyarakat, dasar nyata dimana diatasnya timbul suatu bangunan atas yuridis dan politis dan dengannya bentuk-bentuk kesadaran social tertentu bersesuaian. Cara produksi kehidupan material mengkondisikan proses proses kehidupan social, politik, dan spiritual pada umumnya. Bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan mereka, tetapi sebaliknya, keadaan social merekalah yang menentukan kesadaran mereka"[27]

Dalam konsep Marx Basis menentukan bagian atas, dimana BASIS ini ditentukan oleh dua factor yaitu 1) Tenaga-tenaga produktif yang merupakan kekuatan-kekuatan yang dipakai oleh masyarakat untuk mengerjakan dan mengubah alam. Disini ada tiga unsure yaitu; alat-alat kerja, manusia dan kecakapan masing-masing, dan pengalaman-pengalaman dalam produksi (tehnologi) 2) Hubungan-hubungan Produksi yaitu hubungan kerjasama atau pembagian kerja antara manusia yang terlihat dalam proses kerja produksi. Disini yang dimaksudkan "hubungan" adalah struktur pengorganisasian social produksi (misalnya pemilik modal dan pekerja).[28]

BANGUNAN ATAS, ini terdiri dari 1) tatanan institusional yaitu segala macam lembaga yang mengatur kehidupan bersama masyarakat diluar bidang produksi, seperti organisasi sebuah pasar, system pendidikan, system kesehatan masyarakat, system lalu lintas juga terpenting system Negara dan hukum. 2) tatanan kesadaran kolektif yaitu memuat segala system kepercayaan, norma-norma dan nilai yang memberikan kerangka pengertian, makna, dan orientasi spiritual kepada usaha manusia. termasuk disini; pandangan dunia, agama, filsafat, moralitas masyarakat, nilai-nilai budaya, seni dst.

Apabila ingin mengadakan perubahan, maka hak milik harus dihancurkan, dimana itu menentukan "babis", sedangkan "basis" menentukan "bangunan atas". Jangan berharap (kata Marx) perubahan dilakukan dari "bangunan atas", sebab kelompok atas, tidak mungkin mengadakan perubahan radikal. Dengan struktur kekuasaan ekonomi atau "basis" dihancurkan, maka "atas", bentuk Negara dan lama-kelamaan, kepercayaan-kepercayaan, serta system nilai masyarakat mesti menjadi berubah (baru).

Problematika

Manusia ingin hidup menjadi lebih mudah, maka ia mengefisiensi alat-alat produksinya (ini harus). alat-lat yang berubah merubah hubungan-hubungan produksi. Hubungan-hubungan ini menjadikan kelas-kelas social yang oleh Marx dibedakan menjadi 2 (pemodal dan buruh). Makin efisien (alat, organisasi kerja dll untuk efisiensi, keuntungan dll) menjadikan hubungan itu makin berubah dan makin meruncing. Akhirnya merupakan keniscayaan, manusia hanya terpecah menjadi dua kelompok kapitalis dan Proletar. Lalu terjadilah revolusi dimana terbentuk Komunisme (masyarakat tampa kelas karena tampa hak milik pribadi). Inilah Materialesme Sejara atau Determinisme Sejarah Marx, semuanya keniscayaan.

Tetapi pertanyaan yang sering diajukan; 1) tidakkah pengaruh itu bisa timaal balik. "Bawah" mempengaruhi "atas" memang sangat betul. Tetapi tidak bisakah "atas" mempengaruhi "bawah"? 2) pembagian kelompok "atas" dibagi menjadi susunan institusional ("bangunan atas politis"), kepercayaan dan nilai-nilai ("bangunan atas ideologis"). Tetapi mengapa kelompok 'bawah" hanya produksi, tidakkah juga ada komunikasi.[29] 3) pendasaran basis "hanya" produksi jelas sangat meragukan. Yang lebih pas adalah timbal-balik. Mengenai yang mana yang primer dan sekunder bukan ditentukan secara apriori (justru tidak ilmiah), mestinya harus ditemukan secara aposteori terhadap proses sejarah yang sedang berjalan. Mengetahui factor mana yang menentukan sejarah, adalah pekerjaan aposteori. Maka sejarah tidak dapat diperhitungkan dan adalah tidak masuk akal untuk membicarakan tentang suatu tujuan objektif sejarah.[30]Sejarah tetap terbuka.

4) dalam banyak Negara, politik justru sangat menentukan dibanding dengan alat-alat produksi, bahkan mereka mendiktekannya. 5) kita akan sangat sulit untuk menentukan secara terinci bagaimana persisnya cara produksi material akan mendeterminasi pikiran manusia. pikiran individual seorang manusia jelas tidak langsung terdeterminasi oleh kepentingan kelasnya. Kalau pikiran individu tak dapat terdeterminasi bagaimana pikiran kolektif dapat?[31] 6) apakah harus revolusi, bukankah bisa saling melunak dengan keuntungan masing-masing. Kita lihat ini dinegara-negara welfare state.

Kapitalisme dan Sosialisme

Sejarah manusia kata Marx, mengharuskan perjalanannya dari kapitalisme ke sosialisme. Karena secara naluri, manusia ingin mempertahankan diri, maka dengan konsep kepemilikian, orang akan melakukan efisiensi, persaingan bebas dst. Sehingga yang kuat menang yang kalah (miskin). Terpecahlah manusia menjadi dua kelompok Pemilik dan buruh, borguis dan proletar. Karena kepentingan (ditentukan oleh kelas), maka kepentingan keduanya berbeda dan makin lama makin menganga, akhirnya kaum proletar melakukan revolusi, membentuk komunisme.

1. Kapitalisme

Dalam Manifesto Komunis, Marx memuji Borguis karena keberhasilan-keberhasilannya mengembangkan industri, perdagangan, pasar dll (Marx hal 467, FMS hal 162). Marx juga melihat borguis lebih jujur dari pada feodalis, walau dalam feodalisme nilai-nilai, norma, penghormatan dll lebih suci. Tetapi itu semua menjadikan kelas-kelas yang tak rasional dan terselum oleh kemunafikan dan ideologis. Borguis membongkar itu menjadi lebih nyata, nilai-nilai, norma dan sakralias-sakralis dibuang, sekarang yang ada hanya persaingan, efisiensi dst. Penghisapan yang awalnya malu-malu dengan selubung kesucian sekarang dibuka dengan jelas, kering dengan dalil persaingan dan efisiensi.

Kekhasan system ekonomi kapitalis adalah ia memakai Hukum-ekonomi pasar. Dari segi output system produksinya adalah Nilai Tukar bukan nilai pakai. Artinya orang membeli barang karena ingin ditukarkan dengan yang lain dengan mendapatkan untung. Jadi tujuannya ‘uang’ bukan barang yang diproduksinya. Makin besar untung makin baik.

Pembentukan Kelas Proletar

Karena persaingan sebagai asusmsi (dalam kapitalis), maka bentuk usaha yang diarahkan ‘secara tidak murni’ untuk keuntungan akan kalah. Yang paling efisien hidup, lainnya akan mati. Hanya ‘perusahaan’ yang besarlah yang akan bertahan dan yang kecil mati, sehingga kelompok-kelompok tengah, karena ketatnya persaingan akan hancur merosot menjadi kelas bawah, dan masyarakat akan menjadi dua kutub, dua bagian (Kapitalis dan Proletar). Kaum buruh makin tertekan, dan makin sadar akhirnya mereka mengorganisasikan diri dalam serikat-serikat kerja. Sehingga dengan ini mereka makin sadar dan tidak menawarkan diri dengan upah minim, dan akhirnya perjuangan mereka tidak hanya untuk menaikkan upah tetapi menghapus kepemilikan pribadi (kapitalisme).

Jadi dengan perkembangan industri besar, kata Marx dalam Manifesto of the Communist Party; ‘dari bawah kaki mereka berproduksi, borgjuasi memproduksikan penggali kuburnya sendiri’.

Setelah masyarakat hanya tinggal 2 kelompok, terjadilah revolusi. Tetapi kata Marx; ada beberapa syarat untuk revolusi itu; a) keadaan sedemikian menghisap sehingga sangat tek tertahankan, b) kapitalisme berhasil menciptakan kekayaan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan segenap orang. c) revolusi harus merupakan peristiwa global. d) tenaga-tenaga produktif harus telah berkembang secara universal dan menguasai perekonomian diseluruh bumi. e) proletariat harus mengembangkan "kemampuan universal' sehingga pembagian kerja tidak perlu lagi, f) dalam revolusi kesadaran proletariat harus terbentuk[32] Proletariat merebut kekuasaan negara dan mendirikan "kediktatoran proletariat". Dimana disini proletariat menggunakan kekuasaan Negara untuk menindas kaum kapitalis (supaya mereka tidak mampu menggagalkan revolusi). Setelah kapitalis sudah hancur, otomatis tidak ada kelas lagi.[33]dengan demikian "produksi sudah terpusat ditangan individu-individu yang berasosiasi, maka kekuasaan umum kehilangan sifat politisnya. Nagara lama-kelamaan menghilang. Karena kepemilikan sudah tidak ada, apa-apa sudah dalam asosiasi. Inilah cita-cita sosialisme dengan Negara ideal mereka Komunisme (Negara hilang, kelas hiang, hak milik hilang, keterasingan/belenggu hilang).

Masyarakat Komunis masa depan

Marx mengatakan nasionalisasi itu awal revolusi sosialisme (tidak seperti Lenin, soviet/Cina), setelah sisia kapitalis hilang, negara hilang, nasionalisasi hilang dan diurus oleh asosiasi-asosiasi ditempat itu. Ciri inti masyarakat komunis dalah: penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi, penghapusan kelas-kelas social, hilangnya Negara, penghapusan pembagian kerja.[34]

Ajaran Marx ini waktu akan diterapkan banyak kerepotan, sehingga di Negara Soviet menafsirkan perbedaan antara Komunisme dan sosialis. Awalnya sosialis lalu cita-cita akhirnya ke Komunis (marx tidak membedakan ini), dengan 4 langkah; 1) Revolusi sosialis, 2) pembangunan sosialisme dimana sudah tidak ada lagi kecuali proletariat dan ideology marxisme-leninisme. 3) Sosialisme (Negara masih ada dan mengorganisasikan atas nama proletariat). Ini mereka usahakan di Moskow Uni Soviet. Negara baru dapat menghilang apabila kapitalisme internasional sudah dikalahkan. 4) Komunisme (dimana berlaku hukum; "kepada siapa saja menurut kemampuannya, kepada siapa saja menurut kebutuhannya"), selama Komunisme belum ada maka berlaku; "kepada siapa saja menurut kemungkinannya, kepada siapa saja menurut prestasinya".[35]

Ada beberapa problema konseptualilsasi Marx, yaitu; 1) Pemiskinan kaum buruh itu tak terwujud, kapitalis membuat terobosan dengan system-siestem sehingga eksploitasi itu hilang atau lebih halus lagi. Lihat ilmu-ilmu Human Resource Manajemen. 2) Pembagian kerja terlihat sangat sulit dihapus, sebab apa kerja-kerja kotor dan bersih. Ada kerja-kerja berat dan ringan. 3) Apakah mungkin Negara dihapus. Ini masih mungkin (Walau FMS tidak sependapat hal 175). Sebab menurut kami bukan negaranya yang hilang (secara real) tetapi Negara kepentingan kelas yang hilang. Negara asosiasi yang ada. 4) Karena pembagian kerja serta hasil kerja (tetap ada) –kalau tidak terjadi melalui pasa—harus ditentukan dari atas Negara, birokrasi, sebagai kelas baru (dimana akhirnya menjadi otoriter dan korup).

Sosialisme Ilmiah

Untuk menjawab bahwa sosialisme harus terwujud (sosialisme ilmiah), Marx memperhatikan hukum-hukum ekonomi. Dalam analisanya itu keluar buku Das Kapital (dimana eksploitasi Kapitalisme dibeberkan disini).

1. Ajaran tentang nilai lebih

Teori ini mencoba menjawab bagaimana nilai ekonomi suatu komoditi dapat ditentukan secara objektif? Ada beberapa nilai menurut Marx dalam komoditas. Pertama, Nilai pakai adalah nilai barang diukur dari kegunaan untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Atau nilai pakai adalah manfaat barang untuk memenuhi sebuah kebutuhan dalam masyarakat. (sepatu yang kekecilan buat saya nilainya nol) dst.

Nilai tukar adalah nilai barang kalau dijual belikan dipasar (nilai dalam bentuk uang). Pembeli akhir komoditi membelinya demi nilai pakainya, artinya karena ia membutuhkan barang itu, tetapi semua pembeli yang bukan pembeli akhir membelinya demi nilai tukar, artinya dengan maksud untuk menjualnya kembali, dengan tujuan memperoleh laba.

Nilai pakai barang ditentukan oleh kebutuhan masyarakat. Tetapi bagaimana nilai tukar sebuah komoditi ditentukan? Mengapa nilai dua dasi sama dengan nilai celana? Karena waktu untuk memproduksinya dua barang yang nilai tukarnya sama adalah sama. Yang menentukan nilai tukar sebuah barang adalah waktu kerja yang dibutuhkan untuk menciptakannya. Tetapi bukan waktu kerja individu (penjahit X di jalan ini misalnya), tetapi "Waktu kerja social yang diperlukan". Yaitu waktu rata-rata yang diperlukan dalam sebuah masyarakat dengan kepandaian kerja tertentu untuk membuat barang itu. Teori nilai pekerjaan adalah nilai tukar segenap barang ditentukan oleh jumlah pekerjaan yang masuk dalam produksinya. (nilai tukar hampir sama dengan harga komoditi, tetapi tidak seluruhnya sama).

Harga komoditi, ini ditentukan oleh pasar. Bila banyak permintaan maka akan naik harganya, bila sepi akan turun, tetapi porosnya adalah nilai tukar komoditi. Bila harga ini sesuai dengan pasar "sangat sempurna" maka nilai tukar sama dengan harga komoditi. Jadi hampir identik. (Kapitalisme membiarkan pasar yang menentukan, Sosialime menghendaki itu diatur dengan control).

Nilai tenaga kerja sama dengan nilai komoditi, ditentukan oleh jumlah pekerjaan yang diperlukan untuk menciptakannya. Nilai tenaga kerja adalah jumlah nilai semua komoditi yang perlu dibeli oleh buruh agar ia dapat hidup, artinya agar ia dapat memulihkan tenaga kerjanya serta memperbaharui dan menggantikannya kalau ia tidak dapat bekerja lagi. Artinya jumlah makanan, pakaian tempat tinggal, dan semua kebutuhan hidup lain si buruh dan keluarganya (sesuai dengan tingkat sosio-kultural masyarakat bersangkutan). Dengan konsep ini maka upah buruh dan keuntungan majikan akan wajar.

Sedangkan dalam prakteknya, Marx mengatakan ada ‘Teori tentang nilai lebih’, Misalnya buruh X butuh rata rata Rp 10.000. Maka majikan akan membayarnya Rp. 10.000. dengan 8 jam kerja (misalnya). Seandainya dengan bekerja 8 jam itu, ia menghasilkan nilai (nilai kerjanya) Rp. 20.000. padahal upahnya hanya Rp.10.000, maka ada kelebihan 4 jam kerja yang dimiliki oleh majikan. Jadi Nilai lebih adalah diferensi antara nilai yang diproduksikan selama satu hari oleh seorang pekerja dan biaya pemulihan tenaga kerja. Nilai lebih inilah sumber laba sang kapitalis. Laba perusahaan seluruhnya tergantung dari besar kecilnya nilai-lebih. Jadi system kapitalis adalah system yang menghasilkan keuntungan karena nilai lebih yang diciptakan oleh buruh dengan pekerjaannya yang tidak dibayarkan kepadanya.[36]

Sebuah Ilustrasi menarik:

Perdagangan awal, barang 1 ditukar dengan barang 2 (B1 = B2), setelah ada uang maka B1 ditukar dengan Uang, uang ditukar dengan barang 2 (B1=U=B2). Dalam Perdagangan Kapitalis, U1 dibelikan Komoditi (K) yang akan dijual lagi, Komoditi dijual dapat U2. (U1 – K – U2), dimana U1 < style=""> (M1 < u1 =" K" k =" U2/M2."> M1/U1 bagaimana bisa seperti ini?)

Marx menjawab;

M1 misalkan dibelikan 1) gedung/mesin/peralatan (kita katakana Biaya konstan 1 = BK1), 2) dibelikan bahan baku (Biaya konstan 2 = BK2) dan tenaga Kerja (biaya variable = BV). Lalu itu dibuat komoditi/barang (K), dan dijual menjadi M2. berarti dari rumus awal

M1 = K = M2

M1 – ( BK1 + BK2 + BV) = K = M2

M1 – K = BK1 + BK2 + BV – M2 (sedikit persamaan matematika).

Mengapa bisa M1 menjadi M2, dengan M2 > M1 diatas? Ini bisa terjawab bahwa pembelian BK1 dan BK2 tidak akan menghasilkan kelebihan, hanya BV yang menghasilkan "nilai lebih" dimana saat dibeli dia akan bekerja melebihi harga belinya karena ada unsur kreatif (dalam diri manusia). Disinilah argument Marx bahwa hanya "nilai lebih" itulah sumber keuntungan kapitalis dan itulah eksploitasi manusia. Nilainya melebihi yang perlu untuk menggantikan dirinya sendiri.

Catatan Marx, ini sanngat menarik, tetapi masalahnya; 1) apakah nilai barang hanya ditentukan oleh pekerjaan yang masuk kedalam penciptaannya. Bagaimana selera, karya seni dll. Memang waktu pembuatan merupakan salah satu unsur penting nilai suatu barang tetapi bukan satu-satunya.[37] 2) apakah pekerjaan hanya "buruh", bagaimana administrasi, manajer, service, "juga mengundurkan konsumsi saat ini untuk masa depan" (argument penanaman modal, sehingga bisa menjadi pabrik atau alat-alat penting) dst. Bukankah lebih wajar kalau dikatan bahwa nilai produk ditentukan oleh pekerjaan semua pihak yang diperlukan agar produk itu dapat diciptakan dengan efisien? 3) sangat sulit, kalau tidak mustahil, mengkuantifikasi sumbangan-sumbangan masing-masing pihak dalam penciptaan nilai.[38] 4) Di negara-negara kapitalis upah buruh sudah ditentukan secara politis (tarik-menari Serikat buruh dan majikan). Tidak berdasarkan pertimbangan ekonomis saja (keinginan Marx masuk sedikit). 5) apakah tehnologi tidak memberikan nilai atau nilai lebih dalam produksi? Jelas bahwa tehnologi memberikan nilai itu.

Keniscayaan ‘revolusi’ kata Marx dikarenakan; dalam kapitalisme menyimpan asumsi kearah sana yaitu; 1) Etika utilitarian, 2) Egoisme dan individualisme, 3) persainagn bebas, 4) spesialisasi dan akhirnya 5) Pasar bebas, maka kosentrasi kepemilikan, dan upaya akumulasi modal akan sangat jelas dan ‘pasti’.

Untuk menghasilkan keuntungan besar dan makin besar, maka efisiensi yang harus dilakukan. Dengan ini maka eksploitasi makin tambah sebab; dengan efisiensi maka upah kerja 8 jam, itu mestinya dapat dilakukan hanya 4 jam, makin efisien maka menjadi 2 jam. Awalnya nilai lebih 4 jam sekarang menjadi 6 jam. Inilah hukum Marx "hukum prosentase laba yang terus berkurang". Karena berkurangnya laba hanya dapat diimbangi dengan satu cara yaitu meningkatkan nilai lebih lewat eksploitasi langsung (penjajahan) atau efisiensi.

Dan karena asumsi-asumsi diatas, makin lama makin terkosentrasi kepemilikan. Pemilik-pemilik kelas tengah makin hilang menjadi kelompok klas bawah, "proletariat". Penghisapan makin menjadi-jadi akhirnya revolusi kaum proletariat. Para perampas dirampas" kata Marx.

Dalam kenyataannya sekarang, kaum kapitalis tidak makin menghisap, justru membagi-bagi kepemilikan lewat saham dan welfare state. Eksploitasi menjadi semakin halus bahkan mungkin "seakan" bukan eksploitasi dengan Human resource management. Mengapa ramalan marx gagal? Lenin dan Hilfreding menjawab dengan teori Imprealisme; dimana imprerialisme Negara-negara colonial itulah yang menyebabkan kelebihan produksi dapat disalurkan kenegara jajahan, eksploitasi kurang tampak sebab basisnya berbeda (gaji 700.000 sangat besar di Indonesia yang itu eksploitasi di Eropa). Sehingga kejenuhan eksploitasi (di Eropa) belum terjadi.[39]

Dengan pengarahan perekonomian melalui "segi empat magis", yaitu 1) pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjamin 2) kestabilan nilai uang (menghindari inflasi) dan dengan menjamin 3) tingkat pengangguran yang rendah dan 4) neraca perdagangan luar negeri yang seimbang. Maka Negara-negar modern berhasil menghindari krisis ekonomi yang serius itu.



[1] Manusia tidak menjadi ‘dirinya sendiri’, misalnya kerja bukan untuk merealisasikan diri tapi sekadar cari ‘makan’? apa buktinya ia terasing? Mereka akan puas, senang saat pulang kerja. Seakan kerja itu ingin ia tinggalkan tetapi ‘ada yang membelenggu’. Harus cari uang, harus punya pekerjaan untuk makan, untuk hidup. Lain bila kita melakukan sesuatu dengan ‘senang hati, dalam artian realisasi diri’. Istirahat kerja atau main karena fisik yang tidak bisa terus. Tapi kita enjoy dengan itu. Sekolah anak-aak sekarang, seakan capek, dan lega saat tiba dirumah. Frieere lebih radikal dalam pendidikan; orang mau ditindas dan penindasnyapun terasing dari dirinya. Manusia tidak semestinya bila dia menjadi dirinya menindas orang, demikian juga orang yang tertindas. Bila ia tidak teralienasi ia menolak penindasan itu. Dua-duanya sama-sama terbelenggu.

[2] Franz Magnis-Suseno, “Pemikiran Karl Marx”, Gramedia, Jakarta, 1999, hal 51.

[3] Hegel Grundlinien der Philospie des Rechts (1978) hal 258, dalam FM. Suseno hal 58.

[4] Magnis, ibid Hal 59.

[5] Kritik kami [Muhammad Alwi] kalau Negara dijadikan tolok ukur, Undang-undangnya. Kita seakan harus mengikutinya, taat padanya. Padahal untuk menjadi Negara yang "rasional" kata Hegel pun awalnya harus ada dialektika. Dan itu tak akan berhenti, selalu berproses. Berarti menghentikan di Negara tertentu sebagai sudah menjamin rasionalitas dan kebebasan adalah absurd. Menurut kami dan itu juga pertentangan Hegelian Kanan dan Hegelian-Kiri. Proses itu harus terus berjalan, berproses. Lalu bagaimana bila ada pertentangan dalam realitas (sang-pemimpin, undang-undang, atau pemilihannya tidak menjamin ‘kebenaran’). Sebab dengan dunia seperti sekarang, dimana opini massa, media dst, maka kekuasaan dan informasi dapat menghegemoni. Jadi kita seharusnya percaya dengan kebenaran itu going proses Kebenaran sebagaimana ia-ada dan benar, hanya mungkin akan dapat kita dekati tampa dapat kita meraihnya. Artinya demo tetap sah, dan pemerintah melakukan penanganan, bahkan penangkapan tetap juga sah.

[6] F.M. Suseno, ibid, hal 67. Ini sangat mirip dengan pandangan filsafat Islam; bahwa kita ini bebas tapi pengetahuan tuhan dan ketentuan tuhan pasti terwujud. Pengetahuan Tuhan Pasti terjadi, walau tidak mengganggu kebebasan manusia. Penjelasan lengkap lihat buku kami; Islam dan Psikologi Kebenaran.

[7] Weger, Der Mensch vor dem Anspruch Gottes, Glaubensbeggrundung,(1981) hal 121, dalam FM. Suseno, ibid, hal 69.

[8] Kita lihat dalam agama-agama samawi. Kita memiliki sifat-sifat yang sama dengan tuhan. Tuhan ada kita ada, tuhan Maha kuasa kita kuasa, tuhan maha melihat kita melihat, tuhan maha kuasa kita punya kuasa, dll. Kita disuruh untuk memaksimalkan potensi kita hingga menyamai tuhan walau tidak akan sama. Bukan kepasifan, bukan menina-bobokkan justru memberi arah realitas yang absolute/normative, selama kita belum seperti yang absolute/normative maka kita masih belum "sempurna". Ini menandakan dan mengarahkan manusia untuk selalu dan selalu berusaha terus menerus dengan arah; guide realitas yang absolute sebagai "type idealnya". Dengan ini bukan membahayakan malah positif. Dan dalam diri tuhan itu tidahk hanya melebihi kita, tetapi tak terhingga atau beda dengan kita. Ini tidak sekedar proyeksi. (Muhammad alwi Habsee Ja'fari). Untuk kritik terhadap Filsafat Feuerbach, tentang kritikannya terhadap agama. Secara panjang lebar, Lihat cacatan kaki FM. Suseno no 2, bab 4 hal 261-263.

[9] F.M. Suseno hal 72

[10] Feuerbach 1966; 192.

[11] Marx, "Introduction to Critigur of Hegel's philosophy of Right ", 1884. hal 378.

[12] Ibid

[13] Ibid, hal 379.

[14] Ini adalah ciri masyarakat modern (kapitalisme). Dimana secara konseptual-filosofis kapitalisme dipelopori oleh Adam Smith melalui bukunya An Inquiry into the nature and cause of the Wealth of Nations. Dimana ini memiliki pengandaian-pengandaian dasar antara lain;

1. Etika Utilitarian à yang mengatakan bahwa pada dasarnya manusia itu dalam bertindak selalu akan memaksimalkan/mencari sesuatu yang berguna/menikmatkan dia dan menghindari kerugian/kesakitan.

2. Individualisme dan Egoisme à Karena menganut utilitarian, maka biarkanlah manusia itu melaksanakan apapun yang diinginkannya, selama dia tidak melanggar atau merugikan keinginan orang lain (individualisme/egoisme). Sehingga konsekuensi logisnya adalah laizzes-Faire (policy non interfence), dimana pemerintah hanya memberikan regulasi sebagai impartial spectator (penonton tak berfihak) dalam prilaku masyarakat.

3. Spesialisasi Kerja à Disamping itu dari penelitiannya Adam Smith mengatalan perlunya spesialisasi untuk efisiensi kerja dan produktivitas (Secara umum ini "baik"). Dan untuk mencapai efisiensi tinkat dunia, dengan beberapa teori dalam economy-international, seperti keunggulan komparatif, keunggulan kompetitif dll, maka keluarlah apa yang akhir-akhir ini marak yaitu ide "multi sourcing” (mencari sumber-daya apapun dimanapun yang memberikan efisiensi optimum).

Lihat lengkap dalam Disertasi yang diterbitkan dalam; Dr. A. Sony Keraf, “Pasar Bebas Keadilan & Peran Pemerintah, Telaah atas Politik Ekonomi Adam Smith”, Kanisius, 1996.

[15] Marx, "Introduction to Critigur of Hegel's philosophy of Right ", 1884. hal 385. Magnis, hal 80.

[16] Dalam analisa "Madzab Kritis" (Frankfrurt misalnya), mereka inipun juga kelas, sehingga ketrtarikannya ke filosof seprti yang dinginkan Marx tak terjadi. Lihat Marx, "Introduction to Critigur of Hegel's philosophy of Right ", 1884. hal 390.

[17] Ada hal yang tak terjawab oleh Marx dalam hal ini yaitu; mengapa manusia mengasingkan diri dalam agama (Feuerbach), Marx mengatakan itu hanya tanda keterasingan, dan ada keterasingan yang lebih mendasar yaitu keterasingan pada kesosialannya, ini dicirikan didirikan Negara dan undang-undang (Hegel). Tetapi masih tersisa pertanyaan, mengapa manusia sampai mengasingkan kesosialannya dari dirinya sendiri dalam bentuk Negara? Ini belum dijelaskan oleh Marx dan memang pertanyaan yang selalu akan ditanyakan.

[18] FM. Suseno, op cit, hal 101.

[19] Ini "kelihatan" kebenarnya saat ini, dimana kebenaran ditentukan oleh opini, opini dikuasai oleh media massa, media masa dikuasai oleh pemilik modal. Demikian juga bagaimana negarapun tidak mampu berkutik apa-apa dihadapan IMF, Bank Dunia yang nota- -bene "a-politik dan digerakkan oleh "pasar" dan modal. Apalagi dengan area bebas yang sekarang ini ada, Globalisasi/WTO dst.

[20] FM. Suseno, op cit, hal 120. lihat problem yang sudah dirasakan dari awal oleh Adam Smith (tugas dan tanggung jawab ‘seharusnya’ dalam masyarakat kapitalisme). Lihat, Dr. A. Sony Keraf, Op Cit.

[21] Walau memang banyak yang pesimisme, apakah dengan Kapitalisme seperti sekarang, era informasi, globalisasi, opini public, media massa, dan system pasar, mungkin untuk ber-demokrasi. Kebenaran yang direduksi menjadi suara representasi (semacam parlemen), dengan mengandalkan ‘suara-mayoritas’. Lihat Wilter Lippmann, Op Cit.

[22] F.M. Magnis, Op cit, hal 128-134.

[23] Ibid, 138.

[24] Karl Marx, "Prefece to Contribution to the Critique of politic Economic", 1971

[25] ini mirip dengan Psikologi atau etika utilitarian, dimana manusia dalam bertindak selalu akan memaksimalkan apa-apa yang mengenakkan dan cenderung meninggalkan atau tidak mengulangi apa-apa yang tidak mengenakkannya.

[26] Ini cukup menarik untuk dianalisa, walau tampak sangat benar tetapi ini akan menjadikan kita mengikuti faham "ateisme". Sedangkan konsep ini "hampir diterima" dengan mufakat dalam ilmu-ilmu social khususnya "sosiolohi pengetahuan" (yang positivistik). Lihat P.L. Berger Thomas Luckmann, " The Constitution of Society: The Outline of The Theory of Structuration", Polity Press Cambridge-UK,1995 (Terj: Tafsir Sosial atas Kenyataan, LP3ES, Jakarta.) atau karya Karl Meinheim "Ideologi Utopia", Kanisius, Yogyakarta.

[27] Marx, “Contribution to the Critique of Political Economic”, 1971, hal 13. Magnis, ibid, hal 142.

[28] Contoh oleh Bochenski; kalau sekelompok orang menangkap ikan dalam sebuah perahu, dengan sarana-sarana tertentu, misalnya dengan jala, satu orang harus memberi komando, yang lain memegang kemudi dst. Disini hubungan terjalin sesuai dengan pengorganisasian karena alat tadi.

[29] Lihat Konsep-konsep Habermas (akan dijelaskan lebih lanjut).

[30] Lihat K. Raimond Popper, "Gagalnya Historisisme". LP3ES, Jakarta, 1985.

[31] Kita lihat contah Marx sendiri. Kalau ia masuk satu kelas kenapa dia punya cara yang lain, tujuan dan kritik yang lain dari kelasnya pada waktu itu ?

[32] Karl Marx dan Frierich Engel, (1974), “The German Ideology”, ed by Pascal, New York: International Publisher. Hal 67-70.

[33] ini pengandaian Marx yang agak "konyol", kecuali syarat-syarat diatas dipenuhi.

[34] Apakah ini mungkin? Bukankah dalam asosiasi itu nantinya tetap akan ada pembagian kerja? Tidak dibahas lebih lanjut oleh Marx.

[35] Ini menarik untuk diamati berhubungan dengan keadilan (ontology) yaitu; apakah tahajjud itu pahalanya lebih tinggi dibandingkan dengan sholat sunnah lainnya? Mungkin ya mungkin tidak. Tetapi bila Si A merasa ringan sholat tahajjud sedangkan berat sholat sunnah lain demikian sebaliknya. Apakah masih berlaku pernyataan awal (Tahajjud > Sholat Sunnah). Disini kadang kita punya argumentasi; "besar kecilnya pahala tergantung berat ringannya untuk melaksanakan itu". Jadi tidak ada patokan nilai suatu kegiatan, nilai kegiatan itu tergantung beratnya seseorang atau kesenangan seseorang terhadap pekerjaan itu. Terkadang orang senang berfikir dan berkonsep, terkadang senang praktis, demo dst. Ini mirip dengan konsep diatas. Perlu diskusi lebih lanjut.

[36] Mungkin ada yang membantah ini dengan bukankah mesin melipat gandakan kerja buruh. Benar tetapi bila harga mesin, pemeliharaan dst dimasukkan dalam produk akhir maka akan terlihat nilai-lebih dari buruhlah yang merupakan sumber keuntungan. Bahkan mesinpun dibeli juga ditentukan oleh tenaga kerja yang masuk didalamnya.

[37] Tetapi ini bisa dibantah dengan pertanyaan; "adilkah" bila yang satu bekerja dengan "ringan, santai", melukis atau lainnya (sekadar contoh). Dan itu memang hobinya/kesukaannya. Dalam perolehan kemampuannya pun (pendidikan, belajrnya, biaya yang dikeluarkan dll) sama. Yang satu dihargai berbeda dengan lainnya. Bahkan sangat berbeda. Karena banyak yang suka, langka dst (darimana keluarnya ‘selera’ itu?). Marx disini menyoal, menyentuh sejarah awal hobi, awal kesukaan dst. Saya [Muhammad Alwi] katakan; ini memang sangat menarik untuk sekadar acuan, "masyarakat idealis". Argument ontologisnya cukup menarik tetapi aplikasinya yang "sangat menyulitkan". Perlu didiskusikan lebih lanjut. Walau waktu rata-rata yang diambil oleh Marx jelas sangat menyulitkan untuk dipakai kecuali control super-otomatis. Banyak contoh disini yang menarik dilapangan; bagaimana belajar manajemen, matematika, mental aritmatika, b. inggris, dokter dll dihargai tinggi sehingga bidang itu sangat berkembang sedangkan mengaji, tauhid, sejarah Islam dll, dihargai rendah bahkan sangat rendah. Yang akhirnya bidang-bidang itu "sangat kurang" berkembang (Tenaga kerjanya dihargai Rendah). Contoh lain praktek di Indonesia; Anak pandai, kuliah Matematika, dengan Biaya, tingkat ‘kesusahan’, ‘kecapek-an’ dll misalnya setengah dari anak yang masuk kedokteran. Mestinya paling tidak, kedepannya gaji mereka (dengan jam kerja sama), perbandingannya 1:2, realitasnya bisa sangat jauh (akhirnya sekali lagi ‘selera’),

[38] Disini menarik elaborasi teori keadilan John Rawls, dalam "Keadilan dan Demokrasi", Andre Ata Ujan, Kanisius. Juga "Diskursus Kamasyarakat dan Kemanusiaan", Gramedia. Yang seakan mau mencoba mengurangi rasa ketidak adilan diatas.

[39] ini menarik sebab; mereka (kapitalisme matang) masih mampu melakukan kesejahteraan sedemikan rupa pada buruhnya (yang sangat ‘manja’, gaji makin naik perjam nya, jam kerja makin turun, kesejahteraan dan tunjangan makin tinggi dll) karena sebagaian sumber dari eksploitasinya dipindahkan dinegara berkembnag (dengan ‘alasan’, mencari pasar lebih murah). Artinya apa? Bila dinegaranya itu ‘dholim’ kalau terjadi ditempat lain tidak ‘masalah’. Contoh bagaimana suasana kerja, keselamatan kerja, bahkan buang limbah, pabrik rokok dll. Kalau dinegaranya itu ‘tidak diizinkan, tidak termaafkan’, tetapi itu dipindahkan (eksploitasinya) kenegara berkembang.

Kita bisa lihat bagaimana inefisiensi sangat ditolerir di AS. Lihat makalah Adam ul haq, " Tantangan Globalisasi Terhadap Pemaknaan Religiositas". Majalah ISLAMUNA, edisi dua, rabiul Awal-rabiul akhir 1424H. Yang menunjukkan "Ekonomi Parasit AS". Marx yang menginginkan "kematangan kapitalisme dunia" yang nantinya akan (mendunia, belum terjadi) menghasilkan keruntuhan kapitalisme. Artinya ramalan Marx belum sepenuhnya gagal. Apalagi dengan adanya globalisasi/WTO sekarang ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar