Laman

Minggu, 04 April 2010

Kebahagiaan = Sukses tanpa Efek Samping


“MERAIH KEBAHAGIAAN”

(Telaaf filosofis dan Psikologis; Bahagia dan Kebahagiaan)

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.(QS; 2:216)

Kebaikan Bukanlah Kebaikan apabila akhirnya adalah Neraka, Keburukan Bukanlah keburukan apabila akhirnya adalah Surga (kaul: Maksumin)

“Affectus, qui passio est, desinit esse passio simulatque eius claram et distinctam

formamus ideam.” Emosi yang sedang menderita, tidak akan lagi menderita setelah kita membuat gambaran yang jelas dan benar dari penderitaan tersebut.(Spinosa dalam buku Ethics)

Pembuka

Betapa bahagianya apabila kita berumur 70 tahun, anak-anak sudah selesai semua, sudah kerja dengan baik, kawin, kita punya cucu, dan mereka sudah cukup berjalan dalam kehidupannya. Sedangkan kita dengan umur setua itu…kita menghabiskan waktu dengan, sholat jamaah di surau dekat rumah kita, sekali-kali mengimami, menjenguk anak-anak dan cucu…sekali-sekali mengisi pengajian disurau atau tempat-tempat lain….menghabiskan waktu kita dengan sholat sunnah, membaca, berkebun dan untuk kesehatan kita, kita makan makanan sehat, dan olah raga bersama istri dan anak/cucu kita. Kita masih menyumbang dengan uang kita beberapa masjid, panti, taman pendidikan dll, sekadar kita mampu. Betapa barokah orang seperti itu.

Sampai setua itu, dia masih mengirim material yang cukup kesurga dengan ibadah-nya, ilmunya dan uangnya….mudah-mudahan kita bisa seperti itu….amien..amien, amin.

Orang yang bahagia, sukses sebenarnya; menurut kami adalah orang yang 1) Bahagia (bahagia, tidak harus kaya, tidak harus berilmu bahkan tidak mesti sehat…tetapi yang mampu menghayati…apapun yang dimilikinya). 2) Orang yang sehat, sebab walau ia bahagia tetapi ia sakit, maka jelas akan ‘terkurangi’ kebahagiaan atau ‘kemanfaatannya’….3) Orang yang berilmu, sebab kalau sudah tua, maka hanya ilmu saja yang mungkin bisa dimanfaatkan dari pada lainnya…membaca buku, mengajar dst….4) Orang yang cukup kaya (walau ini relative), sebab banyak hal yang bisa dilakukan dengan kekayaan itu dan 5) Orang yang bermanfaat untuk yang lain dengan kebahagiaannya, kesehatannya, ilmunya maupun kekayaannya.


Sebagian dari kita berfikir bahwa “hidup ini untuk berjuang, dan kebahagiaan ada di akhirat nanti”. Makanya kita tidak perlu senang dan bahagia didunia, sebab itu akan merusak ibadah kita dan mengurangi nilai kita di akhirat. Sebagian omongan itu ada benarnya, tetapi tidak semuanya dapat kita benarkan, sebab ada perbedaan antara Kesenangan Vs Kebahagiaan dan Musibah dengan Penderitaan.

Musibah seperti kehilangan anak, kebakaran rumah, penyakit, kecelakaan, kemelaratan, penghinaan, penghianatan, itu berasal dari luar diri kita. Musibah kata filosuf adalah “realitas objektif”. Sedangkan yang menerima musibah itu menderita atau tidak adalah tergantung. Karena Penderitaan adalah “Realitas subjektif” (pictures in our head). Ada orang yang kehilangan istrinya atau anaknya. Realitas objektif, itu adalah musibah, tetapi mungkin orang itu merasa senang (realitas subjektif), sebab dia ingin kawin lagi atau anaknya sangat menjengkelkan/membuatnya menderita.

Jamie Mayerfeld menulis dalam bukunya Suffering and Moral Responsibility; dalam arti objektif penderitaan sama dengan bencana atau kemalangan, tetapi terkadang penderitaan hanya menunjukkan pengalaman dari bencana yang objektif, tanpa mempedulikan keadaan psikologis dari orang yang mengalami. Penderitaan lebih menunjukkan apa yang dirasakan orang (makna psikologis, realitas subjektif). Penderitaan seperti ini sama dengan apa yang disebut oleh Jeremy Bentham dan Henry Sidgwick ketika mereka menyebut Pain (kepedihan) dan epicurus menyebutnya Lupe (penderitaan).

Karena penderitaan, atau lupe, bersifat subjektif, musibah tidak selalu menimbulkan penderitaan. Kehilangan sandal sedih, tetapi itu langsung hilang setelah melihat orang kehilangan kedua kakinya.

Bagi si kenyang ayam bakar tak lebih enak terasa ketimbang dedaunan seladri diatas meja. (Sa’di)

Dr Paul Pearsall, dalam penelitiannya menemukan, orang justru menderita setelah sukses. Itulah yang dikatannya sebagai toxic success (sukses beracun). Sehingga kita keliru sekali kalau hanya melihat kemajuan, keberuntungan itu dari naiknya pendapatan, tingginya gaji atau besarnya pertumbuhan ekonomi (GNP). Kebahagiaan tidak tergantung pada limpahan kekayaan, kebahagiaan ditentukan oleh perasaan ketersambungan dengan tujuan hidup, dengan masyarakat, dengan hal-hal spiritual, dengan apa saja yang bermakna. Perasaan ketersambungan itu berbeda antar satu orang dengan orang lain.

Menurut Budha, penderitaan terjadi karena ada keinginan, hasrat, nafsu yang harus dipuaskan. Karenanya untuk mengakhiri penderitaan, orang harus mengakhiri keinginan. Menghentikan keinginan membuka jalan menuju nirvana. Disinilah perlunya asketisme, meditasi, iman dan latihan-latihan kerohanian.

Judaisme atau agama Yahudi mengatakan, bahwa kira tak perlu menghilangkan keinginan. Kebahagiaan dicapai dengan mematuhi hukum Tuhan (Mitzvot). Taurat menjelaskan; “Patuhilah Mitzvotku dan lakukanlah semuanya. Dengan begitu, kamu mengabdikan dirimu kepada Tuhanmu… jalan-jalannya adalah jalan kebahagiaan dan semua jalannya adalah jalan kedamaian”. Kristen mengatakan; perlunya untuk berbuat baik dan bahayanya berbuat buruk.

Dalam Islam, kata al Qur’an yang paling tepat menggambarkan kebahagiaan adalah kata aflaha (QS; 20:64, 23:1, 87:14, 91:9). Kamus bahasa arab klasik merinci makna falah derivasi aflaha adalah: kemakmuran, keberhasilan atau pencapaian apa yang diinginkan atau kita cari; suatu yang dengannya kita berada dalam keadaan bahagia atau baik; terus menerus dalam keadaan baik; menikmati ketentraman, kenyamanan, atau kehidupan yang penuh berkah; keabadian, kelestarian, terus menerus, keberlanjutan.

Dalam adzan Islam, kita selalu mendengan hayya alal falah dan juga hayya alal khayril amal (marilah meraih kebahagiaan, marilah berbuat baik). Ini konsep yang sangat baik, sebab orang yang bahagia cenderung berbuat baik, atau dengan kata lain, kita disuruh bahagia dan mempertahankannya dengan berbuat baik. Kita bisa lihat ayat-ayat al Qur’an yang banyak, tentang kebahagiaan itu, antara lain; 12:189, 3:130,200, 5:35,90100, 7:69, 8:45, 22:77, 24:31, 62:10 dll. Ayat ayat ini tidak hanya menunjukkan tujuan akhir dari perintah Tuhan adalah supaya kamu berbahagia, tetapi juga rincian perbuatan yang membawa kita kepada kebahagiaan. “kamu hanya bisa membahagiaan orang lain, kalau kamu sudah berhasil membahagiakan dirimu”. Hadis nabi mengatakan; “Ibda’ bi nafsik”, mulailah dari dirimu sendiri.

2.

Plato menisbahkan pada Sokrates mengatakan bahwa kebahagiaan adalah anugrah tuhan karena kita hidup dengan “Baik”. Apakah yang disebut dengan baik itu? Eupraxia, kata Sokrates, yang didefinisikan oleh Plato sebagai berfungsinya seluruh bagian jiwa secara harmonis. Nasihat ini telah menyiratkan, kita bisa hidup bahagia dengan “mengikuti alam”. Yang ini diartikan dengan beraneka ragam, ada yang mengatakan dengan memenuhi tuntutan jasmaniah, kata Aristippus. Kata kaun Stoik dengan menekan kesenangan jasmaniah dan memuaskan akal. Mengikuti alam kata Aristoteles adalah menjalankan “fitrah” kemanusiaan kita.

Hidup yang baik adalah hidup yang bahagia kata Aristoteles. Tetapi banyak hal-hal yang baik; turunan baik, kesehatan baik, rupa baik, kekayaan baik. Apa hubungan baik-baik ini dengan kebahagiaan? Menurut Aristoteles hidup yang bahagia adalah hidup yang sempurna karena memiliki semua hal yang baik. Hal-hal yang baik itu komponen kebahagiaan, semua kita cari untuk mencapai kebahagiaan.[1] Mengapa kita ingin sehat? Karena kita ingin bekerja dengan baik, mengapa kita ingin bekerja dengan baik? Karena kita ingin mendapat penghasilan yang baik, mengapa kita ingin mendapat penghasilan yang baik? Karena kita ingin punya rumah yang baik dan keluarga yang baik. Mengapa ingin punya itu? Karena kita ingin bahagia? Mengapa kita ingin bahagia? Karena..karena …kita ingin bahagia. Kebahagiaan adalah keinginan kita terakhir. Kebaikan tertinggi atau Summum Bonum. “kebahagiaan diinginkan untuknya sendiri tidak untuk yang lainnya. Jadi kebahagiaan adalah suatu yang final dan mencukupi sendiri.”

Upaya meraih kebahagiaan adalah proses terus menerus untuk mengumpulkan semua kebaiakan: kekayaan, kehormatan, kepandaian, kecantikan, persahabatan dan sebagainya yang sangat diperlukan untuk menyempurnakan fitrah kemanusiaan dan memperkaya kehidupan. Untuk itu resepnya adalah; 1) Menggunakan Akal. Ini adalah kemampuan kita yang sangat penting. Seperti kata Apollo di Delphi, yaitu Mede agan (jangan berlebihan). Kita harus meletakkan diri kita pada posisi tengah-tengah (golden mean)[2]. Kebaikan terletak ditengah-tengan; keberanian terletak antara pengecut dan nekad. Kedermawanan terletak diantara kebakhilan dan keborosan. Kerendahatian terletak diantara rasa rendah diri dan kesombongan. Kejujuran terletak antara kerahasiaan dan keterbukaan. Persahabatan terletak antara pertengkaran dan rayuan. dst. 2) Akal dipergunakan untuk memilih. Setiap hari kita melakukan pilihan. Pilihan-pilihan itu dilakukan dengan menggunakan akal. Bahkan kata filsuf eksistensialis (J.P Sartre)[3], eksistensi manusia adalah “pilihan”. Tanpa memilih, mengambil keputusan kita tak ada bedanya dengan hewan. Lapar makan, ngantuk tidur dll. Tetapi kita menggunakan pilihan mengambil keputusan. Apa yang harus kita makan, layak tidakkah itu kita makan dst. Dan ini semua menggunakan akal, dan kita lakukan terus menerus tanpa henti sampai kita mati. Kebahagiaan kata Stephen Covey, “dapat didefinisikan paling tidak, sebagai hasil keinginan dan kemampuan mengorbankan apa yang kita inginkan sekarang untu apa yang kita inginkan pada akhirnya”.

Dipinggir jalan di Athena, Socrates berbicara mirip Budha pada Anthipon; “tanpaknya kamu pikir bahwa kebahagiaan itu terletak pada kemewahan dan keberlimpahan, tetapi aku pikir untuk tidak menginginkan sesuatu, sama dengan menyerupai para dewa, menginginkan sesedikit mungkin adalah menghampiri para dewa sedekat mungkin”. Cynosarges dari kelompok filsafat Cynis mengatakan; “aku tidak memiliki agar aku tidak dimiliki”. Aristippus mengatakan; “aku memiliki, tetapi aku tidak dimiliki”.[4] Katanya; kalau memiliki sesuatu itu mendatangkan kesenangan mengapa kita harus merendahkannya. Tetapi kesenangan itu harus kita kendalikan secara rasional. Kita tidak boleh jadi budak kesenangan. Kita bisa hidup mewah pada situasi relevan dan juga dapat menerima kemiskinan pada situasi lain. Kebahagiaan tidak boleh ditentukan oleh pemilikan kekayaan. Ia sangat mencintai Lais wanita simpanannya dan ia mengatakan; “Lais kepunyaanku, tetapi aku bukan kepunyaan Lais. Ia mendirikan madzab yang kesenangan menjadi tujuan hidup. “manusia baik adalah manusia yang memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan penderitaan”. Aristippus orang yang cukup aneh, dia senang dengan kesengan dan tidak pura-pura dengan itu walau ia sangat benci dengan kesombongan. Diakhir hidupnya ( 356SM) ia mengatakan bahwa warisan terbesar yang ia tinggalkan untuk anak perempuannya Arete adalah bahwa ia telah mengajarnya “UNTUK TIDAK MEMBERIKAN NILAI KEPADA APAPUN YANG IA BISA HIDUP TANPA ITU”. Lima belas tahun setelah kematian Aristippus, dibagian yunani yang lain, Samos, lahir Epicurus, orang yang melanjutkan Hedonisme aristippus. Secara singkat menurut Epicurus, fungsi filsafat adalah bukan menjelaskan dunia, karena tidak mungkin bagian menjelaskan keseluruhan. Fungsinya adalah membimbing kita untuk meraih kebahagiaan. Filsafat didefinisiakan sebagai “seni membuat hidup bahagia”. Tujuan hidup adalah kebahagiaan personal, yang berupa kesenangan jasmani semata. Katanya; “Tidak mungkin hidup senang tanpa menjalankan kehidupan yang bijaksana, mulia, dan adil; serta tidak mungkin hidup bijaksana, mulia dan adil tanpa hidup senang.

Pada zaman modern Epicurus masih meneruskan filsafatnya lewat Utilitarianisme ( dari kata latin Utilis, berguna) tokohnya adalah John Stuart Mill dan Jeremy Bentham (dalam Principles of Morals and Legislation). Kita harus hidup dengan memilih dan meraih yang banyak kegunaannya. Kegunaan untuk siapa? Untuk pribadi (utilitarianisme egoistic), untuk kebahagiaan semua orang (utilitarianisme altruistic). Mana yang baik? Menurut Psikologi Positif, seperti juga kata Peyton Conway March; “ada satu hukum alam yang sangat menakjubkan; tiga hal yang paling kita inginkan dalam kehidupan – kebahagiaan, kebebasan, dan kedamaian jiwa- dan semua itu selalu diperoleh dengan memberikan kepada orang lain.” Tetapi yang mesti kita ingat adalah; bahwa “kita memberikan apa yang kita punya”. Tidak memiliki, maka tidak mungkin memberi. Betul? Oke.

Kebahagiaan menurut saya (SMAHJ).

Manusia diciptakan dimuka bumi ini untuk suatu tujuan, tujuan itu secara ringkas adalah untuk menjadi khalifah dimuka bumi dan untuk beribadah kepadaNYA. Yang apabila itu semua diterangkan dan dijelaskan panjang lebar, maka inti sarinya adalah “manusia diciptakan oleh Allah untuk kebahagiaan dirinya, baik didunia maupun akhirat. Mengapa seperti itu? Sebab Menjadi khalifah dan menjadi Abid kepada Tuhan, secara ontology adalah fitri kita….fitri kita itu asal-mula dari kebahagiaan kita. Lalu apa kebahagiaan itu? “Kebahagiaan menurut kami; adalah Kemampuan kita untuk melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan kita”. (lihat; falah derivasi aflaha diatas). Lalu apa keinginan kita itu? Keinginan kita adalah fitrah kita[5]. Lalu apa fitrah kita itu? Fitrah kita adalah keinginan asli kita, tanpa dipengaruhi oleh sosio-budaya, promosi, iklan dll. Dan keinginan asli kita, tertuang dalam “Syariat”. Sebab syariat (yang isinya adalah perintah dan larangan) adalah semacam “konfirmasi” Tuhan, yang tidak lain adalah “keinginan, berarti perintah, dan ketidak-inginan atau ketidak-sukaan, berarti larangan, kita.

Ini mirip, tetapi berbeda dengan Aristoteles yang mengatakan kebahagiaan adalah hidup yang memiliki semua hal yang baik. Itu memang benar, sesuai dengan definisi diatas (kemampuan kita untuk melakukan apapun sesuai dengan keinginan kita). Tetapi kita tidak harus mengumpulkan semua kebaikan-kebaikan itu.[6] Sebab baik “disini” itu relative. Kekayaan itu baik, tetapi menjadi orang kaya walau ia dermawan akan lebih rendah kebaikannya (ekuivalen dengan kurang baik) dibandingkan dengan orang yang sederhana atau cukup. Inilah mungkin kenapa nabi Muhammad tidak memilih kaya seperti nabi Daud as.

3.

Manakah yang menjadikan orang sakit, kuman dari luar atau kekuatan dia yang sedang menurun. Pasteur dan Robert Koch adalah penemu-penemu mikroba penyebab penyakit TBC. Tetapi pertanyaan dapat dibuat sekali lagi, orang kena TBC karena adanya kuman itu, atau karena melemahnya kondisi korban? Hal seperti ini sudah dilaporkan oleh penulis-penulis Hindu dulu, juga dalam tulisan Alexandre Dumas, La dame aus Camelias yang mengisahkan Marguerite Gauthier. Pelacur cantik yang kena penyakit TBC, setelah ia berpacaran dengan Armand Duval, tetapi penyakit itu akhirnya lenyap dan ia segar dan cantik. Tetapi setelah ia pisah dan disakiti oleh pacarnya, penyakit itu timbul lagi sampai akhirnya merengut jiwanya.

Walaupun tbc dinisbahkan kepada infeksi mikroba, penelitian kedokteran mutakhir menunjukkan kebenaran cerita Alexander Dumas diatas. Adanya basil tbc tidak selalu menimbulkan penyakit. Banyak orang yang diekspose dengan agen patogenis ini tidak terinfeksi. Diantara mereka yang terinfeksi, hanya 5 sampai 15 persen sakit secara klinis. Bila dilacak lebih cermat, ternyata situasi emosional pasien sebelumnya sangat mempengaruhi perkembangan penyakit ini. Penderitaan memperparah dan kebahagiaan menyembuhkannya. Ini juga yang dilukiskan Shakespeare dalam Loves labour’s Lost.

Sampai akhir abad XX, psikolog banyak mencurahkan perhatian pada emosi-emosi negative (takut, cemas dll) terhadap berbagai penyakit, stress seperti Fobia, depresi dll. Pertanyaan selanjutnya apakah emosi positif membawa dampak sebaliknya? Apakah positif feeling ada hubungannya dengan positif character. Seperti pertanyaan Psikolog Martin Seligman, bapak psikologi positif.

Martin Seligman dalam bukunya Authentic Happines (sudah diterjemahkan Penerbit:Mizan) mengatakan; ada daerah-daerah tertentu (Utah) yang umur rata-rata penduduknya lebih tinggi dibanding daerah yang lain (Nevada). Apa penyebab ini? Banyak factor yang mempengaruhinya, mulai dari udara daerah itu, pekerjaan yang dipilih rata-rat orang disana, kurangnya mereka berjudi dan minum alcohol dll. Seligman untuk membuktikan teori-teorinya ia mengumpulkan 180 biarawati dari dua daerah itu (Nevada dan Utah), hampir semua latar belakang kedua kelompok itu sama hanya yang membedakan adalah “bahagia” dan yang “kurang bahagia”. Ternyata dari perhitungan statistic kelompok yang lebih bahagia memiliki kemungkinan bertahan hidup lebih tinggi dari yang kurang bahagia.

Fredrickson menyebutkan empat emosi positif yaitu; Joy (keceriaan), Interest (ketertarikan), Contentment (kepuasan), dan Love (Cinta). Banyak penelitaian dilakukan, Henry Balkwin menemukan hal yang menakjubkan di rumah sakit Bellevue tahun 1931, semula kebiasaan di rumah sakit itu, bayi yang sakit tak boleh disentuh karena alasan higinis, tetapi ia menyuruh hapus larangan itu. Bayi-bayi yang digendong, disentuh justru lebih cepat sembuh. Harriet Harlow melakukan eksperimen dengan monyet Rhesus, monyet-monyet tanpa ibu, monyet dengan ibu-ibuan boneka dan monyet dengan ibu. Monyet yang hidup sendirian lebih rentan penyakit dst. Pada tahun-tahun yang sama 126 mahasiswa Harvard ditanya hubungan dengan orang tua mereka. Yang hubungannya baik, ternyata kurang rentan terhadap penyakin (kronis, alkoholosme, depresi dll), dibanding dengan anak yang hubungannya jelek. Dalam penelitian lain yang dilakukan selama 50 tahun, hubungan yang buruk dengan orang tua menjadi satu-satunya predictor paling tepat untuk kemungkinan mengidap kanker.

Goldstein (1982) mengumpulkan pendapat para dokter dan ilmuwan sejak abad 13 sampai abad 19 tentang pengaruh humor terhadap kesehatan. Henri de Mondeville, mengatakan; tertawa dapat digunakan untuk mempercepat penyembuhan setelah pembedahan. Abad 16 Jubert menyatakan; tertawa menghasilkan kelebihan aliran darah yang membentuk air muka yang tanpak sehat dan menimbulkan vitalitas pada wajah. Karena itu tertawa dihubungkan dengan daya penyembuh yang sangat penting untuk kesehatan pasien. Juga Ricard Mulcaster dll. Pada abad XX, Prof. Walsh dari univ kedokteran Fordhem menulis buku “Lughther and Health” (1928) ia mengatakan; “rumus terbaik bagi kesehatan individu diungkapkan secara matematis: kesehatan bervariasi sesuai dengan jumlah tertawa … efek yang baik pada pikiran ini mempengaruhi berbagai fungsi tubuh dan membuatnya lebih sehat ketimbang hal-hal lainnya.”

Norman Cousins, yang terkenal sebagai pendiri psikologi Neuroimunologi (sebuah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari pengaruh sejala-gejala mental terhadap system imun) dalam “Anatomy of an Illness” (1979) mengatakan; peran humor sangat penting dalam penyembuhan penyakit. Ia menemukan bahwa beberapa saat tertawa dapat mengurangi tingkat sedimentasi, yang berarti mengurangi inflammasi. Tertawa sama dengan internal jogging.

David McCleland dalam salah satu penelitiannya tentang efek humor, menemukan kosentrasi immunoglobulin tipe A (IgA) yang tinggi pada ludah orang-orang yang memiliki sense of humor yang tinggi. IgA adalah zat antibody yang aktif melawan infeksi virus seperti flu. IgA juga meningkat saat orang membayangkan hal-hal yang indah, mencintai atau dicintai. Prof Lee S.Berk dari School of Medicine and Public Health di Loma Linda univ California, meneliti dampak fisiologis dari tertawa dan perasaan bahagia lain. Ia menemukan kebahagiaan memperbaiki system pernafasan, menambah jumlah sel-sel imun, menurunkan kartisol dengan begitu mengurangi bahaya stress, menaikkan endorphin (endogenous morfin), yaitu morfin yang dihasilkan tubuh, dengan meningkatnya ini maka berguna untuk menghilangkan rasa sakit dan mengubah tubuh menjadi tenang, tentram dan enak, serta menambah IgA

Tetapi mesti diingat, menagis dan tertawa tidak mesti menunjukkan emosi positi dan negative. Ada tertawa kecut karena menahan emosi, ada mengangis karena bahagia, haru, terima kasih dll. Ini disebut oleh Jonathan Haidt dengan sebutan elevation (= keharuan batin). Emosi ini termasuk kelompok yang seringkali lolos dari perhatian peneliti psikologi. Elevation mempunyai hampir semua ciri emosi dasar. Ada kondisi yang melahirkan (tindakan keindahan moral), efek fisiologisnya (seperti perasaan didalam dada yang mungkin melibatkan syaraf vagus, yang memberikan perasaan hangat, terbuka, dan menyenangkan), dan kecendrungan tindakan (keinginan untuk mejadi orang yang lebih baik untuk bisa lebih penyayang atau mau menolong orang lain). Elevation memang hampir sulit diungkapkan dalam air muka tertentu (mungkin karena inilah maka sulit diteliti). Elevation mendorong orang untuk mendekati orang lain. Elevation timbul karena melihat perhatian orang yang tulus kepada orang lainnya, inilah emosi yang menyebabkan orang melakukan tindakan altruis[7].

Fredrickson mengatakan bukan hanya elevation, tetapi semua emosi positif begitu. Ia mengembangkan teori Broaden and Build (emosi positif memperluas, broaden, pikiran dan tindakan serta membangun, build, sumberdaya personal, emosi negative mempersempitnya).

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang yang bahagia berfikir fleksibel dan inklusif, kreatif dan reseptif. Inilah makanya dalam rapat, dalam kelas harus diselingi dan diusahakan tidak tegang. Ceria, bahagia. Learning must be fun. Ketika anda bahagia, anda membangun sumber daya intelektual dengan berfikir lebih kreatif, toleran dengan perbedaan, terbuka pada ide-ide baru, dan belajar lebih efektif (building hypothesis). Ketika anda bahagia anda membangun dan mengembangkan daya fisik anda dengan lebih sehat dan lebih kuat (undoing hypothesis).

Martin Seligman, mantan Presiden Amirican Psychological Association mengatakan; “orang yang bahagia lebih cenderung menolong, lebih empati dan bersedia menyumbang dll.

Robert Browning menyimpulkan; “Oh, make us happy and you make us good. ”Walhasil kebahagiaan membuat orang berakhlak mulia. Inilah mengapa agama-agama mengajarkan kita berbuat baik, karena dengan itu kita akan bahagia. “serta berbuatlah kebaikan supaya kamu berbahagia” (QS; 22:73) kata Al Qur’an.

4.

“Kebahagiaan tidak dicapai dengan jerih payah; kebahagiaan diperoleh dengan mengurangi keinginan”. Kebahagiaan (Ing: Happiness, Jer: Gluck, Lat: Felicitas, Yun: Eutychai, Eudaimonia. Arab: Falah, Sa’adah). Dalam bahasa arab dan bahasa eropa menunjukkan keberuntungan, peluang baik, dan kejadian yang baik. Dalam bahasa Cina, xing fu, kebahagiaan terdiri dari gabungan kata ‘beruntung” dan “nasib baik”.

Kaun Hedonis (Aristippus dan Epicurus), juga Utilitarian (Bentham dan J.S Mill), menetapkan kebahagiaan sebagai landasan moral. Baik buruknya suatu tindakan diukur sejauh mana tindakan itu membawa kita pada kebahagiaan. Jika makan itu membuat kita bahagia, maka makan itu perbuatan baik, jika makan itu membuat sakit perut, maka makan itu menjadi perbuatan buruk. Immanuel kant, mengatakan bahwa perbuatan baik adalah tuntutan etis, suatu keharusan, walau sesuatu itu jelas-jelas tidak mendatangkan kebahagiaan. Kebaikan adalah kewajiban yang harus (imperative) kita lakukan. Apapun itu.

John Kekes, dalam Encyclopedia of Ethics menulis dengan bahasa saya (SMHHJ) sendiri; kebahagiaan atau seorang dikatakan bahagia, apabila ia tidak menginginkan/menuntut perubahan, apa yang sudah dialaminya dalam hidup. Sehinga bila ia ditanya apakah ada keinginan untuk perubahan-perubahan bila ia dikembalikan seperti dulu (bayi atau kecil, dengan segala kesenangan dan kesedihan) yang akhirnya membuatnya seperti sekarang ini. Jawaban orang yang bahagia adalah tidak. Ia cukup dan sangat puas dengan keadaannya yang sudah ia lewati sampai sekarang ini[8].

Jadi disini (menurut kreteria diatas) kebahagiaan ada dua hal yaitu; Episode dan Sikap. 1) Episode; kebahagiaan adalah kumpulan dari kejadian-kejadian yang memuaskan kita. Baik ada yang menyakitkan, menguntungkan dst, tetapi secara total kita puas dengan itu sampai saat ini. 2) Sikap; kebahagiaan adalah makna rangkaian episode itu dari keseluruhan hidup kita.

Upaya meraih kebahagiaan adalah proses terus menerus untuk mengumpulkan semua kebaikan; kekayaan, kehormatan, kepandaian, kecantikan, persahabatan dan sebagainya yang sangat diperlukan untuk menyempurnakan fitrah kemanusiaan dan memperkaya kehidupan. Anehnya banyak orang yang hanya mengejar satu dan mengabaikan yang lain. Contoh hanya mengejar kekayaan, mengabaiakan hubungan baik dan keakraban keluarga dst.

Secara umum cara mengukur kebahagiaan adalah; 1) Menggunakan ukuran standart untuk menguji apakah pengakuan seseorang itu bahagia atau tidak, benar atau salah. Ini melahirkan “kebahagiaan objektif”. Dalam hal ini kita menemukan tokoh-tokohnya Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas, Al Ghazali dll. 2) Kita tanya kepada seseorang apakah ia bahagia atau tidak, setelah ia melakukan pilihan-pilihan dalam hidupnya (seperti diatas). Ini melahirkan “kebahagiaan subjektif”. Tokohnya bisa kita sebut disini; Hobbes, Hume, Mills serta kaum emotivis, eksistensialis dan egois.

Untuk meneliti kebahagiaan objektif sulit sekali, sebab ia harus dirujukkan ke (al Qur’an atau Syari’at dalam Islam, Taurat dalam agama Yahudi dst), Hukum kodrat dll. Ilmuan lebih senang dengan melihat ukuran subjektifnya. Karena konsep ini dapat dioperasionalkan dalam penelitian. Berdasarkan konsep ini kita dapat membandingkan antara tingkat kebahagiaan satu dengan yang lain. Kita juga dapat meneliti factor-faktor apa saja yang mempengaruhi, sangat mempengaruhi kebahagiaan.

Kita bisa mengukur kebahagiaan dengan daftar pertanyaan-pertanyaan, pada penelitian Norman Bradburn dari Chicago, juga Martin Seligman dengan Satisfaction with Life Scale-nya, bisa juga dengan Approaches to Happiness Questionnaire karya Chris Peterson, dari Value in Action Institute (VIA), juga L.S Randoff dari The Center for Epideminological Studies-Depression Scale (CES-D) National Institute of Mental Health, AS (J. Rahmat; hal107-114).

5.

Sukses tidak sama dengan kebahagiaan. Tetapi kesalahannya orang sering untuk mengejar sukses, mereka mengorbankan segalanya termasuk syarat-syarat kebahagiaannya seperti hubungan yang baik dengan keluarga, tidak ketakutan dengan kesuksesannya dll. Betapa banyak orang sukses yang akhirnya stress karena kebingungan dengan aturan main kesuksesan itu, dan trik-trik mempertahankannya, juga hancurnya orang-orang yang paling berharga buat mereka karena keluarganya berantakan, dst.

Sukses berasal dari bahasa Latin successus, dari bentuk past participlesuccedere”, yang artinya; mengikuti dari dekat atau menyususl, atau datang sesudahnya. Sukses adalah suau yang datang sesudah kita melakukan tindakan tertentu. The Amirican Heritage Dictionary of English Language menyebutkan sukses dengan; 1) Mencapai sesuatu yang diinginkan, direncanakan, atau diusahakan. 2) a. Memperoleh kemashuran atau kemakmuran ”sukses dihitung paling manis oleh orang yang tidak pernah sukses” (Emily Dickinson). b. Tingkat perolehan tersebut. 3) orang yang sukses. 4) (kuno) hasil atau akibat. Berkaitan dengan hasil usaha atau akibat usaha untuk meraih yang diinginkan.

Bila orang sudah berhasil memenuhi keinginannya, ia merasa bahagia. Karena “bahagia” adalah memperoleh yang kita inginkan, maka dengan mudah kita menyamakan sukses dengan kebahagiaan. Sehingga ada kata-kata; jika kita ingin bahagia, kita harus sukses. Untuk mencapai sukses, kita harus berjuang keras. No gain without pain. Karena itu, ironisnya, sukses lebih dekat dengan pergulatan daripada kenikmatan. Lebih berkaitan dengan striving ketimbang thriving. Disinilah kesalahannya, sehingga banyak sukses yang toxic, bukan membawa kebahagiaan.

Ada 15 test yang dibuat dalam karya Dr. Pearsall untuk mengetahui success toxic. 1) Self sightedness, berpusat pada diri. Tidak banyak peduli pada kebutuhan orang lain. Tenggelam dengan pekerjaannya atau aktivitas yang dikejarnya. 2) Stress surrender, menyerah pada stress. Ia bergerak sesuai dengan system untuk mempertahankan irama demi meraih suksesnya. Kurang atau hampir tak ada berfikir reflektif untuk total kehidupan kecuali sukses. Ini banyak pada pegawai-pegawai, pebisnis yang sangat sibuk. Sehingga dibuatkan alat-alat yang mempermudah semuanya (makan tak sempat kecuali sereal, alasan diet dan hemat waktu), mendengar berita lewat radio program, mengendarai mobil dengan membaca buku lewat tape dst. 3) Ups and down, naik turunnya perasaan. Kadang menggebu-ngebu kadang teller seperti tak ada tenaga. 4) Chronic cynicism, sinis kronik. Senang mengeritik dan tak ada yang betul buat dia. 5) Grouchiness, kerjanya sungut-sungut, menggrutu. 6) Feeling pestered, merasa terganggu atau mudah tersinggung. 7) Polyphasia, multitasking, mengerjakan banyak tugas pada waktu yang sama. 8) Psychological absenteeism, berfikir banyak apa-apa yang belum dikerjakan 9) Weariness, kelelahan tanpa henti, pola tidur yang terganggu, dan mengantuk ketika sedang duduk. 10) Chrono-Currency, memandang waktu sebagai uang dan setiap waktu yang tidak menghasilkan uang dianggap penghamburan. 11) Relationship-exploitation, mengabaikan, tidak menghiraukan, melecehkan hubungan kita yang paling intim dengan sekedar menggunakannya untuk perlindungan stress, sebagai teknik mengurangi stress. 12) Spiritual deficit disorder (SDD), perasaan kekosongan rohaniah dan kehilangan makna, yang sering kali diikuti dengan saat-saat kerinduan spiritual dan keinginan untuk mempertanyakan “makna semuanya”. 13) Inhabited power motive (IPM), keinginan yang tinggi untuk berkuasa, frustasi karena tidak cukup kuasa dan kendali, serta menurunnya tingkat kesadaran dan pengabaian akan kebutuhan kasih sayang. 14) Self health and help, perhatian pada olah raga, diet seminar-seminar untuk perbaikan diri yang instant. 15) Succes sickness, sejumlah penyakit peradaban modern (asma, infeksi lambung, sampai kanker).

Supaya sukses tidak toxic kata Pearsall kita perlu 3C yaitu: Contentment, Calm, and Connectioan atau 3K (kepuasan, ketenangan, ketersambungan). Kepuasan artinya perasaan cukup dengan apa yang sudah kita peroleh (= Syukur dalam Islam). Kepuasan kata david Myes penulis buku The Pursuit of Happiness, “bukanlah memperoleh yang kamu inginkan tetapi menginginkan apa yang kamu peroleh”.[9] Dan ini memerlukan latihan dan pembiasaan. Hadist Nabi; “Hendaklah kamu puas dengan apa yang telah Allah bagikan untuk kamu, kamu akan menjadi manusia yang paling kaya”. Pergilah kerumah sakit saat anda sehat, sebagai latihan bersyukur. 2) Ketenangan, yang berarti memperlambat tempo hidup. Tenang, sabar, bukan menjadi orang yang tak sabaran. 3) ketersambungan, dengan kesabaran, ketenangan kita akan memperoleh ketersambungan dengan sesama dan yang maha kuasa.[10] Khalil Khawari, dalam Spiritual Intelegence; A Practical Guide to Personal happiness, memberikan resep LOVE yaitu L (Listen), belajar mendengar orang lain, O (observe), mengamati isyarat-isyarat tersembunyi, yang tersurat maupun yang tersitar. V (value), hargai perasaan orang lain, kekecewaannya dan kepedihannya, E (empathize), tajam kepekaan kita pada orang lain.

6.

Orang banyak tau bahwa kebahagiaan bukan kekayaan, tetapi banyak hal baik yang harus kita miliki supaya kita bahagia. Tidak kaya belum tentu tidak bahagia, dan kaya tidak mesti bahagia. Kaya adalah salah satu komponen kebahagiaan. Tetapi banyak orang salah, mereka mengejar satu komponen itu, melupakan yang lain, bahkan kebahagiaan itu sendiri. Ini terbukti dengan success yang toxic diatas.

Pertanyaan yang bisa diajukan, apakah kebahagiaan meningkat seiring dengan kenaikan kekayaan? Kita bisa melihat dalam Negara AS, david Myesr menceritakan dalam buku, The Amirican Paradox: Spiritual Hunger in an Age of Plenty, Paradox Amerika. Disini menunjukkan makin banyak uang, negara itu makin menderita. Ed Diener, psikolog di universitas of Illinois, meneliti 100 orang AS terkaya yang dicatat dalam Forbes, mereka hanya sedikit lebih bahagia dari rata-rata. Bahkan sebagian besar menemukan uang telah membuatnya menderita. Kita dengan mudah menemukan milyarder yang hidupnya kacau balau; Howard Hughes, Christina Onassis, J.Paul Getty. Warren Buffet, melaporkan penelitian terhadap orang-orang kaya dan hasilnya konsisten dengan Ed Diener. Tambahkan contoh-contoh disini; Elvis Priesley, Marilyn Monroe dll.

Robert E.Lane dan Myers dalam The loss of Happiness in market Democracies, menunjukkan penurunan kebahagiaan pada Negara-negara kaya dengan naiknya tingkat depresi.[11] Ada beberapa factor-faktor penting yang mempengaruhi kebahagiaan yaitu; kepuasan akan perkawinan, pekerjaan, uang dan tempat tinggal juga saling curiga, anomi dan pesimisme.

Mengapa pertambahan pendapatan tidak menambah kebahagiaan? Beberapa ilmuan menjelaskan; 1) ketika mereka memperoleh tambahan kekayaan, mereka juga menaikkan ekspektasi (harapan). Ketika penghasilan 2 juta, hanya ingin kredit sepeda motor. Gaji naik 5 juta, sudah ingin kredit mobil atau nyicil beli rumah dst. Juga ada teori yang namanya revolution of risisng demand, revolusi tuntutan yang semakin meningkat, sewaktu pembangunan suatu negara. Awalnya hanya ingin kenaikan pendapatan, lalu ingin tunjangan pendidikan, kesehatan, lalu menuntut kebebasan berpendapat dst. Saat pemerintah tidak mampu memenuhinya terjadi kekecewaan dan kerusuhan-kerusuhan social dst. 2) hedonic treadmil, ini dapat diterangkan dengan hukum laws of diminishing return. Kenaikan pendapatan akan memuaskan pada awalnya, setelah naik lagi, kepuasannya tak seperti awal, naik juga seperti itu. Sebab dia butuh yang lain, selain pendapatan itu. Akhirnya kenaikan pendapatan tidak sama sekali diinginkan, karena tidak membawa kepuasan buatnya. Ia lebih mencari kepuasan kerja, ketenangan dll. 3) pandangan hidup yang materialis. Ini terjadi bila orang hanya meletakkan pemilikan kekayaan sebagai tujuan hidup, maka akan membuatnya selalu tak puas.

7.

Manusia yang paling bahagia adalah orang yang meninggalkan kelezatan yang sementara untuk kelezatan yang abadi (Ali bin abi Thalib as)

Banyak orang kaya yang senang bahwa dia memiliki, walau ia tidak menikmatinya sama sekali. Punya membuatnya ia senang seperti anak kecil (yang senang dengan banyak mainan). Ini bisa kita lihat, banyak orang-orang yang punya rumah mewah, villa, padahal itu tak ia tempati, hanya pembantunya yang ada disana. Ia sendiri mungkin satu tahun sekali atau dua kali menikmatinya. Punya mobil mewah selusin dll. Mengapa tidak sewa saja bila mereka perlu. Kata Eric Fromm, orang seperti itu kesenangannya masih having (memiliki) bukan being (mengada).

Orang bahagia pasti senang tetapi tidak semua yang senang pasti bahagia. Apa yang membedakannya. “kesenangan” kata Norman E. Rosenthal dalam The Emotional Revolution, adalah pengalaman sekilas, yang berkaitan dengan ganjaran tertentu. Kebahagiaan adalah keadaan yang berlangsung lebih lama, yang berhubungan dengan penilaian pada kehidupan secara keseluruhan. Orang bahagia mengalami kesenangan dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam pada itu, kesenangan tidak membawa kepada kebahagiaan bila tidak sejalan dengan atau bertentangan dengan, tujuan seseorang”. (J. Rahmat hal 184).

Kesenangan adalah emosi positif yang bisa diamati secara fisik pada kegiatan otak, arus neurotransmitter, atau mekanisme hormonal. Dengan merangsang dengan elektroda pada hipotalamus (bagian otak) kita, dimana dibagian tertentunya ada “pusat kesenangan” (pleasure center). Rangsangan ini akan merangsang keluarnya Dopamin[12] dengan deras. Dan ini akan menimbulkan rasa senang atau enak. Kesenangan dapat ditimbulkan dengan rangsangan elektrik pada Hipotalamus, tetapi kebahagiaan tidak. Walaupun begitu, manusia memerlukan berbagai kesenangan untuk meraih kebahagiaan. Karena manusia diberi akal, ia harus memilih kesenangan mana yang akan membawa kebahagiaan, dan kesenanngan mana yang justru akan membuatnya tidak bahagia.

Bricman dan Campbell menyebut kesenangan yang tak pernah terpuaskan sebagai hedonic treadmill. Jika kita naikkan kesenagan itu kita merasa senang, tetapi setelah itu, kita menyesuaian diri atau “bosan”, dan kembali tidak senang lagi atau butuh peningkatan pasokan/naiknya kesenangan tadi. Ukuran kesenangan makin lama makin tinggi, karena awalnya senang, penyesuaian/bosan, lalu butuh yang lain yang lebih tinggi, dan sterusnya..[13] akhirnya timbul kejenuhan.

Kejenuhan (Acedia) dari bahasa Yunani, yang artinya acuh tak acuh atau hilang perhatian. Ini ditandai dengan kelesuan, kemalasan, kelemahan, tidak menghiraukan pekerjaan dsb. Nico Frijda peneliti emosi dari Belanda berkata, “terus menerus kesenangan akan habis juga… kesenangan selalu tergantung pada perubahan dan lenyap setelah terus menerus dipuaskan.” Situasi lenyapnya kenikmatan menimbulkan Acedia. Yang paling berat, setelah pemuasan kesenangan timbul kesedihan.

Kita bisa menyenangkan diri kita dengan konsumsi zat aditif keras, seperti cocaine. Cocaine membanjiri sel-sel otak dengan neurotransmitter yang membuat fly (atau menyenangkan). Tetapi otak akhirnya mengurangi pasokan neurotransmitter-nya sendiri. Ketika pengaruh obat itu hilang, kita akan mengalami depresi. Sehingga untuk menyenangkannya lagi (dengan tingkat pasokan neurotransmitter yang sama), kita butuh pasokan Cocaine yang lebih banyak lagi. Fenomena ini disebut drug tolerance. Makin banyak dosis yang kita konsumsi makin berat kepedihan kita setelahnya. Richard Solomon, peneliti psikologi dari Universitas of Pensylvania, menyebut gejala ini sebagai opponent process: emosi yang akan memicu emosi yang berlawanan. Maka gunakanlah akalmu untuk memilih kesenangan kesengan yang lebih abadi dan tidak banyak terpengaruh oleh perubahan.

Maka..berbahagialah orang yang mengikuti ajaran-nya; Manusia yang paling bahagia adalah orang yang meninggalkan kelezatan yang sementara untuk kelezatan yang abadi (Ali bin abi Thalib as).



[1] Ini perlu diperbincangkan karena kurang tepat menurut kami (Muhammad Alwi, selanjutnya disingkat SMAHJ).

[2] Mungkin ini mirip dengan sebutan tuhan dalam al-Qur’an, dimana umat islam disebut sebagai umat tengah (ummatan wasathan).

[3] “I am responsible for myself and for everyone else. I am creating a certain image of man of my own choosing. In choosing myself, I choose man.” Saya bertanggungjawab bagi diri sendiri maupun bagi setiap orang lainnya. Saya menciptakan gambaran tertentu tentang manusia atas dasar pilihan saya sendiri. Dalam memilih bagi diri sendiri, saya memilih bagi manusia.

[4] Kata-katanya mirip konsep ‘wara’ dalam Islam. Kita boleh memiliki apapun (kaya seberapapun), tetapi kita tidak gusar sama sekali, apabila sesuatu itu hilang dari kita.

[5] Sebab harus dibedakan antara Need and Want. Need keinginan asli kita (belum dipengaruhi oleh lingkungan, social budaya), sementara Want (Need yang dipengaruhi oleh sosio-kultural, politik bahkan rekayasa….artinya sebenarnya itu bukan Want dari kita).

[6] Ini perlu didiskusikan lagi. Sebab Nabi Muhammad saw tidak kaya. Sehingga dia tidak mengumpulkan semua kebaikan padanya (mungkin bisa dijelaskan bahwa kaya pada saat itu bukan sebuah kebaikan atau kesempurnaan, lebih sempurna kalau kurang atau mirip dengan umumnya). Tetapi pada sisi lain ada hadist yang mengatakan; “Kita disuruh menyempurnakan diri dan akhlak kita supaya menyerupaiNYA”. Arti disini adalah memilki apapun yang baik. Kuat, kaya, ilmu, sabar dll.

Kaya berarti ada barang yang cukup banyak, tetap pada dirinya (rumah mewah, pembantu/budak banyak, mobil mewah, harta banyak dll). Walau dia, orang itu sangat dermawan. Kita katakan Nabi Sulaiman as kaya, nabi Daud as kaya, walau sangat dermawan. Tetapi beda dengan Nabi Muhammad saw, beliau sangat dermawan, tidak kalah dengan mereka, tetapi tidak ada barang yang cukup banyak tertinggal cukup lama padanya, sehingga beliau cukup layak disebut kaya secara umum.

[7] Bertindak atau berkorban untuk kepentingan orang lain. Lawan dari egois.

[8] Mungkin ini sama dengan syukur dalam Islam atau lebih tinggi lagi Ridha (dalam terminology tasawuf).

[9] Secara rumusan; kepuasan adalah perbandingan antara keinginan dengan hasil, bila sama atau mendekati maka kita cenderung puas, bila melebihi maka sangat puas, bila kurang kita akan kurang puas atau tak puas. Sebagai contoh bila kita menginginkan, berprediksi untuk keuntungan 1 juta, ternyata kita untung 1,5 juta, kita sangat puas. Tetapi bila kita menginginkan atau memprediksi keuntungan 5 juta, ternyata hanya 2,5 juta, maka kita kurang atau tidak puas. Kita bisa lihat bukan masalah angka nominal yang kita dapat untuk masalah kepuasan, tetapi lebih berhubungan dengan “hope”, harapan yang kita hayalkan, inginkan atau prediksi. Inilah mungkin dalam Islam masalah ‘sabar”, “tinggi keinginan”, dan “sering lihat kebawah dalam masalah material atau jasmaniah”. (SMAHJ)

[10] Bandingkan dengan Quantum Ikhlas-nya Erbe Sentanu.

[11] ini sangat mudah dicontohkan; orang akan puas dengan gaji/pendapatan 2 juta, bila ia tinggal didesa yang rata-rata orangnya masih banyak yang memakai sepeda, sebagian menggunakan motor dan jarang yang punya mobil. Dengan gaji ditingkatkan 2 kali, tetapi dia tinggal di kota Jakarta, maka akan kelihatan sangat miskin. Punya rumah dengan harga 200 atau 400 juta, sudah tampak mewah dan mungkin puas di kota atau pinggiran kota Malang, tetapi rumah itu akan tampak sederhana dan rendah bila sebelah sebelahnya rumahnya harganya 1 atau 2 milyar, seperti di jalan Ijen Malang (kawasan elit kota malang), Podomoro-group dst… dst.

[12] Zat kimia yang dikeluarkan neuron untuk menimbulkan rasa senang atau enak.

[13] Contoh yang menarik bisa kita lihat di permainan “game”. Waktu pertama kita sangat senang level satu, setelah bisa dan faham, sudah tidak menyenangkan lagi dan butuh level lebih menarik dan menantang (level dua), asyik, tetapi setelah faham dan bisa. Sudah tidak menarik lagi dst. Akhirnya “game” itu tak menarik lagi buat kita dan kita ingin pindah bentuk “game” yang lain yang belum pernah kita coba atau kuasai. Kembali dari awal lagi dst.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar