Laman

Minggu, 21 Maret 2010

(1) Filsafat Psikologi (Fenomenologi dan Eksistensial)

FENOMENA PSIKO-FILOSOFIS EKSISTENSIAL

PENGANTAR METODE “FILSAFAT” FENOMENOLOGI

A. PENGANTAR

Perdebatan filsafat tidak ubahnya seperti debat kusir dan membosankan. Sebab apabila kita simak maka mereka (berbagai kelompok pemikiran) itu tidak ada yang mau dan ingin merobah pendiriannya. Mereka kalau tidak Idealisme/Rasionalisme mereka akan memposisikan diri menjadi Empirisme/Realisme. Dimana itu semua sebenarnya terjadi karena problema posisi “Subjek” (yang berfikir, bertindak, mengetahui, berkesadaran, manusia) dan “Objek” (yang difikirkan, ditindaki/diekplorasi, diketahui/dianalisa, tidak berkesadaran, lingkungan diluar manusia)[1].

Idealisme / Rasionalisme mengatakan bahwa apapun yang kita ketahui itu sama dengan apa yang kita miliki dalam roh/jiwa, apa yang diluar kita hanya klarifikasi, apa-apa yang sudah kita ketahui dalam jiwa/roh. Sehingga tidak ada realitas yang terlepas dari roh. Ada yang berfikir ekstrem “Yang ada adalah yang terfikirkan”.Terjadi disini Subjektivitas absolut. Dimulai oleh Plato, dan kelompok ini antara lain: Descartes, Spinoza, Leibnis, Immanuel Kant, Hegel dan lain-lain.

Sedangkan Realisme/Empirisme mengatakan ada hal-hal yang riil/diluar kita, sedangkan kita mengetahui itu lewat persepsi/penampakan. “Realitas” diketahui sebagai suatu yang tertutup dan bergantung pada manusia. Dan kemampuan/pengetahuan kita itu diasalkan dari hal-hal yang riel itu. Diawali oleh Aristoteles, diteruskan oleh Berkeley, David Hume, Francis Bacon, Positivisme (B. Russel, Ayer) dan lain-lain.

Intinya adalah sekalipun berbeda, perdebatan itu tetap beranggapan bahwa kita dapat mengetahui realitas itu dengan sepenuhnya secara tuntas. Sekalipun Kant mencoba menjembatani kedua perdebatan tersebut dengan ke-14 kategorinya dengan susunan pemikiran (analitis, sintetis aposteori dan sintetis apriori). Dan membagi antara “ada dalam dirinya” (das ding an sih = Neomena) dan ada yang dapat kita ketahui (Das ding fur Mich = fenomena), Tetapi tetap ia terjebak ke dalam Idealisme/rasionalisme yang cukup ekstrem. Perdebatan itu mulai ada variasinya setelah keluarnya ahli matematika Edmund Husserl dengan Filsafat dan Metode Fenomenologinya..

B. DEFINISI DAN PENGERTIAN

Secara etimologis, Fenomenologi dari asal kata Fenomen, inggris: Phenomenon; Yunani: Phainomenon (apa yang tampak) dari Phaonesthai/Phainomai/Phainein (menampakkam, memperlihatkan). Artinya adalah: Objek persepsi[2] (baca = apa yang diamati), apa yang tanpak pada kesadaran kita. Objek pengalaman Indrawi (apa yang tampak pada panca indra kita). Suatu fakta atau peristiwa yang dapat diamati.[3]

Kant mengatakan, bahwa kita hanya bisa mengetahui sesuatu itu lewat penampakannya saja. Sedangkan benda itu sendiri sebagai dirinya (neomenon) tidak mampu kita ketahui. Yang dapat kita ketahui adalah ia (benda itu) sebagai objek, gejala, fenomena.[4]

Fenomenologi bukan suatu system atau aliran filsafat, juga bukan suatu disiplin ilmu. M.A.W. Brouwer menyebutkan bahwa; jika melihat karya-karya Husserl, bisa diperoleh gambaran bahwa fenomenologi itu suatu pendekatan atau cara melihat sesuatu.[5] Marleau-Ponty menjelaskan fenomenologi sebagai filsafat yang berusaha mengembalikan essensi kedalam eksistensi, suatu filsafat yang tidak mengharapkan akan sampai kepada pemahaman manusia kecuali dengan bertitik tolak dari faktisitas[6] manusia. Ponty juga menyebut fenomenologi sebagai metode pemahaman manusia dengan cara mendeskripsikan pengalaman-pengalaman manusia sebagaimana adanya. Sedangkan Hall dan Lindzey[7] mengatakan fenomenologi sebagai metode pendiskripsian data dari pengalaman segera (immediate experience), suatu metode yang ditujukan untuk ‘memahami’ ketimbang ‘menerangkan’ fenomena.

Seperti kata Misiak dan Sexton, setiap Eksistensialis adalah fenomenolog, yakni menganalisa situasi keberadaan manusia melalui pengamatan langsung atas pengalaman manusia. Tetapi tidak semua fenomenolog adalah Eksistensialis.[8]

Fenomenalisme adalah pandangan yang mengatakan; 1) Hanya fenomena (data inderawi) dapat diketahui sebagaimana fenomena tersebut tampak kepada kesadaran kita, 2) Kita tidak dapat mengetahui hakikat terdalam dari suatu ke­nyataan yang berada di dalam dirinya sendiri. 3) Apa yang kita ketahui tergantung pada kegiatan kesadaran. Realitas obyek lahiriah, fisis berdasarkan pengamatan, pen­cerapan seseorang. 4) Pengetahuan dibatasi pada apa yang dapat dicerap (diamati secara sadar terhadap dunia luar dan dibatasi pada apa yang dapat dicerap dengan introspeksi tentang kegiatan dan keadaan mental kita. 5) Realitas merupakan totalitas pengalaman-pengalaman sadar yang mungkin ada. 6) Materi merupakan kemungkinan permanen bagi pencerapan (sensasi). Obyek-obyek material merupakan rangkaian atau gugusan kelompok cerapan inderawi yang aktual atau yang mungkin. Dunia fisik tidak dapat dikatakan terpisah dari data inderawi seorang pengamat, baik yang aktual maupun yang bersifat potensial. 7) Obyek fisik (material) merupakan konstruksi logis berdasarkan persepsi (data indrawi). Arti pernyataan tentang obyek fisik, se­luruhnya dapat dianalisis dalam kaitan dengan pernyataan tentang pola-pola data inderawi, atau seluruhnya dapat dikembalikan kepada pernyataan tentang pola-pola data inderawi (feno­mena). 8) Berbeda dengan idealisme epistemologis, fenomenalisme dalam arti yang tepat menegaskan dan menandaskan eksistensi segala sesuatu yang terlepas dari pikiran (berbeda dengan idealisme Hegel). Tetapi hakikat segala sesuatu yang berada dalam dirinya sendiri tetap tidak dapat kita ke­tahui (sama dengan Immanuel Kant). Di sini pula letak perbedaan antara realisme dan feno­menalisme. Kaum fenomenalis menegaskan bahwa segala sesuatu memberikan kesan-kesan kepada kita. Dalam kesan-kesan ini, segala sesuatu tampak kepada kita sesuai dengan ciri khas subyek bersangkutan[9]. Dan gejala (kesan) yang kita terima secara pasif ini merupakan obyek pengetahuan kita. Oleh karena itu, fenomenalisme berbeda baik dengan realisme maupun dengan idealisme. Idealisme mengatakan bahwa obyek pengetahuan dihasilkan secara aktif oleh pikiran kita. Karena kesan-kesan atau gejala berbeda sesuai dengan kekhususan masing-masing subyek dan karena bagi fenomenalisme, yang benar adalah apa yang tampak, maka fenomenalisme — dilihat dan sudut logi­ka — merupakan suatu bentuk relativisme. [10]

Fenomenologi yaitu Ilmu tentang fenomen-fenomen atau apa saja yang tampak (filsafat yang berpusat pada analisis terhadap gejala-gejala yang membanjiri diri kita).[11]

C. FILSAFAT FENOMENOLOGI

Banyak yang menggunakan istilah dan teori penampakan (fenomenologi) ini, tetapi semua itu tidak definitif dan jelas. Baru setelah Edmund Husserl Fenomenologi sebagai Metode dan Filsafat memiliki bentuk yang jelas dan difinitif, sekalipun nantinya berkembang berbagai penafsiran dan perbedaan-perbedaan metode itu dengan murid-muridnya.

EDMUND HUSSERL (1859-1938)

Menurut Husserl, “prinsip segala prinsip” adalah hanya intuisi langsung (dengan tidak menggunakan perantara apapun juga) dapat dipakai sebagai kriterium terakhir bidang filsafat”.[12]Baginya tidak ada selubung atau tirai yang memisahkan kita dari realitas; realitas itu sendiri tampak pada kita.[13]Kesadaran kita tidak dapat dibayangkan tanpa sesuatu yang disadari. Supaya ada kesadaran memang diandaikan tiga hal yaitu: 1) Ada “Subjek”, 2) “Subjek” itu terbuka untuk objek-objek, dan 3) ada “Objek”. Jadi ada keterarahan “Subjek” kepada “Objek-objek”, yang menurut istilah Husserl disebut Intensionalitas.[14] Objek-objek harus diberi kesempatan untuk “berbicara”, artinya biarlah fenomena-fenomena itu membanjiri diri kita. Sehingga yang nampak pada kita adalah berbagai jenis perspektif (tampak depan, samping, belakang, atas dan lain-lain). Dengan “variasi eidentis” (dalam fantasi kita membayangkan gejala-gejala dalam macam-macam keadaan yang berbeda, sehingga akhirnya nampak apa yang merupakan batas invariabel dalam situasi-situasi berbeda ini. Yang muncul adalah unsur-unsur tak berubah-ubah yaitu hakekat, Wesen (jerman), yang dicari.[15]

Untuk mencapai ini perlu tiga hal reduksi yaitu; Pertama, menyingkirkan segala sesuatu yang subjektif. Sikap kita harus objektif, terbuka kepada gejala-gejala yang harus “diajak bicara”. Kedua, menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang objek yang diselidiki yang diperoleh dari sumber lain (harus diambil dari interaksi objek itu sendiri dalam penampakannya/ konstitusi, menurut bahasa Husserl[16]). Ketiga, menyingkirkan seluruh tradisi pengetahuan. Pada masa-masa akhir ia (fenomenologi) tampak cenderung mengarah ke-idealisme.[17]

Suatu fenomena tidak pernah merupakan sesuatu yang statis, artinya sesuatu fenomena bergantung dari sejarahnya. Sejarah selalu hadir dalam cara kita menghadapi realitas. Tidak mungkin melihat sesuatu tanpa melihat sejarahnya dan cara beradanya.[18]apa yang masuk pada persepsi kita, itu sangat dipengaruhi oleh subjek (pengamat); mulai dari emosinya, sudut pandangnya, kecendrugannya dan lain-lain. Dan juga oleh beradanya objek. Objek mempengaruhi subjek, juga sebaliknya. Objektivisme tidak mungkin, tetapi tidak berarti disini mengarah kesubjektivisme.

HEIDEGGER

Heidegger dalam fenomenologinya mengedepankan tiga soal pokok. Pertama, siapakah manusia itu? Kedua, apakah Ada yang konkret itu? Ketiga, yang paling serius, apakah Ada yang tertinggi itu? Yang pertama, Heidegger mengajukan pertanyaan ini. Apakah arti “Aku ada?” Ada ialah ukuran bagi keberadaan manusia, suatu dimensi yang mengacu kepada kesubjekan (subjectness) manusia. Dengan meng-ada, manusia hadir dan menampakkan diri, mengalami dirinya sebagai subjek yang sadar, aktif dan berproses. Sedangkan nonada adalah ukuran bagi ketiadaan manusia, suatu dimensi yang mengacu kepada keobjekan (objectness) dari manusia. Dalam nonada, manusia melakukan negasi atas keberadaannya, dan mengalami dirinya sebagai objek[19]. (Bdk dengan Sartre, 1976)

Martin Heidegger, memperkenalkan, konsep ada-dalam-dunia (bahasa lnggris: being-in-the-world, bahasa Jerman: in-der- Welt -sein, bahasa Prancis: l,etre-dans-lemonde) artinya manusia hidup atau mengungkapkan keberadaannya dengan meng-ada di dalam dunia. Istilah ada-dalam yang digunakan oleh Heidegger memiliki arti yang dinamis, yakni mengacu kepada hadirnya subjek yang selalu berproses. Demikian pula, dunia yang dikemukakan oleh Heidegger itu harus dimengerti sebagai hal yang dinamis, yakni suatu dunia yang terbuka tempat keseluruhan keberadaan manusia terdapat, bisa hadir dan menampakkan diri, dan bukan dunia yang tertutup atau semata-mata suatu dunia fisis-geografis yang terbatas dan membatasi manusia. Heidegger sendiri menekankan bahwa ada-dalam-dunia adalah Seinkonnen, yang berarti manusia mampu berada. Jadi, ada-dalam-dunia itu tidak menunjuk kepada fakta beradanya manusia di dalam dunia seperti beras ada di dalam karung atau baju ada di dalam lemari, melainkan menunjuk kepada realitas dasar bahwa manusia hidup atau mengungkapkan keberadaannya di dalam dunia sambil merancang, mengolah, atau membangun dunianya itu. Patut dicatat pula bahwa manusia dan dunia, sebagaimana telah disinggung di muka, adalah suatu totalitas yang menjalin relasi dialektis (penggunaan tanda hubung dalam istilah ada-dalam-dunia itu pun sudah mengisyaratkan pandangan total dan dialektis dari Heidegger mengenai manusia-dunia). Totalitas dan dialektika manusia-dunia itu mengandung implikasi bahwa keberadaan dan perkembangan manusia tidak terlepas dari keberadaan dan perkembangan dunia.

Dalam kenyataannya, manusia akan berkembang jika dia mengembangkan (membangun) dunianya. Medard Boss, salah seorang pelopor penerapan ontologi Heidegger dalam praktek psikoterapi, menyuarakan kembali pandangan total dan dialektis manusia-dunia dari Heidegger itu melalui pernyataannya,... manusia tidak meng-ada terpisah dari dunia, dan dunia tidak meng-ada terpisah dari manusia. Jika.yang satu (manusia) berkembang, maka yang lain pun (dunia) aka berkermbang (Boss 1963).

Heidegger memandang manusia sebagai makhluk yang “terlempar” di dunia tanpa persetujuannya. Dalam merealisasikan dirinya, manusia punya keterbatasan sebab ia adalah mahkluk yang terlempar (throwness). Manusia waktu lahir dengan segala keterbatasan yang melingkupinya. Tubuhnya, lingkungannya, genetikanya, orang-tuanya dan seterusnya. Demikian juga dengan ‘pilihannya’ karena keterbatasannya tadi maka ada “opportunity-cost” (biaya kesempatan, meminjam istilah ekonomi), artinya karena kekurangan yang manusia punya, bila ia memilih satu pilihan untuk memperoleh realisasi potensi “X”, maka ia menghilangkan kemungkinan realisasi potensi “Y” dan seterusnya.[20]

Dalam menghadapi ke­tiadaan (kematian), manusia gelisah. Akan tetapi kegelisahannya ini me­mungkinkan dia menjadi sadar akan eksistensinya. Dalam mempelajari dirinya, manusia menemukan soal-soal temporalitas, takut dan khawatir, kecil hati dan dosa, ketiadaan dan kematian.[21]

Heidegger bersikap sangat kritis terhadap manusia zaman ini, karena mereka hidup secara dangkal, dan sangat memperhatikan benda, kuantitas dan kekuasaan pribadi. Manusia modern tidak mempunyai akar dan kosong karena ia telah kehilangan rasa berhubungan dengan Ada yang purna. Benda konkret harus ditingkatkan supaya manusia terbuka kepada keseluruhan Ada. Hanya dengan menemukan watak dinamis eksistensinya manusia dapat diselamatkan dari kekacauan dan frustrasi yang meng­ancamnya. Orang harus hidup secara autentik[22], tidak hanya berkutat dengan benda-benda dan pensoalan hidup sehari-hari.

MAX SCHELER (1874-1928)

Bagi scheler, Fenomenologi adalah cara tertentu untuk memandang realitas. Fenomenologi merupakan sikap bukan prosedur yang harus diikuti oleh pemikiran (seperti deduksi, induksi dan lain-lain). Dengan sikap itu kita berhubungan langsung dengan realitas lewat intuisi (pengetahuan kehadiran/dirasakan). Hubungan ini dinamakan “pengalaman fenomenologi”. Ia membagi fakta-fakta yaitu: a) fakta natural, berasal dari pengenalan indrawi dan menyangkut benda-benda kongkret. Fakta macam ini tampak dalam pengalaman biasa. b) Fakta ilmiah, mulai melepaskan diri dari pencerapan indrawi yang langsung dan semakin menjadi abstrak; bisa terjadi bahwa fakta ilmiah dijadikan suatu formula simbolik yang dapat diperhitungkan dan dimanipulasi, sehingga kaitannya dengan realitas indrawi sangat menipis.[23]c) Fakta fenomenologis adalah isi intuitif atau hakekat yang diberikan dalam pengalaman langsung, tak tergantung dari berada tidaknya dalam realitas diluar. Fakta natural dan ilmiah mempunyai dasarnya dalam fakta-fakta fenomenologis.[24]

Tiga skema dalam Scheler yaitu 1) Penghayatan (Erleben) pengalaman intuitif yang secara langsung menuju kepada “yang diberikan” (kita aktif dengan persepsi, pengalaman kita). 2) perhatian pada Washeit (apa-nya, essensi), sambil tidak memperhatikan segi eksistensinya (ada-nya). Dalam Husserl adalah “Reduksi Transendental”(reduksi ke2 dan 3). 3) Perhatian kepada hubungan satu sama lain antara essensi-essensi tadi. Hubungan ini bersifat apriori: “diberikan” dalam intuisi, terlepas dari kenyataan. Hubungan ini dapat bersifat logis. Seperti prinsip kontradiksi (“A bukan non-A) dasarnya adalah dari essensi-essensi yang kita terima yaitu (“ada” dan “tidak ada” tidak mungkin diperdamaikan). Dan Non-Logis, seperti, warna tidak mungkin tanpa keluasan (extensian, dimensi)[25].

Jadi lewat pengalaman-pengalaman langsunglah kita menghasilkan keputusan-keputusan yang benar, tidak mereduksi (dalam artian abtraksi, melihat sesuatu tidak sebenarnya, hanya keumuman saja. Seperti “konsep ruang dalam geometri”, “waktu” dalam fisika dan lain-lain. Tetapi dengan menelusuri pengalaman-pengalaman kongkrit kita sampai pada hal-hal yang lebih asli. Tidak seperti Kant yang mengatakan itu semua sudah dari sana-nya ada (dengan 14 kategori), demikian juga filosof-filosof lain.

MAURICE MERLEAU-PONTY (1908-1961)

Menurut dia, pemikiran tidak akan pernah mengerti realitas dengan tuntas. Subjek yang mengenal tidak pernah merupakan subjek yang mengenal belaka. Idealisme dan Realisme seperti yang sudah dikemukakan didepan berat sebelah. Ada hubungan dialektik antara Subjek dan dunianya (Objek).Tidak ada Subjek tanpa dunia dan tidak ada dunia tanpa subjek.[26]

Persepsi Tubuh[27]

Karena Subjek dan Objek saling Dialektika, maka klaim objektif ilmu pengetahuan dikritik oleh Ponty. Katanya: Ilmu pengetahuan hanya mengenal ruang objektif. Ruang itu sama dan homogen dimensi-dimensinya dapat diganti satu sama lain. Ruang itu dapat diukur dan dihitung secara eksakta. Tetapi itu bukanlah ruang yang asli. Ruang objektif tidak lain dari objektivasi dari ruang yang kita hayati (ruang antropologis). Ruang ini (antropologis) berpangkal pada tubuh manusia. Ruang ini mendapat kiblat dari eksistensi manusia yang bertubuh. benda benda disekitar saya dialami sebagai kiri-kanan, atas-bawah, jauh-dekat. Ruang itu mempunyai ukuran-ukuran yang sama sekali tidak “objektif”. Dekat dan jauh tergantung pengalaman saya waktu menjalani jarak tersebut (dengan jalan kaki, mobil, pesawwat; bila jalan kaki, waktu masih kecil, mudah, tua. Sedang tergesa-gesa, bersama atau menemui orang tercinta dan lain-lain).[28]

“Waktu” geometris adalah titik-titik dimana tidak tergantung subjek. Dan dibagi menjadi waktu/titik yang sudah terlewati (lampau, Past-Tense), waktu/titik yang sedang dijalani (sekarang), waktu/titik yang belum dilewati (akan datang, Future-Tense). Tetapi dalan kehidupan sehari-hari, misal saat kita mendengar melodi zaman dulu, dan kita mendengarkan sekarang, kita mendengar dengan semua perasaan dulu dan sekarang, bahkan yang akan datang. “Kita tidak pernah melewati jembatan yang sama”[29]. Pada dasarnya waktu dialami sebagai kehadiran, kehadiran bagi saya sebagai subjek. disinilah adanya kesatuan waktu. Waktu antropologi adalah waktu yang asli, dari situ harusnya kita mengetahui waktu yang ditunjukkan oleh jam-jam kita, tidak sebaliknya.

D. JALAN KERJA FENOMENOLOGI

Sampai saat ini, dari keterangan diatas mungkin kita masih meraba bagaimana jalan kerja sebenarnya metode dan filsafat Fenomenologi itu. Maka disini kami mencoba sekalipun sebagai pengantar menjalankan metode tersebut (dalam fenomenologi agama).

Secara umum jalannya metode ilmiah fenomenologi sejarah agama adalah [30] 1) melihat fenomena-fenomena masyarakat yang beragam dan kacau balau. Disini kita melihat-lihat fakta-fakta religius (baik itu pikiran, tindakan, perasaan dan maksud-maksud dari seseorang yang diungkapkan dalam tindakan-tindakan luar). Pemahaman ungkapan-ungkapan yang bersifat subjektif inilah yang membuat kita mengetahui fakta itu, berupa suatu tindakan kebaktian, bukan sekedar gerakan saja (misal dalam doa, sholat, tari dan lain-lain). Pertama; (proyek Husserl) landasan berfikir semua hal adalah kehadiran, seperti kata Husserl, “Prinsip segala prinsip adalah hanya intuisi langsung (dengan tidak menggunakan perantara apapun)”. Ini berarti apapun yang kita lihat, pandang dan persepsi awalnya adalah apa yang kita alami. Penglihatan dan pemahaman kita selanjutnya menggunakan pemahaman awal (langsung itu). Apakah ini berarti ini subjektivitas. Jawabnya positif, ‘ya’. Inilah yang kita miliki awal. Dengan reduksi-reduksi nanti kita bisa hilangkan subjektivitas itu.

Pemahaman suatu fenomena religius meliputi empati terhadap pengalaman, emosi, ide-ide dari orang lain dan seterusnya. Empati memperlihatkan pemahaman terhadap tingkah laku orang lain berdasarkan pengalaman dan tingkah laku kita sendiri. Kalau orang tidak pernah mengalami tindakan religius atau ritual tertentu, ia tidak akan pernah memahami makna tindakan religius ini dari dalam.

Untuk mengetahui suatu tindakan X adalah kebaktian, bahwa Y adalah tindakan kurban dan Z adalah tindakan Doa. Fakta ini mengandaikan perlunya Objektivitas. Dengan kata lain fenomena religius itu adalah objektif, meski fakta sebenarnya berdasarkan pada subjektivitas. Disinilah kita perlu konsep kedua kata Husserl, Epoche (menaruh dalam ‘kurung’ atau melakukan reduksi-reduksi. Baik menyingkirkan pemahaman awal kita, atau pengetahuan-pengetahuan yang kita miliki, reduksi 1,2,3 [31]). Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa tindakan X adalah tarian ritual. Ini kita melihat tidak hanya gerakannya, namun kita menangkap itu kepenuh-artian-nya. Untuk dapat menangkap itu kita perlu mengetahui seluk beluk, bahasa, dan penjelasan langsung dari penarinya (disinilah perlunya sejarah, antropologi dan sosiologi agama, sebagai pembantu fenomenologi agama. Membiarkan fenomena itu sendiri yang berbicara). Dengan ini kita mengetahui ciri religiositasnya. Juga dengan membandingkan dari pengamat-pengamat lainnya. Dengan ini maka kita sampai ke metodologi ilmiah. 2) Mengadakan penggolongan dan klasifikasi/taksonomi. Kesemua itu dilakukan dengan menyusun Tipologi[32], Struktur dan Morfologi. 3) Memisah-misahkan untuk mencari kejelasan, membuang yang tidak bersangkutan dan lain-lain. Ada proses abstraksi disini, dan pembuatan type-ideal. Ini dilakukan dengan apa yang dalam proyek Husser ketiga disebut variasi eidentis (dengan pemahaman[33], empati dan wawasan imajinatif). 4) Mencari hubungan korelasi antara satu sebab dengan sebab yang lain. 5) Pembuatan hipotesa/ramalan. Jika ini maka itu dan lain-lain. (Misal: Pengaturan penguburan menunjuk pada kepercayaan akan kebangkitan badan, tarian ritual yang mengungkapkan ketakutan akan daya adi kodrati dan lain-lain). 6) Verifikasi dan Falsifikasi. 7) “Hukum” [34](Misal: Suatu suku bangsa mempertahankan upacara-upacara pemulihan karena takut pada kemarahan para dewa).

Atau contoh lain misalnya fenomena “dimengerti”. Apa itu maksud dimengerti? Kalau orang mengatakan mengerti, apa maksudnya dengan mengerti itu? maka kita lihat beberapa unsur dalam fenomena “mengerti” itu yaitu misalnya; merasa puas, nyaman, ada isyarat mengerti, mengamati bahwa seorang itu menerima subjek dan lain-lain, lalu ini dicobakan kebebarapa subjek penelitain ternyata signifikan; maka point-point itu dipercaya sebagai fenomena “dimengerti”.[35]

Dari keterangan diatas (yang memang hanya sebagai pengantar) maka kita bisa mendapatkan satu hal yang cukup penting; yaitu perspektif lain dari Realisme/empirisme dan Idealisme/rasionalisme. Dengan fenomenologi ini (sekalipun mengarah kerelativisme) kita bisa mengatakan; bahwa apapun itu berproses, tidak selesai dan definitif. Tidak mungkin mengetahui sesuatu tanpa melihat “sejarahnya”. Dan perspektif kita akan ilmu pengetahuan yang bebas nilai (free-value) jelas tidak memiliki dasar, dan optimisme yang berlebihan kepada ilmu-pengetahuan harus diturunkan, tanpa menjadi penentangnya. Apakah ini berbahanya bagi Agama sebagai institusi yang mengklaim kebenaran absolut?. Jawabnya tergantung: “Apakah kita yakin bisa memperoleh hal yang pasti, benar dan absolut”, atau “kita yakin tidak mungkin memperolehnya”, atau malah “kita yakin memang Allah tidak menyuruh kita mencari kebenaran absolut itu”. (ini semua perlu didiskusikan dan dipelajari lebih lanjut)[36]



[1] Lihat, Disertasi Toety Heriaty, “Aku dan Budaya, suatu telaah filasafat mengenai hubungan subjek-objek”, Pustaka-Jaya, Jakarta.

[2]Kendati syarat-syarat fisik dan fisiologi untuk melihat dan mendengar telah terwujud, adakalanya persepsi tetap tidak terjadi. Barangkali kita semua pernah berpapasan dengan seorang kawan, tetapi kita tidak melihatnya, akibat benak kita yang tertuju pada suatu hal lain. Atau juga kita tidak mendengar, padahal sumber suara itu dekat dengan kita (dan yang lebih jauh pun mendengar). Disini kita menyimpulkan bahwa persepsi bukan sekadar proses umpan-balik material. Contoh diatas menunjukkan syarat-syarat material bagi terjadinya persepsi ternyata tidak mencukupi. Ada sesuatu dalam diri manusia yang mempersepsi bukan hanya fisiologi.

[3] Loren Bagus, hal 230.

[4] Harry Hamersme, 1996, hal 30.

[5] M.A.W. Brouwer, “Psikologi Fenomenologis”, Gramedia, Jakarta, 1983.

[6] Faktisitas manusia adalah situasi atau keseluruhan factor factual yang menandai keberadaan manusia yang tidak dipilih oleh manusia itu sendiri, yakni antara lain waktu dan tempat kelahirannya, genetika atau ras. Sekalipun faktisitas ini ada dengan sendirinya, merupakan “takdir” manusia, dimana dengan itu manusia terbatas, terikat olehnya, tetapi manusia dapat tetap bebas untuk menyikapi belenggu-belenggu itu. manusia memang terbatas dan terikat oleh faktisitasnya, tetapi manusia bebas untuk menyikapi faktisitas tersebut.

[7] C. Hall & G. Linzey, “Theory of Personality”, Willey, New York 1970.

[8] Henryk Misiak, Ph.D dan Virgina Staudt Sexton, Ph.D, “Phenomenologikal, Existential and Humanistic Psychologies, A History Survei, by Grune & Stratton Inc, 1973, Terj, “Psikologi Fenomenologi Eksistensialis dan Humanistik, suatu survey sejarah. Pt Eresco, 1988. Lihat juga, E. Koeswara, “Psikologi Eksistensial, suatu pengantar”, Eresco, Bandung, 1987, hal 4.

[9] Ini nanti sebagian beda antara ajaran asli dari bapak Fenomenologi “Husserl” (muda ataupun tua) dengan murid-murid ataupun pengikutnya. Apalagi setelah metode ini terseret ke Eksistensialis.

[10] Bagus, Op cit, 233. Tetapi dengan berbagai upaya pendirinya (yang ditentang oleh berbagai ahli yang lain dan murid muridnya) lewat berbagai reduksi (nanti dijelaskan lebih lanjut) berusaha membentuk ilmu yang rigorius dengan kalimat-kalimat yang apodiktif (tidak mengizinkan keraguan). Jelas tidak dapat dimasukkan dalam kelompok relativisme. Bdk, K. Bertens, Inggris-Jerman, hal 103.

[11] Ibid, Bagus, hal 234.

[12] K.Bertens, Inggir-Jerman, hal 99. Bedakan dengan metode “Filsafat Islam”, Suhrawardi (iluminatif) dalam Hossen Ziai, “Ilmuninatif dan pencerahan”, Qolam. Hairi Yazdi, “Ilmu Khuduri”, Mizan. dan Fazlur Rahman, “Filsafat Shadr”, Pustaka Bandung. Juga Mulla Shadra, “Hikmatul Arsy’i” terj: Dimitri Mahayana. Belum diterbitkan. Perlu dijelaskan disini bahwa filsafat Islam sangat kaya, hanya kurang publikasi. Eksistensialisme (misalnya) itu bisa kita rujuk dalam filsafat “Mulla Shadra” yang jelas sangat baik dan tidak mengarah pada ateisme. Masalah kebebasan, kematian, ada sebagai Eksistensi dan seterusnya. Lihat saja konsep Islam tentang “Nafs”, ini sangat mirip dengan “keluasan lebih baik” dari konsep eksistensi (para Eksistensialis).

[13] Ibid, K.Berteens, hal 101.

[14] Harry, hal 117, K. Bertens, hal 101.

[15] Harry, hal 116.

[16] Konstitusi yaitu aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya realitas. Kesadaran memungkinkan tampaknya realitas dan realitas menampakkan dalam bentuk sesunannya dalam kesadaran.

[17] Contoh “Kebebasan”, kita tak perlu menggunakan teori-teori yang ada. Kita mesti melihat apa yang kita alami (dialami bersama secara umum oleh manusia ) tentang yang disebut “bebas” itu. lalu kita analisa kebebasan itu (dengan fenomena-fenomena) yang masuk pada kita. Sehingga akhirnya kita tahu apa itu kebebasan yang dimaksud. Akan diperjelas didepan nanti.

[18] Ibid, K.Berteens, hal 102.

[19] Disini berlaku, bahwa manusia dikatakan ada, saat ia mengalami otonominya, sebagai person, dengan kebebasannya. Sewaktu dia menjadi objek, apapun itu (dieksploitasi, menginginkan sesuatu yang bukan keinginannya, bertindak hanya reaktif, dan lain-lain ), maka manusia itu dikatakan non-ada. Ini mirip dengan otonomi-murni dan heteronomy dari I. Kant. Bila manusia menjadi subjek, maka ia menjadi manusia saat itu (dengan kebebasannya), dapat otentik, bahagia. Bandingkan ini dengan konsep sebelumnya; Kebahagiaan (melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan asli kita), nabi adalah orang yang paling “manusiawi” (benar-benar manusia ) karena ia selalu menjadi subjek dalam apapun tindakannya. Tak pernah terobjekkan (bertindak dan lain-lain bukan karena dirinya, kebebasannya). Bandingkan dengan bagian 1.5.

[20] Disinilah arti “kesempurnaan”. Kesempurnaan manusia dengan faktisitasnya adalah setiap ‘saat pilihan’. Artinya bagaimana dia (manusia itu) memaksimalkan potensi yang dibatasi dengan keadaan. Kesempurnaan ada terus-terus dalam ‘saat’, kesempurnaan itu dinamis dan berproses bukan statis.

[21] Akan dijelaskan sewaktu pembahasan Eksistensialisme.

[22] Hidup otentik adalah hidup dimana manusia benar-benar jadi subjek, sama sekali tidak jadi objek.. dengan kesubjekan ini, manusia menjadi otentik. Di dunia modern itu lebih sulit karena otomatisasi, robotisasi, efisiensi demi efisiensi, budaya massa dan instant dan seterusnya. Dengan ini penemuan makna, bertindak otentik sesuai dengan kemanusiaannya (yaitu mencari makna, mencari kebahagiaan, bebas), diganti dengan materi, hura-hura dan seterusnya. Lihat buku-buku Psikologi Eksistensial, Viktor E. Frankl, “Man Search For Meaning”, Revised and Updated. Washinton Square Press, Cet-21, 1985. dan lain-lain.

[23] Ini bisa kita lihat dalam contoh “Waktu”. Dalam definisi ilmiah (science), “waktu” itu diukur dari perbandingannya dengan gerak jam, gerak matahari dan lain-lain. Padahal waktu sebenarnya yang kita alami tidak seperti itu. Orang yang menunggu bisa terasa lama sekali, satu hari untuk bayi, anak-anak dan orang tua juga lain. Umur manusia dilihat oleh kupu-kupu sangat tua, tetapi menurut pohon tertentu mungkin sangat muda. Manusia bila dilihat dari luar angkasa yang lebih lambat gerak planetnya akan terlihat orangnya ramping-ramping dan tinggi. Banyak orang yang umurnya sama tetapi tidak sama, sebab pubertas awalnya beda, tingkat kedewasaan, pengalaman dan lain-lain. Apakah benar jika kita hanya melihat angkanya, dengan membandingkan berapa kali kita sudah mengitari matahari. Intinya ilmu hanya mereduksi (melihat sesuatu tidak sebenarnya) sekalipun menghasilkan sesuatu yang berguna (tehnologi, dan lain-lain), tetapi menghilangkan banyak hal dalam pengalaman kongkret manusia. Lihat Alexis Carrel, hal 147-172. Bergson mengatakan; Ia dalam berfikir (melihat) ber­tolak dari pengalaman langsung, dari pengalamanku sebagai aku. Dalam hal ini penemuannya yang terbesar adalah apa yang disebutnya durée (Inggris: duration), suatu kata yang tidak mu­dah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Sebagai terjemahan yang kiranya paling baik mendekati maksud Bergson dapat di­usulkan “lamanya” (Kees Berteens). Menurut Bergson kita harus membedakan dua macam waktu. Biasanya pengertian kita tentang waktu di­kuasai oleh pengertian tentang ruang. Waktu dimengerti ber­dasarkan ruang. Kalau begitu, waktu diumpamakan sebagai se­macam garis tak terbatas yang terdiri atas titik-titik dan semua titik itu terletak yang satu di luar yang lain. Waktu itu dianggap kuantitatif. Dengan demikian, waktu dapat diukur dan dibagi­-bagi. Itulah waktu yang dipelajari oleh ilmu pengetahuan. Itulah waktu menurut aspek obyektif-fisis. Bergson menyebutnya temps (kata Prancis yang biasa untuk “waktu”). Tetapi waktu da­lam arti lebih fundamental adalah duree, “lamanya”, yaitu waktu yang kita alami secara langsung. Itulah waktu menurut aspek subyektif-psikologis (asli hidup kita).

Durrée sama sekali tidak bersifat kuantitanif, tetapi pada hakikatnya merupakan kontinuitas, senantiasa mengalir terus secara tak terbagi. Nah, kesadaranmu sendiri adalah duirée dan oleh karenanva tidak mungkin dilukiskan secara kuantitatif. Tidak mungkin memisahkan satu keadaan kesadaran dan keadaan-keadaan kesadaran lainnya. Semua kesulitan dalam psikologi dan filsafat manusia berasal dari hal ini bahwa yang kualitatif diartikan berdasarkan yang kuantitatif, bahwa “lama­nya” ditafsirkan berdasarkan ruang atau keluasan. Kejadian-­kejadian dalam kesadaran diperlakukan sebagai peristiwa fisis dan hidup psikis diterangkan secara mekanistis. Motif-motif misalnya dianggap sebagai penyebab-penyebab yang menentukan suatu pilihan. Itulah kritik pokok Bergson atas determinisme pada umumnya dan asosiasionisme pada khususnya.

Jika kita mengakui durée sebagai hakikat kesadaran, kita memiliki kunci juga untuk mencapai kebebasan. Kebebasan tidak dapat dibuktikan, tidak merupakan buah hasil analis. Kebebasan hanya dapat dialami. Karena kesadaran adalah gerak, perkembangan, peralihan terus-menerus –sebab kesadaran bersifat dinamis dan kreatif—maka secara langsung saya mengalami kebebasan saya. Tentu saja, itu sekali-kali tidak berarti bahwa setiap perbuatan manusia adalah bebas. Kata Bergson: “Kita adalah bebas, jika perbuatan-perbuatan kia memancar dari kepribadian kita seluruhnya, jika perbuatan kita mengungkapkan kepribadian kita, jika antara perbuatan-perbuatan dan kepribadian kita terdapat kemiripan yang sukar ditentukan itu; kemiripan yang kadang kala dapat juga antara seniman dan karyanya”. Kalau spontanitas itu tidak ada, perbuatan kita juga tidak bebas tetapi akan berasal dan salah satu otomatisme atau mekanisme. Kebanyakan perbuatan manusia memang tidak bebas. Dalam hal inilah determinisme mengandung unsur kebenaran. Diambil dalam Kees Berten, hal 13-14. juga, Alexis Carrel, hal 152, mengutip dari H. Berson, “Creative Evolution” , Terj Arthur Micthell, New York, Henry Holt and Company, Inc, hal 4-5. http://www.brocku.ca/MeadProject/Bergson/Bergson_1911a/Bergson_1911_toc.html. Frankl, dalam Opcit, mengatakan; Kita, Perbuatan kita, situasi kita memang terbatas (deterministic), tetapi kita bebas menyikapi situasi-situasi itu”.

[24] Ibid, K.Berteens, hal 110.

[25] Ibid.

[26] Ibid, (Prancis), hal 131. Sekadar penjelasan, disini kami sedikit mengambil teori sosiolosi-fenomenologi (sosiologi pengetahuan) untuk sedikit penjelasan, dari P.L. Berger, Dialektika itu dapat dijelaskan seperti ini; Subjek melakukan Ekternalisasi (berhubungan dengan dunianya, objek, lingkungan). Baik lewat melakukan persepsi, bekerja dan lain-lain. Objek yang diluar dirinya itu ia Objektivasi (menganggap itu objek betulan, dengan tanpa perspektif, tidak ada penampakan luar, dalam, kanan, kiri. Contoh: Sekalipun kita melihat gunung hanya satu sudut pandang tetapi kita mengumumkan, menganggap kita melihat gunung secara keseluruhan. Internalisasi (meyakini dalam diri bahwa itu benar benar objek, sehingga menjadi bagian dalam kesadaran kita. Yang nantinya mempengaruhi dalam kita melakukan eksternalisasi selanjutnya). Demikian seterusnya. Jadi Subjek (diri kita) dipengaruhi oleh Objek, dan Objek dipengaruhi oleh diri kita. Ada dialektika antara Subjek dan Objek.

[28] Ibid, K. Berteens, hal 135. Jelas ini terpengaruh oleh H. Bergson. Kita lihat saja contoh-contoh, bagaimana waktu kita berjalan kesuatu tempat, waktu pulang terasa lebih cepat daripada waktu datang. Menunggu, seakan waktu sangat lama, dibandingkan saat-saat kita mengobrol yang santai dan menarik.

[29] Contoh: Waktu kita melewati jembatan: yang pertama kita tidak punya pengalaman akan melewati jembatan itu, tetapi bila itu kita ulang dengan cara apapun yang persis sama, tetap akan berbeda. Beda itu minimal bahwa melewati jembatan yang kedua, mengandaikan pengalaman melewati jembatan yang pertama.

[30] Mariasusai Dhavamony, “Fenomenologi Agama”, Khususnya bab 1, hal 5-43, Kanisius, 1995.

[31] Lihat penjelasan didepan. Sebagai seorang ilmuan harus membedakan tugas, menerangkan fenomena religius dan tanggung jawab untuk menilai fenomena religius tersebut sebagai bagaian dari suatu kepercayaan tertentu. Disini perlu diam dan menahan diri, sebelum ada tambahan lainnya.

[32] Tipologi adalah ilmu mengenai tipe. Suatu tipe adalah pola sifat suatu individu, kelompok, atau budaya yang membedakannya dari individu atau kelompok budaya lain. Tipe ini digunakan karena mereka menyediakan sarana klasifikasi dari pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok yang berguna untuk tujuan analisis. Type Ideal adalah gagasan mental yang terbentum dari susunan unsur-unsur karakteristik sejumlah fenomena yang digunakan dalam anAlisis. Unsur-unsur yang diabstrakkan didasarkan pada pengamatan terhadap situasi-situasi konkret dari fenomena yang dipelajari, namun gagasan yang dihasilkan tidak perlu harus berkaitan persis dengan setiap pengamatan empiris. Struktur adalah perhubungan yang kurang lebih tetap dan mendasar antara unsur-unsur, bagian-bagian, atau pola dalam suatu keseluruhan yang terorganisasi dan menyatu. Struktur adalah keterkaitan satu sama lain yang tak teralami secara langsung, bahkan tak terpikirkan secara logis maupun secara kausal, tetapi dapat dipahami; suatu keseluruhan organis yang tak dapat dianAlisa kedalam unsur-unsurnya, tetapi dapat dipahami dari unsur-unsur pembentuknya. struktur adalah kenyataan yang disusun menurut maknanya, tetapi makna itu sekaligus merupakan bagian dari realitas maupun subjek yang mencoba memahaminya. Oleh karena itu struktur termasuk inteligibilitas maupun pemahaman. Morfologi adalah studi tentang bentuk, pola struktur atau susunan; suatu keseluruhan yang utuh, bukan merupakan penjumlahan bagian-bagian yang dikumpulkan; proses-proses dan kebiasaan-kebiasaan mental tak dapat dianAlisa sampai tuntas,kedalam satuan-satuan elementer, sebab keseluruhan dan organisasi adalah ciri khas dari proses-proses sejak awal.

[33] Pemahaman adalah penangkapan beberapa isi mental yang diperlihatkan oleh ungkapan

[34] Tidak seperti ilmu alam, dan tidak mengklaim “kebenaran lengkap”, sebab kebenaran itu “berproses”.

[35] Lihat E. Koeswara, Op,.Cit, hal 90

[36] Lihat bab-bab selanjutnya..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar