Laman

Minggu, 04 April 2010

Skala Prioritas Tindakan (Usaha)


SKALA PRIORITAS TINDAKAN

Mengapa manusia berusaha dengan serius, berjuang? Berjuang adalah mengaktualkan potensi atau berusaha meraih apa yang diinginkan. Keinginan layak diperjuanngkan bila itu “mungkin”, potensi mengarah ke aktus. Artinya sesuatu itu memang untuk kesempurnaan aktualisasi kita, kita perlu mengarah kesana. Arti lainnya adalah kita manusia, mesti dan layak serta malah ‘harus’ memaksimalkan perjuangan atau usaha kita, untuk meraih semua kemungkinan potensi ciptaan kita.

Disinilah salah satu pengertian bahwa seluruh mahluk Allah, khusnya manusia wajib untuk berjuang. Karena perjuangan adalah ibadah, dengan definisi ibadah sebagai apapun yang mengarahkan kepada Tuhan/Allah, sedangkan yang menjauhkannya berarti maksiat. Sedangkan Tuhan adalah kongkritisasi dalam ide sebuah kesempurnaan, dan itu direalkan dalam bentuk Rasul/wahyu dan Imam.

Tujuan penciptaan manusia adalah "Memanusiakan Manusia", atau dalam bahasa al-Qur'an adalah diciptakan untuk ibadah atau untuk menjadi khalifali dimuka bumi. Dan syariat adalah konkritisasi "ide ideal kemanusiaan". Sehingga bila ada syari'at yang tidak memanusiakan manusia, maka itu secara langsung tertolak sebagai "wahyu", ide langsung dari Yang Maha Sempurna.

Dalam berkehidupan manusia harus selalu beribadah, tidak ada apapun yang lowong darinya, karena mereka diciptakan untuk itu (Beribadah). Lalu apa konkritisasi dari ibadah dalam berkehidupan? Ibadah adalah berfikir skala prioritas dalam seluruh aspek kehidupan. Sehingga dalam artian ini non-sense ada sesuatu yang ‘mubah’ dalam berkehidupan ini. Karena tujuan penciptaannya adalah untuk ibadah. Artinya dalam kehidupan selalu ada perbandingan antara "yang jelek dan sangat jelek", "yang baik dan sangat baik" dst. Tidak mungkin dalam hidup ini ada yang Nol (O, mubah). Kita lihat saja makan, apa itu mubah? Pada saat kita melakukan itu pasti ada pilihan yang lain, tidak makan, atau aktivitas lainnya. Bila kita lapar, lalu makan, itu bukan mubah, sunnah. Baca buku, bisa makruh bila ada yang lebih baik dilakukan dst. Artinya hidup ini selalu dalam kategori pilihan dapat nilai + (keuntungan, gain, pahala, surga) atau nilai - (minus, rugi, losse, dosa, neraka). Tidak ada diantara dua itu. Mengambil keputusan Nol (0, mubah secara figh), padahal kita dapat mendapatkan +, berarti kita merugi, secara figh akali itu dosa (rugi, losse). Mengambil nol, padahal pilihannya - (minus, dosa), itu pahala, untung, gain, dst. Contoh, pilihannya pergi bersama teman-teman ke tempat maksiat dan duduk-duduk dirumah minum kopi. Duduk-duduk minum kopi itu per individu (kalau sendirian) adalah mubah, tetapi kita memilih itu, dibandingkan pergi maksiat…maka minum kopi jadi Plus, bukan Nol. Walau kata-kata Sunnah kurang pas…karena memang itu terminology Figh.

Disinilah sebenarnya manusia selalu dituntut oleh allah untuk mengambil prinsip-prinsip perdagangan dalam berkehidupan, termasuk dalam beribadah dan beragama. Karena Tuhanpun mengajak transaksi dengan kita (walau kita milikNYA dan "terserah" Dia mau diapakan), dengan berkata; "maukah kalian berdagang denganKU, serahkan diri kalian padaku (beribadah, berjuang, jihad dll) dan AKU ganti kalian dengan Surga selamanya, tidakkah ini perdagangan yang menguntungkan, dan siapakah yang lebih baik dengan bentuk perdagangan seperti ini kecuah AKU".

Lalu marilah kita lihat apa yang mesti kita lakukan dalam berkehidupan saat ini? Manusia tidak akan bertindak diluar konsep dirinya. Disinilah kepetingan dan keharusan kita melihat skala prioritas kehidupan kita. Jangan-jangan kita senang dengan hal-hal yang remeh, tak bernilai secara duniawi maupun ukhrowi. Kalau itu menjadi kebiasaan, karakter kita, bahaya dan sangat rugilah kita, sebab apa yang kita lakukan nilainya rendah, sedangkan ada orang lain yang kesukaannya itu, bernilai, unggul dimata manusia dan Tuhan.

Lihat saja orang yang hobinya tamasya, majlas, santai, tidak suka repot, piara binatang, beli pakaian, barang elektronik, sepatu, nonton film dll. Apa ini haram, mungkin orang akan bertanya seperti itu? Jelas jawabnya Tidak (walau itu diluar pembahasan disini). Yang kita bahas adalah skala prioritas dalam hidup sesuai dengan tujuan penciptaan Kita.

Lalu timbul pertanyaan; apakah ada yang baik secara asali? Bukankah sesuatu itu baik karena dibandingkan dengan yang lain? Seperti tadi, makan bisa baik, atau jelek tergantung perbandingan dan skala prioritas bandingannya. Ya memang itu secara umum benar. Tetapi ini perlu penjelasan lebih lanjut. Lalu Bagaimana dengan skala prioritas dalam kehidupan kita saat ini? Kita sebagai individu, sebagai masyarakat, sebagai orang tua, anak, tetangga dst. Apa-apa yang mesti dilakukannya? Apa itu, bagaimana melakukannya dan apa yang harus dilakukan, itu semua perlu dipikirkan didiskusikan.


Wallahu al A’lam. Muhammad Alwi


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar