Laman

Minggu, 21 Maret 2010

Problema Intelektual Negara Berkembang

INTELEKTUAL DAN INTELEGENSIA

(Peran “kaum intelektual” dalam masyarakat berkembang)

Oleh: Muhammad Alwi SE,.MM

Perlunya Intelektual di Negara Berkembang

Intelektual adalah seorang yang memusatkan diri untuk memikirkan ide dan masalah nonmaterial dengan menggunakan kemampuan penalarannya. Robert Michels memberi batasan intelektual sebagai “orang yang memiliki pengetahuan, atau dalam arti sempit, mereka yang mendasarkan penilainannya pada renungan dan pengetahuan, yang kurang langsung dan tidak semata-mata dari persepsi indrawi tidak seperti halnya nonintelektual.

Intelegensia adalah mereka yang mengalami pendidikan tinggi formal dan modern, para spesialis dan professional, dan mereka yang memperoleh pendidikan tingkat tinggi dengan cara lain. Kaum intelegensia ini berfungsi sebagai kelompok dan secara sosiologis dapat dipetakan. Beda dengan intelektual, yang mana sulit dipetakan secara hirarkhi social.

Masalah-masalah khas yang hanya dapat diusahakan oleh kaum intelektual (intelegensia sulit, bahkan tak tertarik dengan ini); 1) masalah yang bukan dan tak dapat ditangani para spesialis. 2) bidang kegiatan intelektual tidak dapat mengikuti demarkasi yang diletakkan oleh disiplin ilmu khusus manapun. 3) sikap intelektual tidak dapat diciptakan oleh latihan formal yang berorientasi pada disiplin ilmu dalam arti silabus dan sejumlah jam pelajaran yang ditetapkan, 4) sasaran kegiatan intelektual selalu bertalian dengan konteks kehidupan dan pemikiran yang lebih luas, yang meresap ke nilai-nilai dan komitmen yang mendasar, 5) hasil yang dikejar kaum intelektual bukan suatu profesi, dan karenanya tidak tunduk pada jenis factor yang menentukan tampil dan berkembangnya profesi, dan 6) minal intelektual melibatkan masa lampau, kini dan masa depan.[1]

Seorang intelektual harus memilki keluasan psikologis dan kecekatan mental untuk bergerak dari satu topic ketopik yang lain tanpa pendangkalan dan pengulangan kebenaran yang sudah ada dan umum. Karena luasnya dan rumitnya bidang intelektual akan mudah diperlihatkan dari pada didefinisiskan.[2]

Intelektual itu memiliki semangat, seperti yang di katakana Afhgani[3]; semangat mengkaji, kenikmatan dalam pencarian intelektual, dan rasa hormat yang mendalam pada pengetahuan ilmiah dan rasional. Kita bisa melihat ini secara kolektif (masyarakat atau Negara) dari kelangkaan atau banyaknya pengajaran akademis, sedikitnya bahan terbitan ilmiah, kegiatan diskusi kolektif yang berkesinanmbungan mengenai tema-tema vital dan penting dll.[4]

Selanjutnya Afghani mengatakan; pera pemuda Islam (dulu) tidak mempunyai pengetahuan, tetapi berkat semangat filsafat yang bersumberkan dari agama mereka, maka mereka dapat membahas masalah umum dunia dan kebutuhan umat manusia. Hal ini mengarahkan mereka untuk menguasai semua ilmu dalam tempo yang singkat, dengan mengambil pokok bahasan khusus dari sumber-sumber Syiria, Persia dan Yunani.[5]

“Filsafatlah yang membuat manusia dapat difahami manusia, menerangkan kemuliaan manusia, dan menunjukkan jalan yang semestinya. Cacat pertama yang segera tampak pada setiap bangsa yang mengalami kemerosotan adalah pada semangat filsafatnya. Kemudian cacat tersebut menyebar ke ilmu-ilmu lain, seni dan hal-hal yang berkaitan lainnya.”[6]

Selanjutnya Afghani menganalisa sebab keterbelakangan masyarakat Islam, terutama para pemimpin agamanya, yang terutama dariinya adalah kurangnya minat intelektual.

Untuk lebih memperjelas beda hubungan berfungsinya “intelektual dan “intelegensia” kita dapat lihat; seorang non-intelektual, sekalipun terpelajar, adalah pasif secara mental. Dia menerima apa saja yang diajarkan kepadanya secara tidak kritis. Dia tidak mau bersusah payah memikirkan aneka masalah yang terentang bertahun tahun. Dia tidak mempunyai rasa terikat secara emosional dengan penalaran intelektual. Dia tidak merasa rugi dengan tidak adanya bahasan intelektual karena dia tidak merasa membutuhkannya. Dia tidak meluangkan waktu untuk membaca hal-hal yang serius. Dia tidak mampu membentuk opini selain yang sudah nyata dilakukan oleh kebanyakan orang. Kalau dia seorang spesialis, maka pengetahuannya mengenai masalah yang diluar bidangnya sebanding dengan orang awam.[7]

Banyak sekali kita bisa melihat bentuk-bentuk kelompok intelegensia, bukan intelektual. Padahal kita butuh (khususnya dinegara berkembang, Negara-negara Islam) kaum intelektual. Sebab dengannya akan mampu merangsang tumbuhnya ilmu-pengetahuan, pengetahuan dengan pengetrapannya, pengetahuan tepat-guna. Dan kebijakan-kebijakan yang mampu melihat secara holistic. Pandangan holistic, pandangan integralistik ini tidak tumbuh dengan latihan-latihan formal untuk mencapai derajat sertifikat dan satus social.[8]

Orang-orang “Bebal” mendominasi “Jajaran atas” negara berkembang

Menarik melihat novel Rusia, Oblomov, karya Goncharov. Dimana penulisnya mampu menyelami masalah dan penyakit oblomov. Oblomovisme menjadi istilah yang melambangkan kelesuan, acuh tak acuh, kemalasan dan kedangkalan kelas seperti itu.[9] Walau tulisan ini dengan latar belakang Rusia, tetapi sangat tepat untuk menelaah Negara berkembang dengannya. Sifat-sifat umum kaum oblomov adalah; kehidupan tidak merupakan keharusan pada mereka, tempat suci, agam dll tidak ada secara serius buat mereka. Membaca bukan suatu yang mengaruskan, walau mereka membaca. Membaca hanya karena itu perlu untuk tugas tertentu, jabatan tertentu atau ingin sesuatu tertentu yang tak langgeng dan sesaat. Pemerintahan dengan orang-orang oblomov hanya rutinitas, bahkan itu mereka ingin tinggalkan bila dibolehkan. Kekantor hanya karena ada absensi dan untuk gaji bulanan, sehingga bila boleh tak kekantor mereka tak akan menjalankannya. Seorang dokter, prajurit dll. Bahkan professor di universitas, pelajar disekolah dan mahasiswanyapun hanya bersikap “yaa itu memang harus dilakukan.” Mengajar hanya sekadar mengajar, belajar dan kuliah juga sekadar untuk kuliah. Tak ada sesuatu yang serius dan bernilai tetap yang layak untuk diperjuangkan sampai akhir, dst.[10]

Ada konsep yang ditawarkan untuk mendekatkan dengan oblomovis itu oleh S.H Alatas dalam bukunya; “Intelectual in Develeoping societies”, yaitu “Bebalisme”. Apabila kita lihat dalam kamus baik Indonesia maupun Melayu, kata “bebal” ini merujuk pada; bodoh, kabur dalam pemikirinan, berakal tumpul, sukar memahami, cenderung bebruat salah”. Dia (S.H. Alatas) mengartikan; bebalisme sebagai:

Suatu sikap yang terdiri dari berbagai perangai yang manifestasi akhirnya termasuk ketidaktahuan, lamban, acuh tak acuh dan keras kepala yang membatu, sebagai ganti usaha yang gigih.

Bebalisme bukanlah suatu ideology yang disadari atau system kepercayaan, dan ia dapat muncul bersama dimana-mana. Timur, barat, islam, Kristen, Hindu, Budha dll. Bebalisme ada dalam segala budaya, segala ruang dan waktu.[11] Bebalisme ditemukan bersama dengan apa yang disebut oleh Levy-Bruhl sebagai “penampilan kolektif.”

Ini adalah konsep atau ide yang bersangkutan dengan benda atau peristiwa tetapi berbeda dengan pengalaman biasa yang tidak bercampur dengan unsure-unsur magis keagamaan atau kegaiban. Penampilan seperti itu dipancarkan kesemua atau sebagaian besar anggota kelompok social secara sinambung dari generasi ke generasi. Mereka merasa memiliki kekuatan dan mempengaruhi rakyat, membangkitkan sentiment rasa tahut, keseganan, pemujaan dan sebagainya.unsur-unsur utama konsep ini didasarkan pada hal-hal empiris, namun kebenarannya tak dapat diuji secara empiris dan tidak dapat diturunkan pada pengalaman psikologis seseorang; juga bukan hasil penalaran karena konsep ini mengingkari hukum kontradiksi. Dengan demikian, dalam menentukan sebab-akibat peristiwa tertentu, setiap penyebab dapat dipilih tanpa menghiraukan relevansinya dalam konteks saling hubungan sebab dan akibat. [12]

Beberapa ciri-ciri orang-orang bebal; 1) tidak mempunyai daya antisipasi. Karenanya, maka orang-orang bebal biasanya hanya bereaksi terhadap sesuatu peristima setelah kejadian. 2) Pemikirannya tidak orisinil dan kreatif, sehingga orang-orang bebal tidak mengembangkan rasionalitas “substansial” maupun “fungsional”. Tidak berfikir dengan wawasan untuk kebijakan dll, juga dalam teknis pelaksanaan (fungsional). Kalau mereka melakukan itu, itu hanya karena mereka melihat dalam buku, atau sudah banyak yang melakukan itu. Seorang alim, memberikan fatwa hanya karena itu ada di kumpulan fatwa dst. Tanpa bisa membuat kreasi, merujuk situasi, konteks, menyimpulkan dari kumpulan fatwa dll.[13]

3) orang bebal biasanya otoriter, tidak reflektif dan tidak mendasarkan pada eksperimental. Mereka cepat menarik kesimpulan, dan tidak mengambil pelajaran secara reflektif. Hanya apa yang sudah umum. Contoh menarik tulisan orang barat Henry Kappel yang mengatakan bahwa Kerbau Malaya itu anti barat. Juga katanya orang-orang Cina itu baru bisa berfikir setelah rumit, makanya mereka bikin anak banyak supaya rumit, dengan itu mereka bisa berfikir. 4) bebalisme tidak mempunyai kecintaan pada argumentasi yang tertib dan rasional serta menaruh penghargaan kepadanya.5) tidak mempunyai kemampuan untuk menilai suatu masalah secara kontekstual, mendalam dan sinambung. 6) tidak menghormati ilmu pengetahuan dan pandangan ilmiah. 7) karena tidak menghargai keterangan logis dan empiris atau pemikiran rasional, bebalisme mudah percaya kepada hal-hal diluar batas. Mereka percaya orang hamil kebo, percaya tahayul-tahayul yang naïf dll.[14] 7) Ciri bebalisme lainnya adalah tidak adanya kehalusan pekerti. Ia tidak merasa malu dengan kesalahan yang dilakukan karena kebodohannya, dan ia tak takut dengan kekurangan intelektualnya. Hal seperti ini sangat banyak terjadi di pejabat tinggi kita.[15]

Kekeliruan atau ketololan “kalangan atas” masyarakt berkemanag.

Dinegara kita hasil jajak pendapat Kompas (sabtu, 4/12/04), menunjukkan keinginan secara umum orang-orang untuk masuk jadi PNS (pegawai negeri sipil). Ada berbagai alasan kenapa mereka senang dan sangat ingin untuk menggunakan seragam itu. 1) Ada yang mengatakan status mereka secara social akan naik (terutama di desa atau kota-kota pinggiran)[16], 2) ada yang karena jaminan gaji, dan kenaikan gaji yang pasti (PNS memang tak pernah mengalami pasang surut masalah penggajiannya). 3) jarang sekali terjadi PHK, Karena memang yang bertahan terhadap PHK saat pegawai-pegawai swasta gonjang-ganjing PHK, PNS tenang-tenang saja. 4) Jaminan Pensiun dll.

Padahal kalau kita lihat, dalam laporan di surat kabar yang sama, rata-rata sepakat bahwa kinerja PNS sangat rendah, gajinya termasuk rendah dll. Mengapa ini terjadi? Jawabnya sangat jelas yaitu; Pertama; Lapangan pekerjaan di Indonesi cukup sulit apalagi yang aman dan PHK, Kedua, begitu diterima, maka mereka hampir tidak akan kena PHK, Ketiga, Kenaikan pangkat pasti, minimal 2 sampai 4 tahun, bisa lebih cepat, tetapi lebih lambat jarang terjadi. Dimana kenaikan pangkat/golongan, berarti kenaikan gaji[17]. Keempat, standart kinerja yang dipatok sangat rendah.[18]

Makanya mereka tidak banyak yang berubah secara kapabilitas apalagi menjadi “intelektual”, walau jabatanya tinggi (Bupati, gubenur, DPR/DPRD)[19]. Keberhasilannya semata-mata karena prosedur yang rutin. Hanya procedural, naik pangkat/golongan.

Ciri-ciri “orang tolol” adalah; 1) dia tidak mampu mengenali masalah, 2) jika diberitahu masalah itu kepadanya, dia tidak mampu memecahkannya, 3) dia tidak mampu mempelajari apa yang diperlukan, 4) dia juga tidak tahu mempelajari seni belajar, 5) biasanya dia tidak mengakui ketololannya.[20]

Makanya disini tidak mesti “orang tolol” itu pasti tidak berpengetahuan, atau tidak sukses. Sukses dan tidak sukses, berpengetahuan atau tidak, bahkan buta huruf atau tidak bisa terkena penyakit “orang-orang tolol itu.” Karena orang-orang ini bekerja kolektif, maka sulit sekali diketahui bagaimana dia berada dan memastikan tindakannya. Karena dalam sebuah institusi mereka bekerja kelompok, banyak tangan, banyak kepala dan meja yang menghasilkan sebuah “rekomendasi atau kebijakan”. Dan ketotolon itu relative ada yang sangat ada yang sedang dst.

Kita sulit menunjuk, tetapi kita bisa lihat hasil sebuah “rekomendasi atau kebijakan” bahwa disana terdapat orang-orang tolol yang bekerja. Kita bisa lihat orang-orang pandai yang tolol itu banyak duduk di DPR, BUMN bahkan lembaga pendidikan sekalipun.

Contoh-contoh tindakan “tolol itu” antara lain. Kwik Kian Gie mengatakan dalam Kompas (18/12/04) mengatakan; “bagaimana BCA dijual dengan harga kas 10 triltun, padahal punya piutang 60 trilyun”. Jelas itu sangat irasional, tak logis dll. Mungkin ada yang menjawab, ya karena memang mereka mau korupsi. Apakah korupsi seperti itu layak untuk orang-orang sekaliber mereka. Bukankah mestinya ‘smooth’, apa bedanya mereka dengan orang awam yang bodoh tak berpengetahuan yang kasar dan ingin dapat untung.

Contoh lain; Bagaimana Mendiknas mengkonvesrsi nilai-nilai UAN (setelah dengan semangat akan menaikkan kualitas anak didik lulusan bangsa ini). Konversi adalah Anak-anak yang pandai dikurangi nilainya dan yang “kurang pandai” di naikkan nilainya agar ada kesetaraan. Anak yang nilainya 2,01 ujiannya dinaikkan jadi 4,04 misalnya. Dan yang nilainya 8,9 diturunkan jadi 7,3. Setelah diprotes sana-sini, terutama sekolah-sekolah yang dirugikan, akhirnya Diknas ambil kebijakan. Anak yang dinaikkan nilainya tak diturunkan dan yang diturunkan nilai ujiannya akan dikembalikan kesemula. Tetapi yang aneh lagi, setelah kebingungan karena banyak yang tak lulus, lalu mengedakan konversi. Tahun depannya (2004/2005)[21] Diknas yang sama mengeluarkan standart nilai lulus naik satu poin dari tahun sebelumnya. Apa ini kesalahan atau sebuah ketololan.

Bagaimana mentri agama dan presiden percaya tahayul yang aneh tentang “harta karun batu-tulis”[22]. Sehingga presiden lewat mentri agama mengeluarkan untuk menyelidikinya dan membongkarnya. Sehingga dimasyarakat ada guyonan; “memang ada sesuatu dibatu tulis itu, ada bungkusan, setelah dibuka dengan lapisan yang sulit dibuka dan berlapis-lapis. Didalamnya ada kertas. Ternyata setelah dibuka didalamnya bertuliskan, “anda belum beruntung”. Inilah lelucon yang terjadi menanggapi manusia-manusia pandai yang tolol. Dan banyak lagi yang lain “rekomendasi dan kebijakan” yang aneh-aneh dilakukan oleh mereka.

Kelompok-kelompok seperti ini banyak sekali dikalangan atas Negara-negara berkembang. Dan besarnya kekuatan mereka itulah yang merintangi tampilnya kelompok intelektual untuk berfungsi. Orang-orang tolol itulah yang menentukan apa, bagaimana yang seharusnya dan kemana yang menjadi tujuan arah kepentingan bangsanya.

Mereka itu ditemukan diberbagai tingkat pemetintahan, mereka menduduki kursi-kursi parlemen dinegara-negara perwakilan, mereka mengendalikan pers, menyerbu lembaga-lembaga pendidikan. Mereka tidak melakukan tekanan kreatif (karena memeng mereka tak sanggup kesana), mereka tidak menciptakan standart yang tinggi dimasing-masing usaha mereka. Mereka hanya meniru ( karena tiruan adalah hal yang mudah), mereka hanya bicara kinerja dan standart ( karena bicara tanpa pelaksanaan adalah mudah) dst.

Mengapa ini terjadi dinegara-negara berkembang? Ada beberapa factor; yaitu 1) pendidikan dinegara-negara jajahan terutama untuk pelayanan administrasi dan tugas-tugas tambahan lain. Ini memang yang dipupuk oleh penjajah. Karena niat mereka bukan membuat mereka jadi sadar, pandai. Tetapi sekadar mampu menjalankan tugas-tugas membantu penjajah secara administrasi. Tidak ada pemikiran dan pengembangan wawasan disana. Tetapi jabatan-jabatan itu menjadi menarik baik karena gaji mungkin, karena dekat dengan kekuasaan ( penjajah saat itu) atau karena status social ( dimana anak-anak pejabat pribumi) banyak menjadi pamong praja seperti itu. Akhirnya dalam bahasa sosiologi “mentalitas priyanyi” itulah yang timbul di kalangan administrator. Setelah kemerdekaan, butuh banyak pos-pos yang memerlukan perencanaan, administrasi dll. Maka orang-orang itulah yang menyerbu masuk.

Orang-orang ini punya ciri, mentalitas dan kebiasaan-kebiasaan yang “birokratis”, “Patron-clein” yang diduga mentalitas penyebab Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dan lain-lain yang kurang baik.[23] Begitu orang-orang ini masuk, dan tampil di tapuk pimpinan, mereka mengekalkan kelompoknnya.

Karena kaum mereka yang diatas dan mendominasi, maka nilai-nilai merekalah yang menjadi nilai-nilai masyarakat; kesadaran mereka menjadi kesadaran masyarakat. Bukan karena sistemnya (Demokrasi, Otoriter, Kapitalisme, Sosialisme, Barat, Timur, Islam, Protestan dll) yang membuat Negara-negara itu baik, tetapi “orang-orang tolol” itulah problemnya. Bila mereka banyak demokrasi menjadi ajang manipulasi kekuasaan. Bila mereka banyak tidak ada perlawanan terhadap ketidak adilan, dan tak ada protes sistematis terhadap KKN ( kolusi, Korupsi dan Nepotisme) dst.[24]

Keseriusan “Pembentukan” kelompok Intelektual

Seperti sudah dijelaskan didepan, tugas kaum intelektual adalah memegang kendali dalam memikirkan permasalahan masyarakatnya. Tetapi pertanyaannya adalah; Apakah pembentukan kelompok intelektual itu dipupuk dinegara-negara berkembang? Dimana pemimpin-pemimpinnya, pejabat atasnya “bukan intelektual”, bahkan “anti imtelektual”. Ini bisa kita lihat dari total pengeluaaran pemerintah untuk pendidikan (% terhadap departemen lain dan % terhadap APBN). Kita lihat Indonesia sangat kecil sekali, anggaran untuk pendidikan.[25] Pengeluaran untuk penelitian, jurnal dll, yang bisa disimak secara umum dari peringkat universitas-universitas ternama Indonesia ITB (Institute Tehnologi Bandung), UI (Universitas Indonesia), UGM (Universitas gajah Mada), UNDIP (universitas Diponogoro, Semarang) dan Unair (Universitas Airlangga, Surabaya). Juga peringkat Matematika, IPA anak-anak sekolah Indonesia.

disamping itu juga yang sangat penting bagaimana kebudayaan yang tampak dalam jurusan filsafat di universitas-universitas di Indonesia. Sebab ilmu ini yang menerangi ilmu-ilmu lain kata Afghani. Dan sangat terlihat bagaimana jurusan-jurusan itu kering dari minat masyarakat.

Disamping itu semua, kita mesti ingat penelitian David McCleland, tetntang Need-Acheivement ( kebutuhan untuk berprestasi) seseorang atau suatu bangsa. Dan itu bisa kita lihat secara statistic dari tayangan-tangan TV-TVnya katanya. Secara umum hasil penelitiannya menunjukkan, “Negara-negara yang besar, kaya, sukses itu tayangan-tayangan film-filmnya, banyak menunjukkan perjuangan meraih sukses, gigih, keuletan dll, yang secara umum dikatakannya sebagai N-Acheivement”.

Kita lihat film-film di Indonesia, acara TV-nya sangat kecil sekali menunjukkan n-acheivement (kebutuhan berprestasi). Lebih banyak tentang Tahayul (penampakan, Uka-uka, dunia lain, babi ngepet, pemburu hantu, jailangkung), Hiburan sederhana kalau tidak boleh menyebut “murahan” Dangdut (KDI, laris Manis, Goyang Dangdut, Inul dll. Dengan goyangan-goyangan erotis dan senorok), percintaan kelas rendah, anak-anak (cinta SMU, ajari aku cinta, tersanjung sampai 6 episode, dll), Telenovella Amerika Latin yang sangat tak mendidik (isinya perempuan miskin, baik dan berpacaran atau disenangi pemuda ganteng, baik dan kaya. Pihak orang tua keduanya tak setuju dst), sangat tak realistis. Film-fil India ( yang walau agak “lumaya”, tetapi N-acheivementnya kecil, tak beda dengan diatas), film-film Cina ( banyak yang berhubungan dengan perdukunan, santet dst). Acara selain film adalah hiburan-hiburan biasa, dan banyak humor-humor.

Bandingkan dengnan film-film Jepang, Korea yang masuk ke Indonesia, walau tetap tema percintaan itu dominant dan ada, tetapi tanpa melupakan N-Acheivement yang cukup. Sayang film-film ini tak disewa dan diputar di Indonesia, atau kalau ada sangat kecil sekali prosentasenya. Bagaimana mau menyewa dan memutar itu, bila pihak pertelevisian “tak punya idealisme”, hanya orientasi kapitalis, dan pemirsanya (atas, menengah dan bawah) senang film-fil itu. Ini bisa dilihat dari rating yang tinggi untuk film-film dengan N-acheivemetnya rendah, dan laku dipasar dibandingkan dengan film-film dengan N-Achevement tinggi. Kita bisa lihat itu sebagai ilustrasi adalah dua film yang sangat laris; “Ada Apa dengan Cinta” dan “Jailangkung”, bahkan terakhir yang akhirnya heboh karena erotisnya cukup menonjul (padahal film remaja SMP/SMA) adalah “Buruan Cium Gue”. Dst.

Lalu bagaimana hal-hal ini bisa diatasi? Ada banyak agenda kerja yang mesti dilakukan oleh intelektual walaupun mereka tidak dalam posisi pejabat tinggi yaitu; 1) penelaahan pada masalah-masalah kritis, penyadaran. Semacam kerja-kerja filosof zaman Sokrates, atau filosof-filosof jerman dan prancis (utamanya madzab kritis Frankfurt). Penelanjangan-penelanjangan secara kritis akademis kebobrokan-kebobrokan agenda-agenda pemerintah dan "Kapitalisme".[26]2) Pembentukan badan-banadan penelaahan korupsi (semacam ICW, independent Corruption Wacth), Kontras (Munir, yang akhirnya diracun waktu mau ke Belanda melanjutkan studi S-2nya), Pemantua Pemilu (KPU), dll 3. Masuk ketokoh-tokoh masyarakat yang disegani, tetapi bukan sebagai pejabat tinggi (seperti; Abdullah Gymnastiar, tokoh-tokoh Partai Keadilan Sejahtera, PKS. Arifin Ilham, ust Haryono). Walau mereka bukan intelektual[27] tetapi agenda intelektual dapat dimasukkan disana. Dan yang lebih penting adalah; 4) Pemorak porandaan tradisi-tradisi tahayul, irasional dan lain-lain, yang kesemuanya itu menghalang-halangi atau penghambat "modernisasi" masyarakat berbangsa.[28]Seperti perdukunan (dengan membuat poling, demo, protes atau lainnya, sehingga tayangan-tayangan TV yang marak tentang hal-hal gaib, irasional itu dikurangi atau dihapus) dll.

Kaum intelektual harus sadar, bahwa tugas mereka banyak. Mulai menelaah agenda-agenda "kapitelisme global", penyerapan dari barat yang diperlukan (pemilah-milahan mana yanh perlu dan tidak, skala prioritas), penyiapan tradisi dalam negri yang menyambut modernisasi dan kemajuan ( dimana dalam negeri sendiri banyak problem untuk maju). Penyakit-penyakit masyarakat, dst.

Kaun intelektual tidak semestinya terhanyut dengan gelombang "bombastis dan euphoria" barat. Dengan emansipasi wanita yang konyol[29], penegakkan HAM yang menguntungkan barat, konsumsi serta setandart mereka[30], demokratisasi tanpa penyiapan sarana-prasarana, pengambilan tehnologi yang melampaui "curva belajar" masyarakat[31], standart hidup dan kemajuan serta fasilitas ala internasional[32], leberalisasi[33] ala barat dst.

Negara-negara di dunia non-batar yang telah berhasil tinggal landas kearah modernisasi dan industrialisasi ( yaitu Rusia, Jepang, Cina dan Singapura) semuanya mempunyai pemerintahan non-demokratis selama periode permulaan.[34] Saya disini tidak merendahkan pengaruh system politik, demokrasi-liberal, sosialisme atau komunisme, tetapi materi manusia elit penguasalah yang merupakan factor penentu. Walau memang dengan pemerintahan non-demokratis, pemerintah dapat membuat kebijakan tanpa diganggu oleh yang lain, dibandingkan denngan pemerintahan yang demokratis. Tetapi itu tidak serta merta dan otomatis akan lebih baik. Banyak Negara-negara non demokratis gagal mentranformasi masyarakat kearah modernisasi dan industrialisasi walau pemerintahannya non-demokratis.[35]

Keharusan adanya kaum Intelektual

Kaum intelektual itu sulit diidentifikasi, sulit dikategorikan dan dikelompokkan, walau kita akan sangat jelas melihat dampak-dampak yang ditimbulkannya. Oleh karena itu mereka sangat penting keberadaannya. Kebebasan berfikir, kebebasan pers, ide. Adalah salah satu prestasi penting "kaum intelektual". Perlunya pendidikan, metode pendidikan, anggaran pendidikan, buku bermutu dll adalah prestasi lain "kaum intelektual.

Kesulitan untuk mengenali dan mengukur prestasi intelektual juga salah satu sebab mengapa intelektual itu tidak mendapat penghargaan yang semestinya. Ada Negara-negara berkembang yang intelektualnya mempunyai pengaruh cukup kuat di pemerintahan, seperti India, jerman ( dimana akhirnya mereka mampu menelorkan ide-ide Negara kesejahteraan dst). Ada juga yang minim pengaruhnya. Shils mengulifikasikan dalam bukunya, bahwa kaum intelektual memasuki politik bukan karena kelompok lain tidak masuk melainkan "karena mereka mempunyai suatu panggilan jiwa, suatu dorongan positif".[36]

Dinegara seperti Prancis dan Rusia sebelum revolusi, kaum intelektual dapat berfungsi sebagai pembangkit ide-ide karena disana sudah ada public intelektual; sedangkan dibanyak masyarakat berkembang khalayak intelektual tidak cukup besar. Kaum intelektrual dinegara berkembang tidak biasa untuk menarik beberapa ratus atau ribu orang ke suatu ceramah, seperti Spanyol dan banyak negara Eropa. Ceramah jenis itu terbatas pada mahasiswa universitas. Walaupun ribuan masyarakat terhimpun menghadiri ceramah agama tradisional[37], namun tak ada ceramah intelektual yang diminta umum. Kaum intelektual dimasyarakat berkembang dilahirkan terlalu dini pada zamannya; mereka mendapatkan perhatian umum apabila mereka berkecimpung dalam agitasi politik selama masa colonial atau protes-protes terhadap penguasa[38]. Itulah alasannya mengapa kaum intelektual yang menjadi aktivis cenderung menemukan dirinya bertentangan dengan penguasa. Akhirnya pemerintah tak suka dengan intelektual dan pergantian-pergantian kekuasaan makin jauh dari intelektual. Orang-orang yang berjuang untuk kemerdekaan, intelektual makin terpinggir. Kelompok penekan makin banyak dalam kebijakan roda pemerintahan. Justru orang-orang yang pasif yang terus selamat dan mempertahannkan kekuasaannya atau jabatannya. Seperti itu kebanyakan sejarah intelektual Negara-negara berkembang.[39]

Dalam masyarakat berkembang beda dengan masyarakat Eropa-Barat, khususnya masalah pendengar intelektual dan pertentangan kelas yang akut. Kelas borjuis dan proletar di Negara-negara berkembang tidak terlalu terpisahkan. Dan rata-rata intelektualnya dinegara-negara berkembang pro-sosialisme. Tidak ada yang kearah kapitalisme. Walau kelompok penekan dipemerintahan, kaum intelektual ini kalah dengan pedagang, karena pengambil kebijakannya adalah "orang-orang tolol". Dimana tidak ada idealisme, tidak mau berfikir general dan komprehensip, serta mau enak saja. Dengan itu tawaran ide dari kaum intelektual kalah manis disbanding dengan kaum "pedagang".

Biasanya kaum pedagang menginginkan "liberalisasi", hambatan-hambatan mereka tak inginkan. Dan pemasaran ide mereka akan lebih laku, karena TV, Koran, dll media, kalau tidak kena aturan pererintah atas pemasaran ide bebas, terkena aturan yang lebih keras lagi yaitu "prinsip kapitalisme". Yang laku yang dijual, bukan yang baik dan benar, dan menguntungkan masyarakat umum. Inilah pertarungan yang abadi antara pemerintah, kaum borjuis dan kaum intelektual yang sadar akan rakyat dan bangsanya di Negara-negara berkembang.[40]

Problema konseptual pembentukan intelektual

Afghani mengatakan; ilmu pengetahuan diperkenalkan dinegara-negara Islam (negara berkembang-Pen) tanpa semangat penyelidikan. Sifat proses modernisasi yang tidak lengkap, merupakan penyebab keterbelakangan dimasyarakat berkembang. Tidak ada revolusi intelektual dan filosofis sebelum modernisasi dan proses perkembangan.

Penguasa-penguasa di Negara-negara berkembang menganggap fungsi pendidikan sebagai sarana peningkatan pengetahuan dan latihan untuk suatu profesi. Pendidikan tidak ditujukan untuk menghasilkan "manusia baru". Pendidikan di Negara-negara berkembang tidak mempengaruhi restrukturisasi mental yang ada. Ceruk-ceruk pikiran tradisonal tetap tak terpengaruh. Hal-hal ghaib, takhayul, nilai-nilai dan sikap kuno semuanya masih utuh, karena pendidikan modern memasuki system ini sebagai cangkokan asing yang dimasukkan oleh kekuasaan colonial saat itu atau oleh mereka-mereka (perencana pendidikan) yang tak menyadari permasalahnnya didalamnya.[41]

Banyak universitas yang dibangun tanpa semangat intelektual. Kebebasan berfikir, berdiskusi, memasarkan ide-ide dst. Organisasi-organisasi (universitas-universitas) yang dibangun seperti itu (dengan mengorbankan kebebasan) sama halnya belenggu yang membatasi kebahagiaan. Ketertiban, harmoni, birokrasi tak boleh menggangu inti dari pendidikan yaitu kebebasan ide dan pemikiran merdeka.

Alexis Stephanovich Hkomyyakov ( 1804-1860) mengatakan, walau ini pengamatan di Rusia, tetapi sangat relevan dengan Negara-negara berkembang;

“Sedih untuk dikatakan tetapi harus diakui; kita sangat tidak mengenal persyaratan pemikiran filosofis. Dinegara kita, kaum muda memasuki kedewasaan tanpa penyesuaian pikirannya dengan hokum perkembangan metodis, tak dapat memberikan penilaian yang tepat mengenai masalah yang agak abstrak, dan ketiadaan kemampuan inilah yang menyebabkan kehidupan dan sastra kita tak menggembirakan. Kebanyakan polemic dinegeri ini tidak mendatangkan manfaat yang dapat diharapkan. Anda telah membuktikan kepada lawan anda ketidaklogisan premis atau penyimpulannya. Dan kemudian? Sudahkah anda meyakinkannya? Samasekali belum. Pembaca juga tidak peduli tentang logika. Baik bagi dirinya maupun orang lain, tidak memerlukan, dan tentu saja apa yang tidak merupakan keperluan seseorang, tidak dapat dijadikan keperluan kehidupannya. Kelonggaran yang mengendur merupakan ciri pada kedua bidang ini. tentu saja, banyak yang mengira bahwa filsafat dan kebiasaan berfikir yang berasal dari logika itu hanya baik ( jika itu baik untuk sesuatu, yang lagi-lagi banyak diragukan orang) bagi kajian khusus dalam masalah dan bidang yang abstrak. Orang tidak berfikir bahwa kehidupan praktis itu sendiri hanyalah realisasi dari konsepsi abstrak yang dibawa masuk kedalam kesadaran yang kira-kira lengkap, dan suatu problema praktis seringkali mencakup suatu inti anstrak yang terbuka untuk penafsiran filosofis yang mengarahkannya pada pemecahan masalah secara benar.”[42]

Pencelaan berfikir logis dan metodis, dan kecendrungan untuk memandang pendekatan filosofis hanya baik untuk masalah-masalah abstrak, merupakan sifat khas golongan menengah dalam masyarakat berkembang, termasuk orang-orang terpelajar.

Oleh karena itu untuk mengubah lingkaran setan itu semua diperlukan “manusia-manusia baru”. Manusia yang mempunyai kegairahan kerja untuk kepentingan dirinya dan masyarakat dan manusia yang menyesuaikan perasaan dengan penalarannya.

Sebab tanpa itu, maka kita hanya berbicara kebaikan-kebaikan yang hanya isapan-jempol belaka. Bukan keluar dari inti kemanusiaan. Seperti kata Peter Lavrov (1823-1900) seorang anggota revolusioner partai Rusia.

“Jika yang berbicara tentang kecintaan terhadap kemajuan tidak merenungkan prasyarat bagi pelaksanaannya secara kritis maka sesungguhnya ia tidak pernah menginginkan kemajuan, bahkan hasratnya itu tidak tulus. Jika orang yang menyadari prasyarat kemajuan hanya menunggu secara pasif tanpa jerih payah sendiri, maka dialah musuh kemajuan yang paling parah, perintang yang paling menjijikkan untuk lajunya kemajuan. Orang-orang yang mengeluh tentang kejahatan zamannya, tak bernilainya manusia, stagnasi dan reaksi, haruslah ditanyai: dan anda sendiri, anda punya mata diantara orang buta. Anda orang sehat diantara orang sakit, tapi apa yang telah anda kerjakan untuk meningkatkan kemajuan?”[43]

Supaya perubahan dapat dilakukan dan berhasil, maka mula-mula kaum elit penguasa diubah, kemudian mereka menyebarkannya kepada masyarakat mereka dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Iklim pendapat yang dipersiapkan oleh kaum intelektual menjadi suatu kekuatan sesudah kaum elit yang dominant diyakinkan. Sebagian keberhasilan Jepang dalam modernisasi juga disebabkan kelompok intelektual yang berdedikasi, yang pengaruhnya tersebar luas, ikut ambil bagian dalam pemerintahan. Sebelumnya Jepang mempersiapkan, “manusia jepang baru” dengan restorasi Meiji-nya dengan kultur budaya dan mentalitas “Religi Tokugawa” ( dimana semua itu mengubah gaya, semangat dan gaya penalaran mereka).

Banyak Negara yang melakukan modernisasi, melakukan hubungan dengan barat, melakukan hubungan dan investasi serta kapitalisme tetapi ada yang sukses dan tidak. Kapitalisme di Australia menghasilkan kemajuan, tetapi sebaliknya di Chili dan Meksiko dan Indonesia. Jika modal asing menghancurkan disebagian Negara, tidak di selandia baru, Kanada dan Australia. Keserupaan bahasa, budaya buka sebuah jawaban, karena kapitalis tidak mengenal kasihan juga berlaku bagi bangsanya sendiri, apabila mungkin. Jawaban yang cukup “rasional” terletak pada kaum elit dominant dan sifat masyarakat yang mereka kuasai.[44]

Andai elit politik suatu Negara main gampang, tak disiplin, dan sikapnya tidak mawas diri, maka para pengikutnya akan bertipe sama. Inilah hukum imitasi yang berlaku dalam kehidupan social. Itulah pentingnya peranan kaum elit dominant dalam masyarakat dan pentingnya kaum intelektual memperhatikan mereka, kelahiran, dominasinya disamping memperkuat diri dalam memeran



[1] Syed Husein Alatas, “Intelektual Masyarakat Berkembanga “, LP3ES, 1988, ha115-16

[2] Disini mungkin menarik mengapa sebagaian orang, dan menjadi trand di Indonesia. Yang menginginkan mentri-mentri itu professional. Bukankah sebagaian jabatan mentri itu butuh ‘kaum intelektual”. Khususnya “perencana”. Staf-stafnya saja yang semestinya dan harus professional di bidangnya. Karena kalau tidak maka mereka hanya mampu berfikir dibidangnya. Walau untuk itu akhirnya dibentuk ‘badan coordinator”. Secara umum sama saja, sebab mereka hanya melihat bagian-bagian, bukan keseluruhan. Contoh intelektual menurut kami; Jamaluddin al Afghani, Khomeini, Soekarno, Agus Salim, Igbal dll. Sekarang misalnya Kwik Kian Gie, Amien Rais dll sekadar menyebut beberapa nama. Biasanya ini perlu didiskusikan; “ada minat ke filsafat, minimal terbiasa dan tidak tabu dengan itu, selain ilmu yang ditekuninya.”.

[3] Jamaluddin al Afghani, nama aslinya jamaluddin al Asadabadi (hasil penelitian mutakhir tentang dirinya). Diakui dan dikutib juga oleh noercholish Madjid dalam bukunya “Khasanah Intelektual dalam Islam”). Ia seorang syiah ( marja taklid, otoritas tertinggi masalah hukum), dan murid Murtadha al Ansyari. Karena takut dan untuk efektifnya perjuangannya, beliau mengaku dari Afghanistan bukan dari Asadabadi (Iran).

[4] Ini bisa dilihat di Indinesia, berapa % APBN untuk dana pendidikan, berapa banyak jurnal ilmiah yang terbit, diskusi-diskusi ilmish berkesinambungan (bukan sekali-sekali, “populis”, seperti seminar-seminar umum dan spesialisasi-spesialisasi tertentu).

[5] Menarik ini untuk dikembangkan; Islam maju, setelah berinteraksi dengan dunia luar dan menyerap ilmunya. Tetapi awal yang diserap adalah “filsafat”. Kita lihat buku-buku filsafat awal yang diterjemahkan, al Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd, ibn hkayyab dll, awalnya belajar atau menjadi “filosof/teolog”, lalu merambah ke ilmu-ilmu khusus seperti; kedokteran, fisika, matematika, kimia dll. Dan juga menarik apa yang dikatakan oleh Harun Nasution, dalam buku, “Islam ditinjau dari berbagai Aspeknya”, katanya, Islam saat jaya-jayanya, dinasti Abbasiyah. Waktu itu madzab yang dianut mayoritas adalah “mu’tazilah (penekanan pada rasionalitas), sedangkan setelah madzab ini hancur/tenggelam dan diganti oleh Asyariyyah (teologi yang kurang menekankan rasionalitas/akal), bersamaan dengannya tenggelam/mundurlah dunia islam. Walau stetmen ini dibantah oleh H.M Rasidi, dalam bukunya; “ Koreksi Dr. Harun Nasution tentang “Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya”. Beliau mengatakan mu’tazilah itu mayoritas saat itu karena “dipaksakan” oleh kerajaan.

[6] Nikki R. Keddie, “An Islamic to Imprerialism”, 1968, hal 104-105. Tulisan ini banyak terjemahan karya Afghani.

[7] S.H. Alatas, Ibid, hal 25. Menarik untuk kita kasih bebarapa contoh; bagaimana seorang doctor tehnik lulusan luar negeri, sangat rasional, sistematis dan metodis. Tetapi mereka sangat kolot dalam “beragama”, bahkan sangat irrasional. Tidak bisa berfikir logis masalah-masalah selain bidangnya. Ini contoh “intelegensia”. Untuk sekedar perbandingan walau agak berbeda pembahasannya; Apa itu intelektual, definisi, kerjanya, keingian dan sesuatu yang ingin diraih lihat Ali Syariati; “Idiologi kaum intelektual” (Mizan,1984), juga penting pengantarnya oleh: Jalaluddin Rahmat (penelusuran ulil albab dalam al-Quran). Juga Jalaluddin Rahmat, “Tafsir Sufi al Fatihah”, Rosda, cetakan-2, 2000. cacatan kaki no.33, hal 21.

[8] Menarik untuk melihat ini, Ada beberapa tujuan pendidikan (yang dilakukan dilembaga-lembaga pendidikan) secara praktik-empiris yaitu a) Memperoleh pengetahuan dan kemampuan kompetensi, b) Orientasi Humanistic, c) Menjawab tantangan-tangan social, ekonomi dan keadilan, d) Tujuan ilmu untuk ilmu itu sendiri.

Dari keempat kelompok ini kita dapat kelompokkan menjadi dua yaitu 1) Orientasi non-manusia (memperoleh pengetahuan dan keterampilan dan tujuan ilmu untuk ilmu ( a dan d) dan 2) orientasi manusia (orientasi humanistic dan menjawab tantangan social, ekonomi, ekonomi dan keadilan ( b dan c). Mengapa yang pertama kita katakana non-manusia? Sebab tujuan yang pertama ( a dan d) itu keluar dari kemanusiaan. Untuk mencari pengetahuan dan keterampilan serta riset ilmu, itu menyebabkan manusia keluar dari kediriannya. Ia hanya mempelajari untuk lapangan pekerjaan yang membutuhkan dia. Jadi apa yang mesti dan harus dipelajari disesuaiakan dengan tuntutan profesi, pekerjaan, industri dll. Demikian yang ke-4, dimana cari ilmu untuk ilmu, seakan ilmu itu bebas nilai dan seakan ilmu itu menuntut objektivitas untuk keilmiahannya. Padahal ilmu tak bebas nilai, dan memperoleh makna kebenarannya dalam tindakan praxis. Ilmu, kebenarar mengharuskan manusia untuk berpihak. Sedangkan yang ke dua (b dan c), Orientasi Humanistic dan Menjawab tantangan-tangan social, ekonomi dan keadilan,

Memang tidak berarti yang kedua ini tidak mencari ilmu, tetapi perolehan pengetahuan dan keterampilan bukan untuk kepentingan dirinya sendiri dan juga bukan demi pengetahuan itu sendiri, tetapi untuk pelayanan perkembangan manusia dan kesejahteraan manusia dan masyarakat. Sedankan pengetahuan orientasi humanistic, pendidikan diarahkan untuk membantu peserta didik mengembangkan kemampuan penalaran, kemampuan untuk mempertanggung jawabkan pernyataan-pernyataan, keyakinan tindakan dll. Bedakan dan lihat lebih lanjut, tulisan Haryatmoko, “Menggapai Kompetensi, menuai Kesadaran Kritis”, dalam Majalah BABIS, No 07-08, Tahun ke-51, Juli-Agustus 2002.

[9] Ivan alexandrovich Goncharov, “Oblomov”, terj Inggris 1968. Dalam S.H. Alatas, ibid, hal 40.

[10] Ini menggunakan kata-kata saya sendiri. Lebih lengkap lihat, N.A. Dobrolyubov, “Selected Philosophical Essay”, terjemahan J. Fineberg, hal 207-208. Dengan judul “What is Oblomovschina?”. S.H Alatas, hal 42.

Kita bisa simak ini dalam perpolitikan kita, dimana apapun bisa dikompromikan total. Tak ada yang harga mati, serius dan mengharuskan. Semuanya situasional, dangkal dan hanya sebuah “permainan kekuasaan”.

Ini juga terkadang disalah artikan dalam perbedaan keagamaan misalnya; Ada Islam-Kristen, Sunnah-Syi’ah, Ada Muhammadiyah-NU dll. Mereka saling bertentangan bahkan sampai bentrok. Di Indonesia Muhammadiyah-NU sudah jarang bentrok, mereka sudah saling rujuk. Kristen-Islam masih sering salah faham, juga Sunnah Syi’ah. Ada orang-orang yang getol dalam keributan itu, ada yang biasa-biasa saja dalam menyikapi perbedaan itu. Kadang orang yang biasa-biasa saja dalam menyikapi hal ini dianggap baik. Karena umumnya mereka bisa “baik” dikedua belah pihak.

Orang yang biasa-biasa saja, ini harus kita bedakan dalam dua kategori; 1) Biasa-biasa saja menykapi perbedaan maszab Sunnah-Syi’ah atau Kristen-Islam. Karena mereka faham betul aturan main “agama”, perkembangan dari pemikiran ke madzab (dan agama). Ia faham pluralisme baik madzab dan agama dll. Kalau mereka bukan “ahli agama = spesialis”, biasanya orang-orang ini “intelektual” (perlu diskusikan lebih lanjut, kami hanya membuat hipotesa disini).

2) biasa-biasa saja karena penyakit oblomovisme, ia menganggap dan punya konsep “biasa ajalah”, dan “tak perlu serius”.. Tak perlu rebut-ribut masalah-masalah itu dll. Mereka menganggap masalah seperti itu biasa jadi tak perlu dibuat serius, apalagi bentrok dst. Mereka tidak melihat apapun itu serius. Bukan karena dia faham memang perbedaan itu tak perlu dibuat besar dan sangat serius, tetapi sikap itu bukan karena pengetahuannya, bukan karena pemahamannya. Tetapi karena sikap tak mau sulit, tak mau repot, apalagi mikir, studi serius, mana-mana yang prinsip yang boleh dilebur dan mana yang tidak, batasan-batasan pluralisme dst. Orang seperti ini bukan baik, tetapi mengindap watak oblomovis.

Ini juga terjadi dalam pemerintahan oblomovis. Pejabatnya melakukan rujuk madzab atau agama dengan pluralisme-simbolik. Mendirikan masjid, gereja, pure dll dalam satu komplek (dilakukan gubenur jatim, Basofi Sudirman di Surabaya). Melakukan doa bersama tanpa pemahaman yang jelas dll.

Menarik untuk melihat India, dimana karena oblomovis atau lainnya (penulis belum punya bukti lengkap), perbedaan agama, madzab, clan dll dilebur dengan “serampangan”. Sehingga mereka “seakan sangat beragama, tapi tak beragama.”. Kita bisa lihat film-film India. Mereka umumnya menampilkan perkawinan antar agama, antar sekte/madzab dll. Dalam film-filmnya selalu ada gereja, kuil, masjid. Pemain Islam, Kristen, Hindu tak jelas mana mereka. Dan kalau kita lihat data; bentrok antar madzab (hindu/islam/kristen) disana cukup banyak. Kita bisa bedakan kontras itu dengan film-film Indonesia. Dimana nuansa masjid-gereja dll jarang tampak, kecuali film yang jelas settingnya (orientasinya).

Menganggap suatu masalah itu hal yang “biasa”, itu bisa karena dia tahu (baik), karena kebodohan (sangat tidak baik), karena tak mau repot-repot (oblomovis, berbahaya).

[11] Saya kurang sepakat dengan konsep ini, sebab konsep ini, walau dikonsepkan dan didefinisikan dengan yang lain. Tidak menutupi arahnya sebaik konsep dan kata “oblomov”. Memang tujuan S.H. Alatas, supaya konsep itu berakar dari budayanya sendiri, tetapi kata “Bebal” itu konotasinya secara kamus adalah “bodoh secara IQ, sulit diajar, cendering salah dll”. Sedangkan konsep intelegensia tidak menunjukkan sama sekali orang “Bebal”, bahkan mereka itu sangat pandai untuk ilmunya. IQnya banyak dan rata-rata tinggi. Banyak para intelegensia itu Phd dari luar negeri, lulusan Cum-laude dari perguruan tinggi ternama. Mudah diajari untuk ilmu spesialisnya dst.

[12] L. Levy-Bruhl, “How Native Think”, dalam S.H. Alatas, hal 44. Walau ditegaskan lebih lanjut, Alatas tidak setuju dengan terusan buku-buku itu. Perujukan ini saya melihat hanya upaya Alatas untuk membuat konsepnya “Bebalisme” bisa bagus. Karena dia tidak ingin menggunakan konsep “oblomov” yang bernuansa Rusia.

[13] Menarik disini ditambahkan. Orang yang “alim” biasanya tak banyak mengeluarkan ayat al-Qur’an, kecuali untuk memperkuat argumennya. Atau sekalian mengeluarkan banyak ayat-ayat untuk mengambil kesimpulan dari kumpulan ayar-ayat itu. Lain dengan oang yang “katanya alim”. Biasanya orang ini memberikan fatwa hukum dengan kutipan satu dua ayat dan hadist. Sering menggunakan atau mengambil ayat atau hadist. Padahal ayat-ayat al-qur’an itu saling memperkuat dan “tidak mudah” untuk comot satu, dua ayat atau hadist.

Atau contoh lain; memberikan fatwa hukum karena kasus yang sama, atau dianggap sama pernah ditanyakan dan ditulis dalam kumpulan fatwa ulama fulan bin fulan dst. Padahal secara rasional umum, pertanyaan dengan konteks a, b, c, d, jawabnya mungkin x. Sedangkan pertanyaan yang sama dengan konteks a, b, c, d, ditambah e, apalagi f, maka jawabannya bisa juga masih x, tetapi bisa dan sangat mungkin y. inilah bedanya orang-orang intelektual (alim) dengan “yang dianggap alim (bebal atau mungkin intelegensia).

[14] Ini menarik bila kita lihat tayangan TV swasta kita saat ini, sejak tahun 2002, televise swasta berlomba untuk menyiarkan acara-acara tahayul. Seperti “penampakan”, “Uka-uka”, “dunia lain”, “Pengusir hantu”, “pengobatan alternative” dll. Juga siaran doa-doa yang lebih menarik pemirsa dari pada sesuatu yang ilmiah. Kita lihat acara-acara tahayul itu makin marak bahkan hampir semua canal TV ada. Bedakan acara-acara doa-doa dan acara “Pengajian ilmiah Qurais Shahab”. Sekadar memberikan contoh perbandingan.

Juga acara-acara TV, umumnya lebih kearah hal-hal yang irasioanal (walau mungkin bukan tahayul); percintaan anak-anak smp/sma (mendominasi acara jam-jam dengan spot iklan termahal, yaitu jam 8 sampai 9 malam), Jailangkung, Ajari aku cinta, Babi ngepet dll. Ini menunjukkan indikasi bahwa bangsa ini perilakunya lebih kearah “irasional” dari pada meninggalkan irasionalitas itu. Pengelola TV mungkin hanya berprinsip “kapitalisme”, apa yang laku itulah yang dijual. Menguntungkan atau merugikan secara “keseluruhan”, cuek aja. Itu bukan masuk keidealisme mereka.

[15] Bagaimana Gus Dur tak mau keluar dari kantor PB NU walau kalah telak dalam pemilihan ketua NU (2004), Bagaimana mentri Agama, Sayyid Agil Munawar, percaya legenda dan tahayul harta karun, harta peninggalan revolusi, “Batu Tulis”. Bagaimana pemilihan, naik turunnya pejabat hanya dilakukan karena suka-tidak suka. Asal tidak Mega, Asal tidak habibie, kiai-kiai mengeluarkan fatwa “haram memilih presiden perempuan, setelah itu berubah”. Dan masih banyak lagi yang lain, yang lebih memalukan. Bagaimana DPR hampir seluruhnya di salah satu provinsi kena pidana korupsi, tetapi masih dicalonkan dan mencalonkan diri dan duduk kembali di lembaga legislative? Dll, dll, dst.

Mengaku menjadi Imam Mahdi, mengaku menjadi “Bunda Maria”, lalu mengajak bunuh diri masal, membakar dirinya dll. Ini terjadi di AS, Jepang, Indonesia. Yang aneh pengikutnya, tidak sedikit yang doctor, ahli teknik, pengusaha, insinyur, dokter dll. Ini menunjukkan mereka itu bebal, intelegensia sama sekali bukan “intelektual” .

[16] Makanya tak heran saat ada keinginan untu membedakan pegawai honorer (pegawai yang dipekerjakan di lembaga-lemabaga tertentu, dan digaji oleh Negara. Sekalipun dia bukan PNS) dengan PNS soal seragamnya. Banyak mereka yang protes tak setuju. Sebab seragam itu simbul status ditempat-tempat mereka (umumnya desa atau kota-kota pinggiran).

[17] Ini terkadang membuat sertifikasi, absensi menjadi sangat penting buat mereka. PNS sering kuliah, atau ikut seminar hanya untuk dapat sertifikat, yang berarti point untuk mempercepat kenaikan pangkat. Bahkan sangat sering (dan itu menjadi ajang bisnis dan penggerogotan lembaga pendidikan) PNS kuliah S-1 atau S-2 dengan serampangan. Kuliah hanya 4 semester (S-1), 7 bulan selesai untuk S-2, bahkan S-3 hanya 1 tahun. Kuliah itu sangat memperihatinkan secara keilmuwan. Tetapi mereka tidak peduli itu sebab, kuliah S-2, biaya bisa diperoleh dari departemen, dengan sertifikat S-2,S-3, otomatis mereka punya hak untuk naik pangkat tertentu, yang artinya gaji tertentu dan kekuasaan serta hak-hak tambahan tertentu. Bahkan yang ironis IKIP (Institut Keguruan) tertentu (umumnya swasta, mengadakan kuliah-kuliah jarak jauh yang sangat jelas orientasi bisnis tanpa mengindahkan “idealisme keilmuan”. Mereka menawarkan S-1 ( 4 semester) dll.

[18] Ini sangat mencolok terlihat, seperti diatas (cacatan no 17). Juga bukan jadi rahasia lagi PNS tak masuk kerja hanya “titip absent”, atau masuk tapi main catur dikantornya atau hanya ngobrol-ngobrol tak ada kerja, juga bagaimana (disini yang dilihat PNS guru, SMP dan SMA) guru-guru itu (kewajiban kerja/ngantor 5 hari), tetapi mereka rata-rata hanya 2 atau 3 hari kerja, selainnya mereka mencari tambahan dengan mengajar di sekolah-sekolah swasta.

[19] Apalagi dengan sentiment kepartaian sekarang. Kiai tradisional-pun banyak yang jadi bupati karena partainya menang. Bahkan informasi dari kenalam boleh disebut teman penulis saat kuliah pasca sarjana di Univ Brawijaya Malang. Dia (anggota DPR dari PDI-P kabupaten salah satu kota di Jatim) mengatakan; “saya kuliah ini atas biaya dinas (dibiayai negara), karena tak satupun dari anggota DPR tempat saya yang bisa baca laporan keuangan.” Dia kuliah S-2 ekonomi, yang menarik (dan lucu) teman saya itu waktu masuk pertama (kuliah perdana), berpakaian merah, Hp merah dst (mencerminkan partainya). Dan karena itu menjadi bahan lelucon di kelas. Dan betul dugaan saya (sebelumnya), dia hanya bertahan tak sampai satu semester kuliah. Tak tahu kemana setelah itu.

[20] Kata “tolol”, kami samakan dengan “pandir” yang dipakai oleh S.H. Alatas dalam, ibid hal 58.

[21] Tahun 2002/2003 Mentri P&K dan Diknas mengeluarkan aturan; anak-anak kelas tiga (SMP/SMA) dinyakan lulus sekolah, bila nilainya diatas 3,00. untuk tiga mata ujian (Matematika, B.Indonesia dan B. Inggris). Tahun ajaran 2003/2004 Mentri P&K dan Diknas menaikkan standart itu menjadi 4,00. dan saat ini mereka kebingungan karena (menurut sebagaian opini) yang tidak lulus sebesar 50% keatas. Karena malu dll (dianggap kurikulum, simstem yang dibuat tak benar), Mentri dan Diknas mengeluarkan jurus “Konversi”. Setelah tercium bau konversi itu (terutama sekolah-sekolah yang berdampingan yang satu sekolah ‘baik’ yang lain sekolah dengan kualitas’kurang baik’) ternyata nilainya berbalik. Maka ramai- ramai mempertanyakan dan keluarlah “rumusan-rumusan konversi” itu. Dimana dengan ini maka 40%lebih anak anak bisa tertolong untuk lulus. Tetapi anehnya setelah kebijakan 2003/2004 yang kacau itu. 2004/2005 keluar kebijakan, standart lulus dinaikkan menjadi 5,00.

[22] Konon memang banyak merebak kisah kesaktian dan keheban Soekarno, mantan presiden RI pertama dan proklamator kemerdekaan. Karena karisma dll banyak mitos diseputar dirinya. Misal; dimasyarakat awam terkenal bahwa beliau punya kaca-mata kalau dipakai melihat orang itu terlihat tenjang dll. Dan dalam kampanye-kampanye juga keluar mitos-mitos itu, bahkan di media-media masa. Beliau dikatakan punya kekayaan yang sangat banyak yang disimping di Bank Swiss. Kekayaan Itu memang dipersipkan untuk dana revolusi dst. Kalau itu diambil maka selesailah dan mampu terbayarlah hutang-hutang luar negeri Indonesia yang mencapai lebih dari 1000 trilyun rupiah itu ( saat anaknya Megawayi jadi Persiden Ke-5 RI). Cerita-cerita itu sangat banyak di masyarakat awam dan sebagaian naik ke kalangan atas. Karena kebingungan mungkin atau tak tahu bagaimana; akhirnya Megawati Soekarno Putri ( anak Presiden RI-Pertama, Soekarno) presiden ke-5 RI, mengeluarkan mitos itu bahkan “menguatkan”, lalu diteruskan bentuk operasioanl oleh Sayid Agil Munawar, Mentri Agama RI saat itu.

[23] Disini kami tak ingin membahasnya, karena pembahasan mentalitas priyanyi sudah sangat banyak dan umum. Buku Clifford Geerzt, “Abangan, Priyanyi dan Santri” sangat baik untuk mengetahui bagaimana mereka.

[24] Disini bukan berarti bahwa system itu tak ada gunanya sama sekali, atau demokrasi sama dengan otoritarian. Tetapi itu akan sama saja bila “orang-orang tolol” banyak dalam pemerintahan dan pembuat perencanaan. Lihat Negara otoriter Singapura, negaranya maju, rakyatnya makmur, system pendidikan, kesehatan dan ekonomi baik dibanding Indonesia yang lebih demokratis.

[25] Saya contohkan Indonesia, karena lebih mudah dibandingkan contohnya negara lain.

[26] Sebagai contoh disini kwik Kian Gie, walau dia diatas (sebagai pejabat tinggi), tetapi kritik kerasnya pada IMF lumayan terdengar. Walaupun presiden RI (Susilo Bambang Yudoyono) memilih Sri Mulyani (Pro-IMF) sebagai Mentri coordinator Perencana Pembangunan. Tetapi secara umum, opini public sudah tidak puas dengan IMF.

[27] Bahkan sebagaian "anti intelektual", atau penghambat intelektual. Tetapi mereka itu mudah dititipi agenda yang baik-baik. Walau teknis ini bisa diabaikan (tergantung situasi dan kondisi).

[28] Modernisasi ini diartikan sebagai, makin banyaknya penggunaan nalar dan rasio dalam pengembangan tingkah laku, rencana atau kebijakan. Bukan diartiakn sebagai "makin kurangnya kooptasi langit terhadap bumi". Walau nantinya akan mengarah kesana yang "positif".

[29] Diundangkannya jumlah legislative perempuan minimal 30% dari total jumlah. AS dan Eropa saja tidak mematok seperti itu. Itu dibiarkan menggelinding dengan penyadaran dan pengangkatan harkat hidup dan penyadaran kaum perempuan. Bukan pematokan-pematokan seperti itu.

[30] Kasus terorisme, Ba'asir dll, tak boleh menyita waktu, kosentrasi pemerintah dan bangsa.

[31] Pemilihan pemimpin daerah langsung ( yang dimuali tahun 2005), demo-demo diluar aturan, wibawa pemerintah, TNI-Polri yang rendah dan tak professional dst. Ini bisa dilihat bagaimana preside Susilo Bambang Yudoyono, tak jadi ke ITS (Institut Tehnologi 10 Nopember Surabaya) karena dihadang mahasiswa (Kompas 23/12/04). Padahal problem dan kesalahan presiden saat itu sangat kecil ( pemerintahan belum berumur 100 hari), terpilih dengan demokratis, mutlak, dan diterima umum hasil pemilunya dst.

[32] Standart hotel untuk pejabat tinggi-negara (hotel bintang 5 misalnya), mobil Volvo, dan fasilitas-fasilitas dinas lainnya. Sebuah bangsa itu akan punya "harga diri", bila bangsa itu; Kaya, Kuat atau tidak butuh pada yang lain walau ia miskin dan lemah. Orang atau bangsa tidak akan ada harganya bila ia tak punya malu, serta miskin dan lemah. AS tak punya malu dengan standart-standart gandanya, tetapi ia disegani karena kaya dan kuat. Iran disegani walau ia miskin dan lemah, tetapi negaranya tidak butuh/merengek-rengek dengan negara lain.

Negara tidak akan merengek-rengek, bila ia menginginkan sesuai dengan kemampuannya, bukan menginginkan sesuai dengan "standart umum", apalagi "standart international". Gaji 2 juta cukup, dan tak perlu ngutang bila seseorang tak menginginkan mobil atau rumah. Tetapi itu akan kurang bila ia menginginkan mobil, rumah dst. Apa yang ditempuh untuk itu? Ngutang dengan bunga, mencuri. Apa konsekuensi orang utang. Ia terikat dengan aturan-aturan utang, dan dia dibawah control yang mengutangi. Akan malu, sungkan, minimal punya rasa hutang budi atas kebaikan si-pengutang tadi. Inilah yang terjadi di Negara Indonesia saat ini.

Disinilah perlu apa yang disebut "sense of crisis", mari melarat bersama-sama. Dengan itu maka Negara-negara berkembang akan punya harga diri dan tidak dihina dan dilecehkan seperti Indonesia saat ini. AS, Eropa dengan seenaknya memaksakan kebijakannya pada kita, tetapi yang aneh lagi, Malaysia, Singapura, Australia juga ikut-ikutan tidak menghargai Negara ini.

Malaysia memperkarakan pulau diperbatasannya, dan akhirnya dimenangkan olehnya. Indonesia kehilangan tiga pulaunya. Mengusir Tenaga kerja Indonesia dinegaranya dengan “kasar”. Singapura selalu menjadi tempat persembunyian koruptor-koruptor Indonesia, tetapi apabila diajak mengadakan perjanjian ekstradisi, mereka selalu menolak. Astralia membuat uu kelautan territorial (AMIZ, Austalian Maritim Identification Zone) yang bila diterapkan, jelas akan merugikan Indonesia karena masuk kewilayah territorial Indonesia dst (Kompas 26/12/04, Kerikil dalam Hubungan Indonesia-Australia). Timor-timur, salah satu propensi Indonesia yang melepaskan diri menjadi Negara merdeka, mengusir rakyat Indonesia disana, tetapi dengan manis Menlu Hasan Wirayuda berjabat tangan dan membuat kesepakatan-kesepakan manis dengan Ramos Horta, Menlu Timor-tomor ( Timor Leste). Seakan tidak terjadi apa-apa disana, mengangkut warganya.

[33] Liberalisasi artinya adalah "kekuasaan atau peran pemerintah dikurangi sedemikian hingga minimal, khususnya dalam masalah-masalah ekonomi". Ini adalah konsesus Wastinton. Indonesia karena pengaruh Negara donor dan IMF terkena dampak ikut-ikutan liberalisasi itu. Dan dipaksa serta "akhirnya senang" dengan liberalisasi itu. Menarik apa kata pakar ekonomi, peraih hadiah nobel Joseph E Stiglitz. Liberalisasi itulah yang turut menghancurkan Indonesia dan potensi besar korupsi. Liberalisasi tanpa kesiapan infrastruktu-borokrasi yang memadai akan menyuburkan Korupsi (Kompas 15/12/04). Khusunya liberalisasi perbankkan ( Mungkin pakto-88). Dan ini anjuran atau tekanan IMF. Bahkan sekarang maunya Migas, listrik dll disuruh untuk dilepas dari pemerintah diberikan kepasar. Eropa, utamanya AS sama sekali tidak melihat "kurva-belajar" social sebuah bangsa. Dimana merekapun mengalaminya itu. Dengan jatuh-bangun akhirnya punya kesiapan liberalisasi seperti sekarang.

[34] Bahkan Rusia, Cina dan Singapura sampai sekarang masih non-demokratis. Tetapi mereka berhasil dalam industrialisasi, modernisasi.

[35] Menarik untuk menyimak buku, Peter L. Berger, sosiolog pro kapitalisme-liberal, dalam bukunya "Revolusi kapitalisme", LP3ES. Yang mengulas itu.

[36] Edward Shils, "The Intelectuals in The Political Development of the New State", dalam J.H. kautsky (ed.), Political Change in the Underdeveloped Countries, 1962 hal 198.

[37] Haul-haul kiai (ulama-ulama tradisional), ceramah Zainuddin MZ, Abdullah A Gymnastiar, Ust Haryono dll, sekadar menyebut nama.

[38] Kita lihat Amien Rais, keintelektualannya terlihat saat mulai melakukan agitasi kepemerinyahan orde-baru. Tetapi setelah reformasi. Bukan kelompoknya yang menang, bukan partainya yang banyak. Tetapi kelompok-kelompok yang diam. Seperti Megawati (PDI-P), Akbar Tanjung (Golkar) itulah yang berkuasa. Demikian juga Sri Bintang Pamungkas. Noercholish Madjid agaknya berbeda. Ia punya setting sendiri dengan kelompok besarnya HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Organisasi ini punya tradisi politik dan keilmuan "lumayan baik" dibandingkan dengan lainnya. Sehingga Noercholish Madjid bisa besar tanpa mengharuskannya melakukan agitas politik yang cukup intent seperti teman-temannya bila ingin "besar", dilihat oleh umum. Juga ICMI (ikatan cendikiawan muslim) walau organisasi ini kurang jalan sekarang. Tetapi itu bisa membuat "intelektual" memberikan opini dan didengar umum tanpa berlawanan dengan pemerintah saat itu (tahun 1990an). Contoh disini adalah Adi Sasono.

Disayangkan fenomena Gus Dur dengan "kapasitas intelektual yang baik", dengan memimpin organisasi yang terbesar di Indonesia, tidak mampu berbuat apa-apa untuk mentranformasi kelompoknya apalagi Negara RI, bahkan dia terjebak dalam kekuasaan dan politik (menjabat presiden RI ke-4, padahal partainya hanya mendapat 7%). Didukung sentiment agama, dan banyak yang tidak menghendaki perempuan, megawati soekarno putrid jadi presiden (disinyalir banyak Kelompok kresten dipartainya-PDI-P). juga didukung oleh ulama-ulama tradisional (yang rata-rata kelompok Gus-Dur) dengan "fatwa-fatwa politik", haram presiden perempuan. Megawati dengan partainya waktu itu mengusai 35% suara. Setelah Gus-Dur turun fatwa-fatwa itu tidak ada lagi. Bahkan saat pemilihan presiden yang ke-6, PKB (partai binaanya Gus-Dur dan kelompoknya-NU) justru mendukung Megawati-Hasyim Muzadi untuk jadi Presiden (putaran kedua). Hasyim Muzadi saat itu satu paket dengan Megawati sebagai wakil presiden.

[39] Bedakan dengan, S.H. Alatas, op cit, hal 103.

[40] Lihat lebih lanjut. Lewis A Coser, "Men of Idea", New York, 1965, hal 88.

[41] Lihat cacatan kaki no 8.

[42] “ On Recent Developments in Philosophy”, dalam Rusiian Philosophy, hal 222.

[43] Peter lavrov, “Historical Letter”, dalam, Russian Philosophy, vol. II, hal 145. S.H. Alatas, hal 134.

[44] S.H. Alatas, op.cit, hal 180.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar